Perempuan Berparas Tampan : Cemburu 2 (bagian 8)

Oleh : Joshua Intan

Pagi ini betapa terkejutnya aku ketika melihat setangkai mawar lengkap dengan sepucuk surat di depan pintu pastori yang hampir saja terinjak olehku. Lalu aku melayangkan pandang mencaritahu siapa yang menaruhnya disini, namun tak kudapati seorangpun di sekitar pastori. Aku memungut bunga berwarna merah yang kelopaknya merekah indah itu kemudian membaca isi suratnya,

Selamat pagi sayang, selamat memulai hari ini dengan sesuatu yang cantik dan manis seperti senyummu. Aku mencintaimu.

Rainbow

Aku tersipu malu membaca pesan singkat darinya, lalu aku kembali ke dalam untuk menghubungi sang pengirim bunga tersebut. Aku mencoba menelponnya dan kemudian setelah menunggu beberapa saat,

“Pagi sayang….” Suaranya begitu menghangatkanku.

“Pagi, trimakasih bunganya ya sayang. Kamu kapan kesini?”

“Tadi pagi aku datang doa pagi disana, aku sengaja datang supaya bisa ketemu kamu, ternyata kamu nggak ada.”

“Kok kamu taruh bunga di depan pintu yang? Gimana nanti kalau di ambil orang lain?”

“Iya aku tadi mikir gitu sih, tapi mau gimana lagi kan biar surprise. Kamu suka nggak yang?”

“Mmmm suka sih…suka banget…Tumben bisa manis kaya gitu…”

“Yaaah namanya juga usaha. Oh iya yang, aku ini jalan mau ke Surabaya, nanti ku telpon lagi ya kalau sudah sampai Surabaya.”

“Lho, kamu bawa mobil sendiri?”

“Iya… biar nanti disana nggak kesulitan kalau mau ke mana-mana.”

“Oh… hati-hati di jalan ya sayang. Jangan lupa kasih kabar ya…”

“Iya sayang… I love you…”

“I love you too.”

Tiba-tiba hatiku merasa sedikit tak senang, aku kembali memikirkan kak Rania yang akanada di Surabaya selama 4 hari bersama Natalia. Jujur saja memang masih saja kurasakan ada kecemburuan setiap memikirkannya. Tapi aku juga berusaha menepis rasa itu dan melanjutkan kegiatanku di pagi ini. Setidaknya pagi ini diawali dengan sesuatu yang begitu romantis, memang kejutan dari sang kekasih memberikan semangat yang luar biasa.

 

Pukul 13.00 wib aku dan beberapa teman kurikulum gereja menyelesaikan rapat. Kemudian aku bergegas menuju Solo Square untuk menjumpai sahabatku Windy yang sudah menantiku disana. Hari ini kami akan membeli sebuah kado untuk Rasad yang berulang tahun.

Setibanya di Solo Square, aku langsung menuju ke outlet pakaian dimana Windy tengah sibuk memilih sebuah kemeja,

“Win… sorry ya, rapatnya baru kelar jam satu soalnya.”

“Hehehe nggak apa-apa, santai aja kali. Eh Nad, coba lihat ini, bagus nggak?” Windy menunjukkan kemeja berwarna biru gelap yang tengah di pegangnya.

“Hmmmm bagus sih, tapi coba lihat yang itu Win…” aku menunjuk kearah kemeja berwarna hijau toska yang tergantung di ujung ruangan.

“Iiihhh baguss… kok aku nggak liat ya tadi… coba ambil Nad.”

Dan akhirnya kami membeli kemeja tersebut karena selain model dan warnanya memang bagus ternyata kami mendapatkan diskon yang lumayan banyak karena kemeja tersebut hanya tinggal satu saja.

Setelah mendapatkan kado, kami lalu memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum pulang. Namun ketika kami berjalan menuju foodcourt tiba-tiba mataku tertawan oleh sepasang sepatu yang entah bagaimana langsung mengingatkanku akan kak Rania.

“Win,tunggu sebentar.” Aku lalu masuk ke toko sepatu tersebut.

Windy mengikut di belakangku, “Sepatu?? Buat siapa?? Kan ini udah kita beli buat Rasad.”

“Bukan… bukan buat Rasad.” Aku sibuk sendiri melihat setiap bagian dari sepatu yang terbuat dari kulit itu.

“Hmmm aku jadi curiga kalau gini…”

Aku melihat Windy sedang menaikkan alis mata nya sembari memandangku curiga,

“Apaan sih, bukan… ini cuman liat-liat aja…” meletakkan sepatu lalu menarik keluar Windy, “ayok makaaaan…. Lapeeeeerrrr”

Windy masih saja curiga tentang sepatu tersebut sampai dengan kami usai makan. Tapi aku terus menerus berkilah dan kemudian mengajaknya pulang dengan alasan masih ada yang harus ku kerjakan, kebetulan juga setengah jam lagi Windy ada kegiatan di kampusnya.

Karena Windy terburu-buru maka dia duluan pergi dari mall, meninggalku yang langsung mengambil kesempatan ini untuk kembali ke toko sepatu tadi. Setelah memilih ukuran sepatu yang sesuai, aku meminta pelayan toko untuk membungkusnya dengan rapi.

 

Malam ini aku pulang agak larut karena merayakan ulangtahun Rasad bersama Windy dan beberapa teman yang lain. Usai mandi aku langsung masuk ke dalam kamar untuk bersiap tidur, tak sengaja kulihat bunga mawar yang aku taruh di sebuah gelas yang kuisi air dan kuletakkan di meja rias. Tiba-tiba hatiku disengat rindu yang berat sekali. Seharian ini tidak ada kabar dari kak Rania, dia pun tak menepati janjinya untuk memberiku kabar setibanya di Surabaya.

Aku menghibur diriku sendiri, “pasti kak Rania sedang sibuk sekali hari ini.” Lalu kupejamkan mata dengan segera, aku tak ingin pikiran lain masuk dan menggelisahkanku malam ini.

 

Sampai hari ke 4 kak Rania di Surabaya namun tak satu kabarpun ku dapat darinya. Aku sangat merindukannya hingga membuatku merasa sangat kesepian. Rasanya seperti ada yang tidak lengkap denganku, ada bagian yang kosong selama kak Rania tak ada. Dengan rutinitas pekerjaan pelayanan yang kulakukan setiap hari pun tak bisa mengurangi rasa rinduku pada sosok kekasih hati, karena tiap waktu aku tak bisa mengeluarkannya dari pikiran.

