Dialog Ketubuhan Melalui Tradisi Lokal Cirebon

Oleh: Jihan Fairuz*

 

Penyerangan terhadap komunitas waria Cirebon terjadi di bulan Agustus 2015, -hari-hari yang mestinya seluruh masyarakat, khususnya umat Islam, tengah khusyuk menyelami ritus Idulfitri- sungguh ternodai. Sekelompok ormas yang mengatasnamakan Gerakan Pemuda Anti Maksiat (Gapas) itu, membubarkan kegiatan yang bertema halal bi halal kelompok waria, karena dianggap menyimpang dari ajaran agama. Aparat penegak hukum tak kuasa menghalau aksi persekusi, yang terang-benderang, melanggar hak kebebasan berekspresi warga negara.

Jika tindak persekusi terhadap komunitas yang dianggap berbeda itu telah terjadi di Cirebon, bagaimana sejarah Cirebon sendiri –yang konon dianggap sebagai derivasi dari kata Caruban¸ yang artinya campuran- bersinggungan dengan orientasi seksual dan ketubuhan seseorang?

***

SEKITAR pertengahan bulan November tahun lalu, saya masih menyimpan memori sampai hari ini, sebuah rasa kagum juga ‘penasaran’ selepas menyaksikan sebuah pertunjukan teatrikal tari di salah satu kampus di Cirebon, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), yang tengah menyelenggarakan sebuah acara kebudayaan, bertajuk “Padang Wulanan”, yang di dalamnya menyajikan pelbagai pertunjukan kebudayaan, apresiasi seni dan sastra, juga dialog santai yang merefleksikan perkembangan isu-isu sosial terkini.

Berdecak kagum karena tari yang ditampilkan mengundang siapapun yang melihatnya pasti tertawa terpingkal-pingkal, sembari sedikit bertanya dalam hati, mengapa para penari menampilkan sebuah perpaduan unik: ekspresi perempuan dalam tubuh laki-laki. Para penonton di malam itu, termasuk saya, melihat kejenakaan para penari yang mengimprovisasi gerak cepat-melambai dari tarian  di atas panggung, sedikit menunggingkan pantat ke depan, dengan ekspresi muka mbodor atau plonger (melucu dengan gestur wajah yang terkesan konyol). Tari yang saya lihat pada pertunjukan itu kental dengan nuansa humor. Humor semacam itu sesungguhnya sudah mengurat-akar dalam tradisi kebudayaan di Cirebon, ada tradisi masres, sandiwara, misalnya.

Ada sekurang-lebihnya delapan penari, meski biasanya empat orang, yang melakukan tarian tersebut di hadapan para hadirin. Musik tradisional khas pantura dengan rytme nada dan iringan yang naik-turun, juga cepat, menambah suasana semakin ramai, disambut tepuk tangan yang meriah. Wajah mereka dirias begitu tebal, selaiknya rias penari di manapun, dengan perut buncit, seperti lakon petruk dalam cerita pewayangan, tetapi yang menarik, mengapa tarian tersebut menampilkan citra perempuan dalam tubuh laki-laki.

Ronggeng Bugis

Tari Ronggeng Bugis, begitulah masyarakat menyebutnya. Historisitas tari ini sudah berkembang sejak awal kali kerajaan Cirebon (Carabun Nagari) terbentuk, sekitar tahun 1482, di bawah kepemimpinan Susuhunan Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hudayatullah. Sebutan lain dari tari yang menggugah rasa jenaka tersebut adalah Tari Telik Sandi, istilah populer pada era sekarang intelijen, mata-mata, atau spionase.

Ronggeng sendiri berarti tarian, sedangkan Bugis merupakan suku asli di Sulawesi Selatan. Dalam istilah yang berkembang di tempat lain di Nusantara, di antaranya dikenal dengan nama taledek, tandak, ringgit, lengger, gambyong, gandrung, atau doger. Secara umum, ronggeng sendiri bisa dibawakan satu orang penari, dua, empat, atau delapan sebagaimana tari pada umumnya, yang membutuhkan eksplorasi gerakan di dalamnya.