Sesekali aku menghibur diri dengan membayangkannya pulang, kita makan malam berdua sambil ngobrol seperti biasa. Aku juga membayangkan menyerahkan sepatu yang baru kubeli untuknya sebagai bentuk apresiasiku atas kerja kerasnya selama ini. Namun semua khayalan itu hanya membuat rinduku semakin bertambah menyiksa.

Lalu kuberanikan diri untuk menghubunginya melalui telpon, namun sampai 3 kali ku coba tak ada yang diangkatnya. Ini yang membuatku tak bisa lagi berpikiran baik padanya, kecurigaan menguasai hampir seluruh hati dan pikiran. Marah, kecewa, cemburu, rindu dan kesedihan yang sekaligus kurasakan membuatku menangis tersedu di dalam kamar.

Kesedihanku bertambah besar ketika aku tak bisa berbagi cerita kepada siapapun saat ini. Aku tak bisa bercerita kepada Windy, atau kak Adi, atau sahabatku yang lain tentang apa yang kurasakan. Semuanya harus kurasakan dan kujalani sendiri, dan untuk kesekian kalinya aku begitu membenci diriku sendiri yang belum bisa memberitahu setidaknya seorang dari sahabatku tentang hubunganku dengan kak Rania.

Aku menangis hingga tertidur dan terbangun ketika panggilan telpon berdering. Aku lupa menaruh HP dimana dan ini membuatku kesulitan menemukannya. Aku hanya mengikuti arah suara dari ringtone HP, dan tepat ketika aku berhasil menemukannya yang tertindih bantal maka sambungan panggilan terputus.

Tapi kemudian telpon kembali bordering, di layar HP terlihat nama kak Rania.

“Halo…” aku terkejut karena suaraku sengau.

“Haloo sayang, kamu flu?? Maaf ya tadi nggak tahu ada telpon, aku lagi pimpin diskusi tadi.”

“Nggak… aku nggak apa-apa. Oh, ya udah.”

“Kamu lagi apa yang?”

“Lagi nunggu kabarmu.” Jawabku ketus.

“Maaf ya sayang, disini lagi sibuk banget soalnya.”

“Oh…”

“Kamu marah ya?”

“Nggak.”

“Duh yang, bentar ya… ini kami mau lanjut acara lagi.”

Aku melirik jam dinding yang menunjukkan sudah pukul 8 malam, “Masih ada acara lagi? Kamu jadi pulang hari ini kan?”

“Aduh, aku pulang besok akhirnya yang. Habis gimana lagi, ini aja paling selesai jam 10an.”

“Oh ya udah terserah.”

“Nanti ku telpon ya, janji ku telpon.”

Lalu aku memutuskan sambungan telpon tanpa menjawab sepatah katapun.

 

Benar saja, pukul 10 malam kak Rania kembali menghubungiku. Tapi suasana hatiku tak kunjung membaik,

“Sayang, jangan marah dong… besok pagi aku janji pulang.”

“Terserah kok kamu mau pulang kapan.”

“Tuh kaaan kamu gitu, besok kita pergi berdua ya. Aku rindu sama kamu yang, jangan marah terus dong…”

“Udah lah, nggak usah bilang kaya gitu. Aku udah capek. Kamu nggak bisa tepati janjimu ke aku. Kamu nggak kasih kabar sama sekali dan sekarang bilang telat pulang, terserah…”

“Ya sudah aku minta maaf karena nggak kasih kabar sama kamu, tapi kali ini bener-bener aku nggak bisa pulang yang, besok pagi-pagi deh aku jalan.”

“Iya, ya sudah… suasana hatiku sedang nggak baik,” aku berharap kak Rania menutup telpon.

“Kamu kenapa sih yang? Kamu curiga sama aku?”

“Sejujurnya iya,” jawabku lirih.

“Karena aku disini sama Natalia?”

“Kamu pikir saja sendiri.” Aku semakin ketus.

“Sayang, kami hanya teman. Kita juga sudah bicarakan hal ini sebelumnya kan?! Kenapa kamu masih nggak percaya??”

“Kamu yang bikin aku nggak percaya. Sikapmu itu seakan-akan kamu tak menghargaiku sebagai pacarmu.”

“Sikap yang mana???”

“Coba aku ingat, barangkali aku yang salah. Kamu selalu bisa membalas pesan dari Natalia sekalipun kamu sedang denganku, tapi itu nggak berlaku bagiku. Kamu bahkan nggak bisa sekedar memberiku sebuah pesan selama kamu dengannya yang jelas-jelas kamu tahu akan membuatku cemburu.”

“Yang, bukan begitu…”

Aku memotong pembicaraannya, “Sudahlah, aku sedang nggak ingin mendengarkan penjelasan apapun sekarang, maaf. Lebih baik kita sendiri dulu saja sekarang.”

“Nggak… nggak bisa kaya gitu donk yang, aku nggak mau putus denganmu hanya karena alasan seperti ini.”

“Beri aku waktu…” dan aku tak menantikan lagi apa yang akan dikatakan kak Rania, segera telpon kumatikan.

Kak Rania mencoba menghubungiku lagi namun tak kuhiraukan, lalu dia mengirimkan pesan melalui BBM

Nad, aku cinta sama kamu, semoga suasana hatimu segera membaik. Besok aku pulang dan kuharap kita bisa bertemu. Aku merindukanmu.

Dan aku hanya bisa menangis seperti biasanya. Aku sendiri juga tak mengerti apa yang sedang kurasakan. Mungkin aku memang terlalu merindukannya atau mungkin juga karena aku terlalu takut kehilangannya. Aku merasa sikapnya selama ini terhadap Natalia terlihat seperti dia masih mencintainya, dan itu yang selalu membuatku cemburu.

Aku memang perlu waktu sendiri untuk memastikan perasaanku kali ini. Aku mencintainya, sangat mencintainya bahkan, namun aku juga tak mau selalu terbakar cemburu seperti ini. Terlalu menyakitkan bagiku jika terjebak dalam kecurigaan yang tak pernah bisa kuatasi, maka malam ini kuputuskan untuk berdiam diri dalam doa untuk menenangkan diri.

 

Gelap akansegera berjumpa dengan fajar

Mengakhiri sebuah perjalanan dingin nan sepi,

Aku termenung dalam semburat sinar

Terkungkung dalam sebuah rasa benci

 

Bangunlah sayang, malam ini tak lagi gelap

Tengoklah ke jendela, semuanya membara bagai amarah,

Jangan menghampiri tangis dan jangan coba mengusap

Aku tak ada waktu berdialog denganmu dalam gundah

 

Siapakah dirimu???

Yang mencumbuku dengan api

Siapakah dirimu???

Yang membelaiku dengan belati

(Sang Amarah)

 

 

 

Bersambung…

 

 

 

Advertisements

Puisi : Ironi.. (kelompok 3)

Budaya itu selalu dilakukan
Namun selalu berwajah muram
Sejatinya ia tidak terlahir dalam semalam
Tetapi senantiasa hanya diceritakan dalam diam

Ketika dua insan sejenis berkelindan
Atas dasar penghormatan dan kebudayaan
Maka wajarlah itu adanya
Maka hiduplah keduanya

Tetapi pabila dua insan sejenis berkelindan
Dengan cinta sebagai alasan
Maka murkalah yang diterimanya
Maka matilah keduanya

Tidak bisakah keduanya abadi
Dalam raga..
Dalam rasa..
Dalam cinta…

 

 

 

Perempuan Berparas Tampan : Cemburu (bagian 7)

Oleh : Joshua Intan

“Sayang, tunggu ya aku angkat telpon dulu…” sambil berlari menjauh tanpa menantikan jawaban dariku.

Aku hanya bengong saja di depan pintu masuk bioskop, karena sampai beberapa waktu belum juga kulihat tanda-tanda bahwa kak Rania akan mengakhiri percakapannya di telpon lalu akupun memutuskan untuk masuk terlebih dahulu sambil membeli tiket.

Dua tiket sudah ada ditangan, dan film akan diputar sekitar 3 menit lagi. Dari kejauhan kak Rania melihatku dan aku memberikan tanda supaya dia bergegas dengan melambaikan tiket yang kupegang. Namun kak Rania hanya membalas lambaian tangan yang kuartikan sebagai “tunggu dulu”. Dengan sedikit tak enak hati aku duduk di kursi tunggu.

5 menit kemudian kak Rania berlari ke arahku,

“Sorry ya, tadi si Natalia, ngobrolin kerjaan.” Lalu duduk di sampingku.

Entah kenapa aku jadi begitu kesal ketika kak Rania mengatakan bahwa telpon tadi dari Natalia. Aku tahu Natalia adalah rekan sekerja kak Rania yang ada di Jakarta, mereka sering ngobrol lewat Line, BBM dan sering telponan. Terkadang memang membicarakan pekerjaan tapi seringkali Natalia hanya curhat pribadi.

“Ayo masuk, kita udah telat beberapa menit.” Jawabku singkat.

Kak Rania suka sekali mengomentari film yang sedang kami lihat sewaktu film masih di putar, entah membicarakan aktornya, acting nya, atau efek-eefek dan juga menebak-nebak jalan cerita nya akan bagaimana. Biasanya aku juga akanmenimpali dan kita akan tertawa berdua, tapi kali aku hanya diam saja. Karena masih merasa dongkol dengan apa yang baru saja terjadi.

“Yang, kok kamu diem aja sih??” kak Rania menggenggam tanganku.

Aku hanya menggelengkan kepala tanpa melihat ke arahnya. Lalu kak Rania mencium punggung tanganku. Saat kak Rania diam saja dan berhenti berkomentar maka aku merasa tak enak padanya, sudah hampir aku membuka mulut untuk memulai percakapan dengannya tiba-tiba genggaman tangannya dilepaskan dan dia merogoh-rogoh saku celananya.

HP sudah di genggaman tangannya lagi dan kemudian dia sibuk membalas pesan yang masuk. Lagi-lagi aku dongkol jadinya, dalam hati bertanya siapa sih yang sedang menghubunginya sampai-sampai saat nonton pun harus membalas. Sepenting apa pesan itu sehingga tidak bisa ditunda nanti saja. Sempat curiga dalam hati jangan-jangan Natalia yang sedang mengirim pesan, dan aku juga kehilangan konsentrasi melihat film saat ini.

Sampai film usai dan kami duduk ditempat makan kak Rania masih sibuk sekali dengan HPnya, dan ini membuatku sangat tidak nyaman,

“Sibuk banget sih dari tadi…” celetukku.

Meletakkan HPnya, “Duh, iya nih si Natalia… dia ngobrolin kerjaan.” Lalu memandangku yang belum menyantap makanan yang kupesan, “kok belum dimakan?”

“Nanti aja, nunggu kamu selesai, biar makan bareng.” Kujawab dengan ketus.

“Ya udah yuk makan…” tapi kemudian HPnya berdering dan kak Rania seketika melirik bergantian antara layar HP dan aku.

Sudah tak dapat kusembunyikan lagi raut kesal di wajahku, “Siapa?? Natalia??”

Kak Rania memegang tanganku, “Sebentar ya sayang…” lalu mengangkat telpon.

Entah kenapa rasanya aku tak ingin mendengarkan percakapan mereka berdua, aku tak perduli apakah itu masalah pekerjaan atau masalah diluarnya. Aku berdiri menuju ke toilet demi untuk menghindari mendengar percakapan mereka. Saat aku berdiri meninggalkannya, kak Rania sempat memegang tanganku namun tak kuhiraukan pun tak kupandang lagi dia.

Natalia bukan sekedar rekan kerja kak Rania, dulu mereka pernah berpacaran sampai akhirnya putus. Usia pacaran mereka pun cukup lama, hampir 5 tahun. Aku tak tahu persis kenapa mereka mengakhiri hubungan, yang aku tahu semenjak mereka putus 2 tahun yang lalu, mereka masih sering berkomunikasi. Bahkan dari cerita kak Rania beberapa kali mereka masih saling mengirimkan hadiah di hari ulangtahun masing-masing.

Setelah kurasa cukup lama aku tak melakukan apa-apa di toilet, aku lalu kembali ke meja tempat kami makan. Diluar dugaan, kak Rania masih saja bercakap-cakap di telepon, akhirnya aku hanya bisa menyantap lebih dahulu makananku. Namun tak berapa lama kemudian, kak Rania menutup telponnya.

Kembali dia memegang tanganku yang langsung ku kebaskan dan berpura-pura menikmati makanan. Aku tak ingin memandang wajahnya saat ini, rasanya ada yang mau meledak dari dalam hati.

“Sayang, kamu marah ya?”

Mendengar pertanyaan itu sama sekali tak meredakan amarahku, namun aku hanya menggelengkan kepala tanpa mengatakan apapun.