Pertanyaannya mengapa satu jenis tarian yang lahir dan berkembang di wilayah pantura Cirebon tersebut disematkan dengan nama salah satu suku di Sulawesi Selatan tersebut; karena pencipta pertama kalinya seorang yang berasal dari tanah bugis, atau hubungan komunikasi dan kerjasama antar dua kerajaan (Cirebon dan Bugis), tidak ada catatan resmi untuk menjawabnya. Yang jelas, tujuan awal tarian ini digunakannya untuk mematai-matai, karena dianggap medium seni bisa masuk ke wilayah musuh, dalam hal ini kerajaan Pajajaran yang dalam sejarahnya pernah bersitegang dengan kerajaan Cirebon. Cerita semacam ini sering saya simak dari penuturan para orang tua di kampung halaman, atau dari budayawan Cirebon, seperti Raffan W. Hasyim, dr. Bambang, ataupun Pak Handoyo. Nama terakhir adalah orang yang pertama kali mengangkat ke publik tarian ronggeng bugis di tahun 1990-an.

Lalu bagaimana dengan simbol feminin dalam tubuh laki-laki? Mengacu pada latar kebangunan Ronggeng Bugis, dalam amatan Abdul Rosyidi, Jurnalis Harian Fajar Cirebon, menandaskan bahwa masyarakat Cirebon sejak dulu sejatinya menerima keterbukaan dalam memandang keragaman agama, suku, budaya dan ras, termasuk di sini adalah keragaman identitas seksual. Dalam konteks ini, ronggeng bugis sebagai representasi keragaman seksual male to female yang berangkat dari latar kesenian Cirebon, yang telah ada sejak era Sunan Gunung Jati itu.

Ia lalu menarik benang merah dari Tari Ronggeng Bugis dengan historisitas Nyi Mas Gandasari. Menurut cerita lisan atau foklor yang berkembang di Cirebon, sosok Nyi Mas Gandasari memiliki wajah cantik yang rupawan, sehingga banyak diperebutkan oleh para jawara di masa itu. Singkat cerita, sebuah sayembara digelar sebagai syarat mempersunting Nyi Mas Gandasari adalah yang mampu mengalahkannya. Karena selain cantik, juga memiliki ilmu kanuragan yang tinggi sehingga tak ada yang bisa mengalahkannya, kecuali seorang bernama Syekh Magelung.

Syekh Magelung berhasil menaklukkan Nyi Mas Gandasari, akan tetapi ia tak kunjung menepati janjinya. Kemudian mereka berdua sempat bersiteru. Sunan Gunung Jati, guru kedua sosok itu menengahi, dengan cara akan menikahi Nyi Mas Gandasari dan Syekh Magelung bukan di dunia, melainkan di akhirat. Yang menarik, menyitir Abdul Rosyidi (2017) yang berangkat dari cerita lisan masyarakat Cirebon, bahwa sungguhpun Nyi Mas Gandasari seorang yang cantik, ia berkelamin penis.

Dimensi Spiritualitas

Baik Ronggeng Bugis ataupun kisah heroik dari Nyi Mas Gandasari, sesungguhnya tradisi itu bisa kita tarik pada realitas keragaman seksulitas dalam alam pikiran masyarakat Cirebon sudah hidup sejak lama. Fakta bahwa transvestite menubuh pada tradisi-tradisi yang ada di sana, menjadi satu perspektif untuk membuka dialog ketubuhan yang berlatar dari tradisi lokal itu sangatlah menarik.

Tradisi lokal atau kearifan lokal serupa juga bisa kita jumpai pada fakta sejarah Komunitas Bissu yang berkembang di daerah Sulawesi. Bissu memiliki keistimewaan khusus, baik seorang Calabai ataupun Calalai, yang dipercaya dapat berkomunikasi secara langsung dengan para dewata. Ia dipilih oleh ‘semesta’ sebagai manusia yang suci, bersih, dan menjadi penasehat raja-raja di kerajaan Bugis. Pada diri Bissu terdapat sebuah sisi spritualitas, yang bahkan menurut saya, tak bisa diukur dengan kacamata agama atau hukum negara.

Ronggeng sendiri punya posisi keistimewaan tersendiri, yang sangat melekat dengan relasi manusia dan Dzat Yang Illahi. Perjalanan empat tahapan spiritualitas seorang manusia yang diibaratkan seperti anak tangga yang terus naik, menyitir Sharon Joy Siddique (1977), pertama, wayang melambangkan sisi spritualitas seseorang berada di tahap syariat. Kedua, Barong, punya sisi sebagai tingkat spritualitas pada fase Tarekat, ketiga, Topeng berada pada tahap Hakekat, dan keempat, Makrifat yang terdapat pada jenis seni seperti Ronggeng.

Melakoni profesi sebagai penari bukanlah pekerjaaan biasa, atau dengan ringan kita menyebutnya jenis profesi atau pekerjaan nomor dua. menjadi penari membutuhkan kecakapan dalam menggerakkan seluruh jemari dan anggota tubuh, serta insting yang tajam dalam mengeksplorasi gerakan saat di hadapan penonton. Penari bisa menghibur para penonton, sekaligus bernilai sebagai tuntunan.

Di sisi lain, penari ronggeng yang diangkat dalam buku sastra karangan Ahmad Tohari mendudukan profesi ronggeng dalam posisi yang begitu subtil, karena mengandung unsur spritualitas yang menyertainya. Ronggeng Dukuh Paruk (1981), kisah yang menyuguhkan Srintil sebagai lakon utamanya, menarasikan bahwa menjadi ronggeng merupakan panggilan hidup selamanya.

Si Srintil tahu betul, untuk menjadi penari ronggeng ia akan menghadapi tantangan dan godaan yang begitu berat yang selalu mengintai, selain karena paras cantiknya, setali tiga uang, juga menikahi seorang ronggeng bagi seorang laki-laki adalah posisi sosial yang istimewa. Untuk itulah, penari ronggeng dilarang keras menikah seumur hidup, karena hal itu akan menyebabkan stasusnya sebagai seorang ronggeng akan hilang. tetapi siapakah yang dapat menghilangkan rasa cinta dari seseorang?

Kisah yang berlatar tragedi 1965, sekaligus menceritakan soal pembinasaan bagi orang-orang yang dianggap memiliki afiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), termasuk Srintil yang menjadi korban kebiadaban dan kebengisan tentara pada era itu. Spritualitas yang dibangun dalam imajinasi Ronggeng Dukuh Paruk sejatinya terdapat juga pada kisah-kisah lain yang tumbuh di bumi Nusantara.

Tari Topeng yang menjadi ikonik Kota Cirebon, menurut cerita lisan masyarakat Cirebon, mengandung unsur spritual yang mendalam, meski hari-hari ini, aspek spritual ini terpinggirkan karena sering dilupakan orang. setiap kali penampilan, penari Topeng terlebih dahulu lelakon (menjalani rituali tertentu), yang ditujukan untuk keselamatan dan kebahagiaan bagi para penontonnya. saat pentas dilakukakan, masyarakat yang melihat berbondong-bondong memilih berdekatan dengan si penari, hal ini ditujukan karena setiap penari topeng dalam pentasnya melafalkan puja-pujian dan doa.

Secara substansial, tujuan utama menjadi penari tidak terletak pada sisi material semata, seperti ketenaran, uang, kemegahan panggung. Kisah Srintil dalam lakon Dukuh Paruk yang, secara spesifik, menempatkan profesi penari begitu istimewa, penari topeng dengan ritual pembacaan kalimat tauhid dalam setiap tariannya, juga pada tak kalah penting adalah dimensi kesederhanaan yang disuguhkan oleh tari Ronggeng Bugis.

Seni: Dakwah Seksualitas

Seni merupakan medium yang bersifat universal. Tak ayal, wali sanga saat berdakwah menyebarkan Islam pertama kali di Nusantara acapkali menggunakan media seni yang inheren dengan karakteristik masyarakat. Sebutlah semisal Sunan Kalijaga, dengan medium wayangnya, mampu menarik minat orang untuk belajar tentang agama Islam atau tembang, syair-syair klasik Jawa seperti lir-ilir yang disampaikan ketika memberi wejangan seputar makna kehidupan. Dengannya, medium seni yang dibawa Sunan tersebut, memberi wajah keteduhan pada Islam bagi khalyak luas. Atau kita yang hidup di era milineal ini, bisa melihat kembali pola seperti pada ceramah Emha Ainun Nadjib dengan Kyia Kanjengnya. Mak Arimbi menceritakan bagaimana pengalamannya terlibat dalam dunia seni. Seorang pekerja seni, juga aktivitas di Yifos Indonesia, dirinya sering menemukan titik temu (kalimatun sawa), antara seni dan isu yang ia geluti. Baginya, medium seni jadi penghubung untuk mengenal sejarah seksualitas yang ada di Indonesia. tradisi Gandrung di Banyuwangi, misalnya, lekat dengan keragaman seksualitas manusia.