“Itu tadi Natalia, kami lagi ngobrolin kerjaan kok… kan aku udah bilang sama kamu kalau tinggal beberapa minggu lagi kami ada kegiatan di Surabaya, nah ini kami lagi ngobrolin masalah itu.”

Aku meletakkan sendok dan garpu ditangan, “Aku pengen pulang, mendingan kamu buruan habisin makanan kamu.”

“Lho kok pulang, kamu marah ya?!?!”

“Enggak… udah pokoknya aku pengen pulang…”

“Sayang, kan kita belum ngobrol…”

“Nggak usah, kamu ngobrol aja sama temen kamu itu, kan kamu lagi sibuk.” Aku semakin ketus.

“Ini udah enggak lagi kok, ayolah sayang kamu jangan marah dong… kan ini masalah kerjaan.” Kak Rania merajuk.

“Iya, ya udah kan kamu lagi banyak kerjaan, jadi kamu selesein aja kerjaanmu. Lain kali jangan ajak orang keluar kalau kerjaanmu lagi banyak.”

Kali ini tak ada jawaban dari kak Rania, namun dia langsung berdiri, “Ya udah, ayo pulang.”

Aku yang tak bisa membaca apa maksud dari kak Rania akhirnya menengadahkan kepala untuk melihatnya, “Makanannya di habisin dulu.”

“Nggak usah, kita pulang aja.” Terdengar sedikit kecewa.

Tapi akupun juga tak mereda, karena bagiku memang aku layak merasa kesal dengan apa yang terjadi. Wajar saja jika aku kesal dan cemburu, ini adalah waktu kami berdua untuk berkencan, namun dia masih saja sibuk dengan pekerjaannya bahkan bersama mantan pacarnya.

Di dalam mobil saat perjalanan pulang kami tak bicara sepatah katapun. Aku tak tahu persis apa yang dirasakan kak Rania saat ini, yang pasti aku hanya punya perasaan marah dan kecewa atas apa yang baru saja terjadi. Sesampainya di pastori pun aku tak mengatakan apa-apa kecuali terima kasih, sedang kak Rania tak mengatakan apapun dan langsung tancap gas secepat mungkin setelah aku turun dari mobil.

Karena merasa sangat marah dan sangat kecewa, akupun segera mandi air hangat seperti biasa dan bergegas naik ke tempat tidur. Lalu tak sengaja aku melihat jadwal di samping tempat tidur, dan aku mengumpat,

“Ck… sial, besok mimpin doa pagi pula… argh…” dan mau tak mau akupun langsung mengambil Alkitab dan membaca bahan renungan untuk besok pagi.

Sulit sekali berkonsentrasi saat suasana hati sekacau ini, beberapa kali kulirik HP ku namun sama sekali tak ada tanda-tanda kak Rania mencoba menghubungiku. Aku tak mengerti bagaimana bisa dia diam saja tanpa mengucapkan permitaan maaf atas kacaunya jadwal kencan kami hari ini, atau sekedar mengucapkan selamat malam atau apa yang mungkin bisa sedikit meredakan marahku.

Karena tak kunjung ada kabar dari yang diharapkan dan aku sulit menjaga fokus menyiapkan bahan renungan maka kumatikan saja HP ku. Sempat berpikir apakah aku harus memulai menghubungi kak Rania, namun segera kuurungkan niatku itu karena gengsi dan ingin menunjukkan padanya betapa marahnya aku.

Malam ini seperti berjalan sangat lamban, entah memang seperti itu atau karena aku yang gelisah sepanjang malam hingga tak kunjung bisa memejamkan mata. Yang aku tahu sesaat setelah aku berhasil tertidur lalu alarm berbunyi. Dengan sekuat tenaga aku berjuang menuju kamar mandi, melawan kantuk dan kepala yang berat untuk bersiap-siap melaksanakan tanggung jawab di pagi ini.

Tepat pukul 05.30 doa pagi dimulai, jemaat yang hadir pun seperti biasanya, aku hafal seluruh jemaat yang hadir karena memang setiap hari hanya wajah-wajah inilah yang datang. Jumlahnya yang tidak terlalu banyak, hanya berkisar 15-20 orang setiap hari membuat doa pagi ini terasa seperti mezbah keluarga, jadi suasana yang tercipta adalah suasana hangat dan santai. Aku hampir melupakan semua kekesalanku semalam ketika menikmati memimpin di doa pagi saat ini.

2 jam kemudian aku sudah kembali merebahkan badan di atas tempat tidur, sebenarnya ibadah pagi hanya memerlukan waktu satu jam, namun seperti biasanya pula para majelis gereja maupun jemaat yang datang akan mengajakku ngobrol sambil menikmati jamuan pagi yang sudah disiapkan oleh gereja.

Kepala rasanya berat sekali dan mata sudah tak bisa diajak kerjasama lagi, maka akupun tertidur pulas sesaat setelah menjatuhkan badan ke tempat tidur.

Aku baru terbangun lagi pukul 12 siang lantaran naga dalam perut sudah berontak. Setelah berhasil mengumpulkan nyawa aku lalu ke kamar mandi untuk mandi lagi, sembari mandi aku sudah membayangkan akan makan bakso di depan gereja. Cuaca di luar sudah pasti panas saat ini, tapi entah kenapa aku malah ingin makan bakso pedas.

Usai mandi aku menyalakan HP yang sudah mati sejak semalam, dan banyak sekali notifikasi yang masuk. Dari BBM, Line, Whatsap, Fb dan lain-lain. Namun yang membuatku sedikit bersemangat adalah pesan-pesan dari kak Rania yang dikirimkan sepanjang pagi untuk menyapaku, menanyakan kabar dan akhirnya mengajakku makan siang.

Saat hendak membalas ajakannya, tiba-tiba telpon masuk,

“Halo…” sapaku sedikit malas namun sesungguhnya sangat gembira.

“Halo sayang, kok HP mu nggak aktif sih daritadi? Kamu lagi apa? Masih marah ya?” suara kak Rania terdengar cemas.

“Oh… enggak… lupa nyalain, aku juga baru selesai mandi.”

“Kamu baru bangun yang? Serius? Nggak di cari orang kantor memang?”

“Aku tadi udah pimpin doa pagi, trus tidur lagi.”

“Oh… makan yuk… aku jemput ya, kamu mau makan apa?”

“Hmmm kamu nggak ke kantor? Boleh deh makan apa aja.”

“Ini dari kantor, aku jemput sekarang ya, kita makan…mmm… makan Bakso aja yuk…”

“OK.” Dalam hatiku langsung jejingkrakan.

 

Setelah bakso habis kami santap,

“Yang, boleh bicara masalah kemarin??” kak Rania terlihat serius.

“Iya boleh.” Jawabku.

“Jadi, kamu kemarin marah gara-gara telpon dari Natalia?”

Membahas masalah ini membuatku merasakan sedikit kemarahan yang tersisa, dan aku hanya diam saja tak bereaksi sembari menahan amarah.

“Kamu kan tahu Natalia itu sama aku ada kerjaan, kok kamu masih marah sih yang? Apa yang bikin kamu marah? Tolong dong kamu ngomong biar aku tahu.”

Kuhela nafas dalam, “Kemarin kan jadwal kita kencan, tapi kamu malah sibuk sama kerjaan kamu, ya wajar kalau aku kesal.”

“Cuman itu? Atau ada lagi?”

“Oh iya, aku nggak suka kamu komunikasi terus sama Natalia.”

“Kamu cemburu?”

“Kamu masih cinta sama dia? Lalu kenapa kalian putus? Ya udah kalau kamu masih cinta sama dia ya kalian balikan aja.” Aku naik pitam seketika.

“Yang, kok kamu gitu sih?? Aku sama Natalia udah nggak ada apa-apa, aku sama sekali nggak ada perasaan apa-apa lagi sama dia kecuali sebagai seorang sahabat. Nggak ada salahnya kan kalau kita sekarang menjadi teman?!?!”

“Aku nggak tahu ya apa kalian temenan atau apa, tapi sikap kalian yang masih saling kasih perhatian itu aku nggak suka. Jangan-jangan memang kalian masih saling cinta.”

“Kamu jangan kaya gitu donk, kamu sama aja sudah merendahkanku. Apa kamu pikir aku nggak bisa menjaga komitmen kita?”

“Apa kamu pikir dengan kalian yang masih sering membahas masa lalu itu nggak bikin aku cemburu? Kamu nggak menghargai aku yang, aku kan pacarmu.”

“Bukan begitu, aku tetap sama kamu dan aku tetap cinta sama kamu. Tentang Natalia semua sudah lewat, dan aku nggak akan menghianatimu. Please kamu percaya…”

Aku sudah ingin menangis sampai kak Rania meremas tanganku,

“Aku mencintaimu Nadia… Aku akan menjaga komitmen kita berdua, jadi percayalah. Aku nggak akan menghianatimu, sungguh.”

Kata-kata kak Rania dan tatapan mata yang kulihat saat ini memang mengatakan kejujuran. Ada yang membuat hatiku menjadi nyaman kembali dan lebih tenang saat ini. Sekalipun aku tak tahu apakah aku bisa tidak cemburu pada Natalia lagi, namun aku ingin percaya pada kak Rania. Aku merasakan getaran cintanya yang tulus setiap waktu semenjak kami bersama, dan bagiku itu cukup untuk membuatku percaya padanya.

 

 

Sayang, semenjak kau masuk ke ruang utama hatiku

Semenjak itulah aku menjadi irisan nadimu

Aku adalah denyutmu

Akulah bagian yang tak kan terlepas dari deburan jantungmu

Jadi, untuk apa kau termenung dan ragu?

Bisakah nadi dan jantung itu meninggalkanmu

Jika kau tidak mati??

Sedang aku rela terpenjara hingga akhirmu nanti

(Sayang percayalah)

 

 

Bersambung…

Perempuan Berparas Tampan : Memulai Sebuah Kisah Cinta (Bagian 6)

Oleh : Joshua Intan

Entah kau yang menemukannya

Atau dia yang menemukanmu

Hatimu akan tahu bagaimana menyambutnya

Kalian akan berjumpa di ujung jalan baru

Yang setengahnya usai kalian jalani,

Dan pada saat itu kalian akan berhenti menanti

Peluklah erat, ciumlah lembut

Cinta terkadang menempuh jalan berat, namun akan berakhir ketika dua hati saling menyambut

(Kisah Romatis)

 

Akhirnya aku dan kak Rania resmi berpacaran. Sungguh bahagia rasanya bisa menjadi bagian yang penting dalam hidup seseorang dan juga memiliki bagian yang penting dalam hidup kita sendiri. Sungguh tidak pernah kusangka akan berpacaran dengannya, aku tak pernah berharap sejauh ini sejak aku merasakan cinta pandangan pertama padanya. Dan aku bersyukur jika sekarang kami sedekat ini.

Kami begitu berbeda dalam banyak hal, mulai dari hobby, kebiasaan, beberapa juga selera dan pandangan. Misalkan saja dia suka sekali bersepedajuga melakukan aktivitas di alam terbuka seperti naik gunung dan berjalan kaki ketika sedang ditempat wisata, sedangkan aku yang jarang bahkan hampir tidak pernah olahraga sangat alergi dengan yang namanya capek.

Kak Rania orang yang sangat santai dan bebas, maksudnya jika ada perkerjaan dia suka mengerjakannya dengan santai, bukan berarti dia tidak bertanggung jawab melainkan dia selalu ingin mengerjakannya dengan hasil terbaik, jadi dia akan benar-benar menanti mood terbaik untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia tak suka di atur, bahkan dia kadang hidup dengan tak teratur seperti sering terbalik jam tidur. Sedangkan aku sedari kecil terbiasa hidup disiplin, harus mengerjakan semua tepat waktu dan terbiasa hidup teratur.

Memang agak sulit menjalin relasi dengan perbedaan-perbedaan yang ada, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan rasa cintaku padanya. Makanya walaupun sering terlibat pertengkaran kecil, tapi selalu berakhir dengan baik lagi. Kami hanya perlu banyak ngobrol untuk mengerti satu sama lain. Nah ini juga masalah, aku orang yang cukup sulit menceritakan tentang kesedihan, ataupun hal-hal pribadi dengan oranglain termasuk kak Rania, sedang kak Rania adalah orang yang selalu berusaha membuatku mau mengungkapkan setiap apa yang kurasakan padanya. Dia ingin kami saling membagi kisah hidup berdua. Dan sejak saat kami berelasi, aku memang melatih diri untuk mampu mengungkapkan apa yang kurasakan padanya karena memang ini baik untuk dilakukan.