Eksistensi ronggeng bugis ataupun Nyimas Gandasari yang berbasis kearifan lokal Cirebon, menjadi ‘pintu masuk’ wacana seksualitas yang lebih ekstensif. Kearifan lokal tidak saja menjadi jejak masa lalu yang sekadar bahan nostalgia, lebih dari itu, ia menjadi ingatan kolektif sebuah komunitas masyarakat dalam menyikapi pelbagai dinamika kehidupan hari ini, dan seterusnya. Di tengah situasi dewasa ini, orang semakin mudah menjustifikasi keragaman seksualitas sebagai ancaman, maka menghadirkan sebuah diskusi yang berangkat dari pengetahuan mengenai sejarah bangsa kita sendiri adalah oase di tengah padang gurun. Iklim kebencian pada yang dianggap ‘liyan’ mudah ditebarkan di ruang-ruang publik, media sosial, stigma yang mudah disematkan pada kehidupan seorang transgender atau transvestite, yang dianggap abnormal dan penyakit masyarakat itu, mestinya sudah ditinggalkan. Karena sejarah bangsa ini adalah sejarah yang berbicara mengenai ragam perbedaan, yang bagi kita, perbedaan itu dimaknai sebagai jalan mendefinisikan makna ketubuhan.

*Koordinator Nasional YIFoS Indonesia periode 2017-2021.

======================================================================

Bahan Bacaan:

  1. The Ronggeng, the Wayang, the Wali, and Islam: Female or Transvestite Male Dancers-Singers-Performers and Evolving Islam in West Java, Kathy Foley, Asian Theatre Journal, 32, no. 2, 2015. University of Hawai‘i Press,
  2. Bissu: Menggugat Maskulinitas dan Feminitas, Bisri Effendy, 2003, Majalah Srinthil
  3. Ronggeng Bugis: Foklor Transvetite di Cirebon & Bertemu Nyi mas Gandasari, Abdul Rosyidi, 2016.

Young Queer Faith and Sexuality Camp: “Negosiasi Identitas melalui Pengalaman Ketubuhan”

Logo Young Queer Faith and Sexuality Camp YIFoS IndonesiaOleh : VK Larasati (Koordinator Nasional YIFoS Indonesia)

Sejak terbentuk pada tahun 2010, Youth Interfaith Forum on Sexuality (YIFoS) sebagai organisasi yang mendorong pelibatan aktif anak muda untuk menciptakan dan membangun lingkungan yang aman dan damai ditengah keberagaman identitas iman dan seksual; mencoba menawarkan pendidikan alternatif dalam intercultural dialogue.

Salah satunya adalah Young Queer Faith and Sexuality Camp (Queer Camp) yang dilaksanakan pertama kali tahun 2012 dan terus dilakukan setiap tahunnya. Queer Camp merupakan platform pendidikan alternatif bagi anak muda usia 18 sampai 28 tahun dari beragam identitas iman dan seksual (termasuk Lesbian, Gay, Biseksual, Trans, Interseks, Queer dan yang lainnya) untuk membangun gerakan anak muda antar identitas. Interaksi antara anak muda dari berbagai latar belakang dan identitas telah menjadi metode untuk menciptakan pemahaman dan pengetahuan; berbagi pengalaman; menanggalkan stereotype dan meniadakan stigma; mendorong munculnya gerakan anak muda dari beragam identitas; serta pelibatan aktif dalam menyuarakan keberagaman iman dan seksualitas sebagai bagian dari pemenuhan hak asasi manusia. Sampai dengan tahun 2014, lebih dari 120 anak muda berpartisipasi sebagai peserta, panitia, relawan, fasilitator, expertise, narasumber dan trainer dalam 8 hari pelaksanaan Queer Camp.

Queer Camp dilaksanakan dengan menggunakan metodologi hermeneutical dari Elisabeth Schussler Fiorenza yakni Teori Dance of Liberation and Transformation. Keseluruhan materi yakni Pengembangan Wawasan dan Kesadaran Kritis, Aksi Anak Muda terhadap Keragaman Iman dan Seksualitas, Pengembangan Kemampuan dan Community Live-In diberikan dalam bentuk ceramah, diskusi, panel, simulasi, outing, malam budaya serta live-in di komunitas-komunitas berbasis iman dan seksualitas yang berbeda. Seluruh rangkaian acara ini didasarkan pada 6 tahapan Dance of Liberation and Transformation yakni Reflection on experience and systematic analysis of oppression; Suspicion and critical analysis; Critical evaluation and proclamation; Historical symbolic conceptual reconstruction; Creative imagination; dan Liberation and transformation.