Kak Rania mungkin bukan cinta pertamaku, karena seperti yang pernah kuceritakan bahwa cinta pertamaku adalah pada sosok wanita sewaktu aku SMA yang tak sempat ku ungkapkan. Tetapi kak Rania adalah orang pertama yang membuatku jatuh cinta sehebat ini, yang membuatku begitu tergila-gila padanya, yang membuatku belajar banyak hal dalam memahami orang lain yang berbeda denganku, yang selalu membuatku berusaha menjadi yang terbaik dimatanya dan yang tidak bisa lepas dari pikiranku. Dia begitu special untukku.

Hari ini kami akan jalan-jalan ke Yogyakarta, kami janji bertemu di stasiun kereta api jam 4 pagi untuk membeli tiket kereta api yang paling pagi. Awalnya aku agak ragu apakah kak Rania bisa menepati janjinya, mengingat dia ternyata sulit sekali bangun pagi. Tapi sungguh di luar dugaan, saat aku sampai di stasiun jam setengah 5 pagi, ternyata kak Rania sudah duduk di salah satu kursi tunggu disana.

“Lho… udah sampai sini???” aku menghampirinya.

“Iya dong, nih udah dapet tiketnya, jam 6 nanti kita berangkat.” Kak Rania tersenyum puas sambil melambaikan tiket ditangannya kepadaku.

“Wow… bangun jam berapa tadi?” aku masih saja tak percaya melihatnya sudah rapi sepagi ini.

“Hehehe aku nggak tidur, selesai kita telponan itu aku langsung ngerjain sesuatu, soalnya kalau tidur nanti takutnya nggak bisa bangun.”

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengarnya, dalam hati senang sekali karena demi jalan-jalan denganku dia rela tak tidur. Tapi aku juga merasa kasihan padanya.

“Oh iya, sebentar…” kak Rania membuka tas dan mengaduk-aduk isinya lalu menarik keluar botol minum dari dalam tas, “nih, coklat panas kesukaanmu. Tadi aku buat sebelum berangkat.”

Ini sudah bukan bahagia lagi namanya, entah bagaimana menyebutnya dalam kata-kata. Bagaimana aku menggambarkan perasaanku ini, aku merasa begitu istimewa dan beruntung memilikinya sekarang. Aku sempat terpaku beberapa saat sambil menggenggam botol berisi coklat yang memang masih terasa panas di tanganku,

“Hush… ngelamun, ayo diminum nanti keburu dingin, soalnya botol minum itu nggak tahan panas.” Kak Rania membuatku tersadar dari lamunan.

Lalu kami minum berdua sambil menanti kereta datang. Pukul 6 kurang kereta api kami datang, dan kami langsung naik. Beruntung kami masih mendapatkan tempat duduk, memang biasanya kereta Solo-Yogyakarta sangat padat penumpang apalagi untuk jadwal pagi di hari senin seperti ini, itulah kenapa kami harus berangkat sepagi mungkin dan harus berlari menaiki kereta secepat mungkin supaya kami bisa kebagian tempat duduk.

Kereta berangkat pukul 6 tepat, kak Rania memasang headset ke telinga kami lalu memutar lagu. Karena semalam aku tidur cukup larut sedang kak Rania sama sekali tak tidur maka tak berapa lama setelah kereta melaju kami pun tertidur pulas.

Kami tiba di stasiun Tugu Yogyakarta pukul setengah 8 pagi, dan melanjutkan perjalanan menuju museum benteng Vredeburg dengan berjalan kaki. Ide liburan ke museum adalah usulan kak Rania, sebenarnya aku kurang tertarik pergi ke museum dan lebih memilih liburan ke pantai atau karena kita di Yogyakarta mungkin bisa berbelanja batik seperti yang biasa kulakukan bersama teman-teman. Tapi tak apalah, bagiku asal bisa bersama-sama menghabiskan waktu dengan kak Rania makanya aku nurut saja.

Ternyata sangat melelahkan berjalan dari stasiun ke museum, beberapa kali kak Rania menawariku berhenti sebentar untuk beristirahat. Keringat sudah membasahi badan dan kaki terasa mulai nyut-nyutan ketika kami tiba di dekat museum, sedang kulihat kak Rania baik-baik saja.

“Makan dulu yuk sayang, sarapan ya…” kak Rania mengajakku makan di sekitar museum.

Aku mengangguk-angguk dan tak sanggup bicara karena nafas sepertinya juga tinggal sedikit. Kami duduk di warung tenda kaki lima, kak Rania memesan nasi pecel, sedang aku yang tak suka sayur dan tak berselera makan karena capek cuma memesan teh panas manis.

“Lho, kok nggak makan sih? Itu lho ada bakmi, nggak mau?”

“Nggak deh, aku nggak laper, minum teh panas aja ya yang, sepertinya aku lemes.”

“Capek ya jalan, padahal cuma deket lho…”

“Kan aku nggak biasa, jadi ya maklum dong capek.” Entah kenapa aku merasa sedikit dongkol.

“Ya udah minum dulu teh nya, biar seger.” Kak Rania menyodorkan teh pesananku lalu mengusap rambutku.

Usai makan kami langsung menuju museum yang terletak di depan Gedung Agung dan Kraton Kesultanan Yogyakarta tersebut , kak Rania selalu memegang tanganku saat kami berjalan dan aku kembali merasa bersemangat karenanya. Kami melihat banyak diorama di dalam museum, membaca sejarah perjuangan warga Yogyakarta mengusir penjajah dan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Yogyakarta sewaktu berjuang untuk menuju satu kata “Merdeka.”

Museum yang memiliki luas kurang lebih 2100 meter persegi ini memiliki beberapa bangunan dan kak Rania antusias sekali mengelilingi setiap bangunannya. Mulanya aku juga antusias melihat diorama dan membaca setiap penjelasan yang tersedia di dekat setiap diorama, namun lama kelamaan aku merasa capek. Udara hari ini juga sangat panas, yang membuat kepalaku mulai merasa pusing. Namun melihat kak Rania yang begitu bersemangat, akupun tak berani mengatakan padanya bahwa aku perlu istirahat.

Aku lalu duduk-duduk di kursi yang ada di dalam bangunan tempat kami sekarang berada, dan sepertinya kak Rania mulai paham,

“Capek yang? Ayok istirahat di luar aja,biar dapet angin.” Dan kak Rania membawaku keluar dari bangunan.

Kami duduk-duduk di halaman museum, tepat di bawah pohon yang sangat sejuk. Aku menikmati terpaan angin yang segar sambil terus mengenggam tangan sang kekasih,

“Kok badanmu panas?” kak Rania lalu memegang keningku, “kamu sakit?” aku melihat dia begitu kuatir.

Menggelengkan kepala, “mungkin karena udaranya panas ya, jadi aku agak pusing, tapi nggak apa-apa kok, cuma perlu istirahat sebentar.”