Dalam tiga kali pelaksanaan Queer Camp yang mengusung tema Membangun Perdamaian Melalui Keberagaman (2012); Dialogkan Tubuhmu, Ciptakan Sejarahmu (2013); dan Lingkar Cinta Ragam Ekspresi (2014), terdapat beragam temuan-temuan menarik terkait ketertarikan anak muda untuk menemukenali diri mereka dalam eksplorasi pengalaman ketubuhan; keingintahuan anak muda untuk mendiskusikan iman dan seksualitas secara berdampingan tanpa kekerasan dan diskriminasi yang dialami karena iman dan seksualitas mereka tidak seperti kebanyakan; negosiasi dengan keberagaman identitas yang ada disekeliling mereka.

Dari pelaksanaan Queer Camp yang didasarkan pada Teori Dance of Liberation and Transformation, YIFoS Indonesia menemukan bahwa eksplorasi pengalaman ketubuhan dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran tentang otoritas terhadap diri termasuk mendefinisikan tubuh dan identitas diri yang beragam. Dan hasilnya adalah pemahaman yang tepat terkait keragaman identitas termasuk didalamnya identitas iman dan seksual sebagai bagian dari ekspresi kemanusiaan. Sehingga, setiap orang akan merayakan keragaman identitas iman dan seksual di keluarganya, komunitasnya, di ruang kerjanya, di masyarakat dan negara.

*Baca selengkapnya disini

MASIH MENGANGGAP HOMOSEKSUAL SEBAGAI BUDAYA BARAT? KAMU HARUS TAHU 3 FAKTA INI !

Homoseksualitas di Indonesia umumnya masih dianggap tabu untuk dibicarakan baik oleh masyarakat sipil atau pun pemerintah Indonesia. Diskusi publik tentang homoseksualitas pun masih sering dihambat oleh kenyataan bahwa seksualitas dalam bentuk apapun jarang dibicarakan secara terbuka.

Berbicara terkait homoseksual, ternyata masih banyak sekali masyarakat yang menganggap bahwa homoseksualitas adalah fenomena yang diadopsi dari budaya barat. Namun, tahukah kamu kalau ternyata homoseksual di Indonesia itu telah menjadi tradisi di Indonesia sejak dulu.  Berikut adalah fakta-fakta yang menyatakan bahwa tradisi homoseksual memang telah ada di Indonesia sejak dahulu kala.

  1. Warok – Gemblak

Salah satu tradisi hubungan homoseksual yang dapat ditemui di Jawa Timur adalah Warok-Gemblak.  Mungkin masih sedikit sekali yang mengetahui apa itu warok. Ya, warok adalah lelaki yang berperan sebagai pahlawan lokal tradisional Jawa atau “orang kuat” yang biasanya melakukan kesenian tradisional seperti Reog Ponorogo. Dalam suatu tradisi, seorang warok memiliki suatu pantangan yaitu ia dilarang untuk berhubungan seksual dengan dengan perempuan. Meskipun seorang warok menikahi perempuan, namun ia hanya diperbolehkan untuk berhubungan seks dengan laki-laki muda berusia 8 – 15 tahun yang disebut dengan Gemblak.  Seorang gemblak biasanya disimpan oleh warok dalam rumah tangga mereka di bawah perjanjian dan kompensasi kepada keluarga anak tersebut. Jika dilihat, hubungan warok – gemblakan ini mirip dengan tradisi perjantanan di Yunani kuno. Meski yang dilakukan warok dan gemblak adalah tindakan homoseksual, namun sebagian dari mereka tidak pernah mengindentifikasi diri mereka sebagai seorang homoseksual.

Kini praktek Warok-gemblakan tidak disarankan oleh pemuka agama setempat dan ditentang melalui perlawanan moral publik. Karena hal itulah, kini pagelaran Reog Ponorogo jarang sekali menampilkan gemblak, anak laki-laki tampan, sebagai penunggang kuda Jatil, peran mereka digantikan oleh anak perempuan. Meskipun mungkin saat ini praktek warok-gemblakan ini masih ada dan dilakukan secara diam-diam.

  1. Mairil

Apa yang terlintas dipikiran ketika mendengar kata “pesantren” ? Tentu yang muncul dalam pikiran adalah tempat menimba ilmu aqidah dan fikih dimana para siswa atau yang disebut dengan santri sangatlah taat dengan keyakinannya. Namun, siapa yang tahu kalau dibalik itu semua terdapat suatu tradisi yang dianggap menyimpang.

Jika di Ponorogo ada warok dan gemblak, maka di pesantren ada yang disebut dengan mairil. Definisi mairil pun sebenarnya tak jauh beda dengan warok dan gemblak. Mairil merupakan suatu perilaku seksual ‘bawah tanah’ para santri pesantren yang berjenis kelamin sama. Fenomena mairil biasanya dilakukan oleh santri senior, guru muda yang belum menikah, atau pengurus pesantren dengan santri muda yang baru masuk. Biasanya para santri muda ini masih bertampang imut dan baby face, karena umur mereka memang masih sekitar 12-13 tahun. Nah, mereka ini nantinya kemana-mana akan selalu bersama, bergandengan tangan, mencucikan baju, bahkan sampai memasakkan makanan satu sama lain. Biasanya santri senior akan berperan sebagai ‘suami’ yang menjaga, membimbing, dan kadang memberikan uang saku pada santri junior, yang lebih berperan sebagai sosok ‘istri’ penurut.

Tak jauh beda dengan hubungan warok dan gemblak, Hubungan mairil ini pun memiliki aktivitas seksual yang biasanya disebut dengan ‘nyempet’. Aktivitas ini dilakukan antara lain dengan saling menyentuh, mejepit, atau menggesekkan organ intim para santri hingga tercapainya orgasme.

Ada tiga jenis relasi seksual mairil ini. Yang pertama adalah relasi seksual mairil dengan ikatan, kedua adalah relasi seksual tanpa ikatan, dan ketiga relasi seksual hanya untuk kesenangan (mungkin seperti ‘friend with benefits’ kali yah?).

Perilaku Mairil dikalangan pondok pesantren memang ada di setiap pesantren, hal ini selalu ditutupi oleh orang yang bersangkutan karena mereka menjaga privasi dan merasa ketakutan bila sampai ketahuan oleh ketua pesantren.

Rasa takut itu selalu mereka pendam karena dalam lingkungan pondok pesantren sendiri masih homophobic, apalagi kalau sampai ketahuan, jelas-jelas akan dipermalukan oleh santri-santri lain, bahkan dikeluarkan oleh ketua pesantrennya.

  1. Tradisi Inseminasi Anak Laki-Laki Papua

Dalam tradisi masyarakat papuan, ritual ‘homoseksualitas’ adalah sebagai ritual peralihan kedewasaan dari anak laki-laki menjadi pria dewasa. Menurut kepercayaan mereka, anak laki-laki dianggap telah tercemar dengan unsur perempuan, melalui cairan perempuan seperti menyusui, dan kontak dengan ibunya dan anggota keluarga perempuan lainnya. Untuk menghindari kontaminasi unsur perempuan lebih lanjut, setelah usia tertentu, anak laki-laki diambil dari ibu mereka dan tinggal terpisah di rumah komunal dengan anak-anak laki-laki lain dan laki-laki muda yang belum menikah. Rumah ini disebut dengan rumah bujangan. Anak laki-laki yang dipisahkan dari keluarganya ini hidup bersama dengan laki-laki muda lainnya dalam rumah bujangan. Hal ini bertujuan untuk membina solidaritas dan ikatan antar kaum laki-laki dalam suku, juga untuk mempersiapkan anak-anak muda agar menjadi seorang prajurit yang berani dan hebat.

Untuk dapat tumbuh berkembang sebagai seorang pria yang jantan, sehingga kelak dapat menjadi seorang prajurit yang berani, seorang anak laki-laki harus menyerap cairan laki-laki, yaitu semen, yang dianggap sebagai inti sari laki-laki. Cara menerima cairan laki-laki ini dapat dilakukan dengan menelan sperma melalui fellatio (oral seks) atau sebagai pihak yang dipenetrasi dalam hubungan seks anal homoseksual. Laki-laki yang berperan sebagai inseminator yang menyumbangkan spermanya adalah anggota suku yang lebih tua, biasanya paman mereka, atau jika sang anak telah dijodohkan dengan seorang anak perempuan, maka calon mertua laki-laki atau calon kakak ipar anak itu dianggap sebagai inseminator yang tepat. Ritual dan aktivitas ini berlanjut sejak masa akhir kanak-kanak dan selama masa remaja dalam rumah bujang. Ritual ini berhenti ketika anak laki-laki itu dianggap telah menyerap cukup unsur laki-laki, yaitu anak itu mencapai usia dewasa, ketika kumis atau jenggotnya mulai tumbuh dan akan segera menikah.

 

Penulis : Dew Socialista