“Kok nggak bilang dari tadi kalau capek? Kamu nggak suka ya jalan-jalan disini?” nada bicaranya sekarang terdengar bahwa dia merasa bersalah membawaku ke tempat ini.

“Enggak kok sayang, enggak… aku suka kok, mungkin karena aku nggak biasa jalan aja ya jadi gini,” aku segera meyakinkan kak Rania yang sangat cemas sekarang.

“Kamu mau minum teh lagi? Aku beli diluar ya?!”

“Nggak usah, minum air putih aja yang tadi kita beli diluar.”

Kak Rania dengan sigap memberiku air mineral yang tadi sempat kami beli di Malioboro. Dia juga memijit-mijit tanganku, lalu berdiri dan memijit pundakku. Aku merasa agak sungkan ketika dia memijit pundakku,

“Yang, nggak perlu dipijit pundaknya, kamu duduk disini aja.” Aku memintanya duduk kembali disampingku yang kemudian dilakukannya.

“Jangan-jangan kamu pusing karena bawa tas yang, aku bawain aja ya tas mu.” Lagi-lagi dia menawarkan bantuannya yang semakin membuatku merasa tak enak. Tak enak karena liburan kami harus sedikit tidak menyenangkan karena aku yang kelelahan.

“Kamu kan juga bawa tas, masa bawa dua sih…”

“Ya nggak papa, daripada kamu pusing.” Lalu kak Rania tertarik dengan sesuatu yang ada di bangunan paling depan dari museum, “yang, itu apa sih?” sambil clingak-clinguk.

Aku melihat kearah yang dimaksud, ada beberapa orang yang mengantri masuk ke bangunan tersebut, tapi aku tak tahu ada apa disana. Karena sangat penasaran,

“Yang, aku liat kesana dulu ya.” Kak Rania meminta ijinku yang kusambut dengan anggukan kepala ditambah senyuman.

Tak butuh waktu lama, kak Rania sudah kembali lagi duduk disampingku sambil matanya berbinar,

“Yang, ternyata itu pemutaran film pendek tentang isi museum ini lho. Sudah mau di putar, yuk kita liat aja, jadi nggak perlu jalan lagi buat lihat sisa museum yang tadi belum kita lihat, gratis juga kok.” Lalu kami berdua menuju gedung tempat pemutaran film pendek.

Begitulah liburan kami hari ini, sebenarnya rencana awal kami akan mengunjungi taman pintar untuk belanja buku. Aku dan kak Rania sama-sama suka baca buku, sewaktu aku tertarik dengan salah satu buku koleksi kak Rania, dia bilang bahwa buku itu cukup sulit di dapat, dulu dia beli di Taman Pintar makanya kami juga memasukkannya ke daftar tujuan liburan kita.

Tapi karena untuk menuju taman pintar kami juga harus berjalan kaki lagi sebab letaknya berdekatan dengan museum sedang staminaku tidak baik maka kak Rania membatalkan tujuan yang satu itu. Sebagai ganti karena hari masih siang dan sayang jika langsung pulang maka kak Rania membawaku ke Ambarukmo Plaza memakai bus Trans Yogyakarta yang haltenya dekat dengan museum. Aku sering bercerita padanya bahwa aku suka sekali makan nasi bakar di salah satu outlet di Ambarukmo Plaza, maka sebagai menu makan siang kami kak Rania membawaku kesana.

Usai makan siang kami sempat bertemu dengan beberapa teman kak Rania yang tinggal di Yogyakarta. Kami bertemu di Plaza tempat kami makan. Mereka membicarakan banyak hal dari hal-hal pribadi sampai pekerjaan yang sama-sama sedang mereka geluti. Aku senang berjumpa dengan teman-teman kak Rania, sekalipun terkadang aku nggak ngerti apa yang sedang mereka bahas tapi aku senang duduk bersama mereka.

Kami kembali ke stasiun Tugu jam 6 sore untuk mengejar kereta jam 8 malam, setelah membeli tiket sembari menanti kereta datang kami minum coklat panas yang kak Rania bilang enak. Dan sepakat, memang coklat disini enak sekali, ditambah lagi ngobrol berdua dengannya, lengkap sudah semuanya.

Kak Rania baik sekali, aku sangat beruntung memilikinya. Dia sungguh belajar memahamiku dan selalu memperhatikanku. Aku merasa sangat dicintai ketika berada di dekatnya. Tetapi ada perasaan yang aneh di dalam hatiku, perasaan bersalah yang sangat besar. Aku belum bisa mengatakankepada orang lain tentang hubunganku dengan kak Rania. Aku takut untuk mengakui bahwa aku mencintai seorang perempuan dan sedang menjalin relasi dengannya di hadapan teman-teman bahkan sahabatku yang sebagian besar orang gereja. Aku sungguh merasa bersalah pada kak Rania.

 

 

 

Bersambung…

I LOVE YOU… Gus,

Oleh : Safiq Gembloenk

 

Anta syamsun anta badrun, anta nûrun fauqo nûrin
Anta iksîrun wa ghôlî, anta mishbâhush-shudûri

 

Syair-syair shalawat menggema didalam masjid komplek pesantren Al Mukhlisin yang berada disalah satu kota di Jawa Tengah. Para santri dengan kompak melafalkan bait demi bait pujian kepada Nabi Muhammad SAW, shalawat ini rutin kami bacakan menjelang pengajian inti sehabis sholat Isya berjamaah.

Abah yai melangkahkan kaki dan duduk bersila ditengah-tengah santri, siap untuk memberikan ilmu Fiqh. Suasana yang begitu syahdu, metode pengajaran abah yai yang santun dan santri-santri begitu khusyu menyimak lalu menggoyangkan pena mereka dengan lincah diatas kitab kuning, kecuali aku…

Karena aku belum menguasai teknik menulis huruf arab jawa yang kita gunakan untuk menuliskan makna atau penafsiran dari teks-teks yang sedang dikaji. Jadi aku membawa kertas HVS untuk menuliskan artinya menggunakan huruf alfabet.

Oh iya, aku belum sempat ngenalin diri, aku diberi oleh orangtuaku sebuah nama yang keren, Ahmad Rijal Ramadhani, artinya seorang anak laki-laki yang terlahir pada bulan Ramadhan, tepatnya tanggal 8 Ramadhan 1411 H, kalau masehinya hitung sendiri aja 😛

Minggu kedua bulan Februari tahun 2007 adalah minggu pertamaku mondok dipesantren ini, pesantren yang diasuh oleh KH. Husni Ghozali terletak di pinggiran desa. Sebagai santri baru aku cukup populer dikalangan santri-santri senior, apalagi dimata pengurus yang sangar. Kepopuleranku disebabkan karena aku berkelahi dengan salah satu pengurus tepat dihari kedua setelah MTS (Masa Taaruf Santri) pelanggaran pertama sebagai santri baru 😥 . Aku dihukum oleh pengurus untuk membersihkan kamar mandi.

“Huft…. bayangin bro, betapa capeknya bersihin kamar mandi yang sering dipake penghuni pesantren yang jumlah santrinya seribu lebih” keluhku dalam hati 😥

Untungnya aku cuman dihukum bersihin duapuluh kamar mandi doang, jadi ga terancam sekarat :3, hampir dua jam aku bersihin sembilan belas kamar mandi berarti tinggal tersisa satu lagi yang belum terjamah.

Baru aja mau masuk ke kamar mandi yang keduapuluh, udah keduluan santri lain yang sedang mencuci pakaian kotor, dengan terpaksa aku nungguin sampai dia keluar, daripada aku kembali ke kamar tidur aku putuskan buat nungguin disini aja, lagian bajuku udah basah kena air sabun.

Aku duduk ditembok sekat pembatas antar kamar mandi sambil liatin sosok yang sedang mencuci itu, dan aku mulai membuka obrolan buat memecah keheningan.

“Aranmu sapa?” tanyaku

“Hmm, maaf aku ga’ tau bahasa Jawa” jawabnya

“Owh, namamu siapa? terus dari daerah mana, kok ga tau bahasa jawa?” tanyaku lagi

“Namaku ALFA, dari daerah Tasikmalaya” jawab dia

“Salam kenal juga, aku Rijal dari kabupaten Tegal” sahutku

Setelah berkenalan, aku minta izin sebentar buat ikut masuk ke kamar mandi, aku sikat tembok didalam kamar mandi dengan sabun colek, lalu aku minta tolong ke Alfa

“Fa, nanti kalau kamu udah selesai nyuci, tolong siramin sisa sabun yang nempel di tembok yah? aku mau ganti baju di bilik (kamar tidur santri)”pintaku

“Yoi, yang penting ada imbalanya, hehe” jawab Alfa sambil ngeledek

“Beres, nanti kalau ada rejeki” jawabku sambil meninggalkan Alfa

Aku melangkah menuju bilik Al Azhar, kurebahkan tubuh ini diatas lantai beralaskan tikar dan beranjak untuk tidur siang.

“Huft, capeknya” pikirku

Pandanganku lurus menatap langit-langit bilik dan terbawa suasana kantuk, terlintas sejenak bayang-bayang ketampanan dia

“Alfa…..” Zzz..zzz..zz….

~~~~~

Malam Jumat kita berziarah ke makam ulama-ulama dilingkungan pesantren, khususnya ke makam keluarga kyai Husni, malam ini ternyata giliran Alfa untuk memimpin membaca Yasiin dan Tahlil.

“Subhanallah…. merdu banget suaranya”

Sehabis ziarah, aku ajakin Alfa ke kantin belakang pondok, sepiring mendoan, dua gelas kopi hitam dan setengah bungkus rokok kretek cukup untuk bekal ngobrol malam berdua mumpung malem Jumat ga ada kegiatan rutin, coz’ hari liburnya santri itu malam Jumat sampai Jumat sore, kita ngobrolin pelajaran sekolah, kebetulan kita berdua sama-sama sekolah di STM jadi kita ngobrolin Engine Tune-Up, sistem kelistrikan mobil, sistem transmisi dan lainya.

“Fa, aku tuh kalo praktek engine tune-up gagal terus” ujarku

“Gagal gimana maksudnya?” tanya Alfa

“Ya kalo setel busi sering enggak pas, kadang kalo mesin dinyalain ada suara ledakan kadang juga keluar api di mesinya”

“emang susah kalo setel busi harus teliti, selisih 0,1mm ajaudah ga imbang sistem perapiannya” jelas Alfa. “hari Sabtu besok pukul 10.30 kelasku ada praktek mesin, kamu ikut kelasku aja, ntar kita belajar bareng stel busi”.

“wah, kebetulan, jam segitu pelajaran dikelasku ngebosenin” jawabku penuh semangat

“”Pelajaran apa emang Jal?”

“Qur’an dan Hadits”

“Hahaha.. dasar santri gelo’ masa pelajaran qur’an dan hadits bosenin?”

“Iya, mending ke bengkel aja sama kamu Fa” 🙂

 

Hari-hariku dipesantren dan disekolah semakin indah sejak aku kenal dia, hampir semua kegiatan dipesantren kita lakuin bersama, dari nyuci baju, makan sampai kerja bakti, kalau ngaji kita bareng cuman di pengajian inti, kalau pengajian kelas kita pisah karena aku di kelas tingkat tahun pertama sedangkan Alfa di tingkat tahun ketiga. Karena Alfa lebih senior, dia ga segan ngajarin aku mengartikan dalil-dalil dikitab yang ringan

Suatu malam, aku belajar bareng Alfa dibilik Al Ardh sampai tengah malam aku udah mulai ngantuk dan aku beranjak ke bilikku, aku terkejut ketika langkahku dikejutkan oleh seseorang yang menepuk pundakku.

“Jal,”panggil seseorang dibalakangku

“eh Fa, bikin kaget aja kamu” ujarku setelah menatap wajah imutnya

“malem ini aku tidur dibilik kamu yah?”pinta Alfa

“boleh, tapi entar aku izin sama ketua bilik Al Azhar dulu”

“Siip” (Y)

Kita berdua melangkah menuju bilikku dan kebetulan mas Saefudin selaku ketua bilik belum tidur

“mas Sef, kiye kancaku arep turu neng kene”
(mas Sef, ini temanku mau tidur disini)

“Sapa?”
(Siapa?)

“Alfa, cah Tasik”
(Alfa, anak Tasik)

“Iya, sok”

Kita masuk ke bilik, kulihat teman-teman yang lain sudah terlelap, aku meletakkan kitab didalam lemari dan menggelar alas tidur lalu aku melangkah keluar bilik

“rep meng endi koe Jal?” kata mas Sef dengan logat Ngapak
(Mau kemana kamu Jal?)

“rep pipis mas, sekalian banyu wudhu”
(mau kencing mas, sekalian ambil air wudhu)

“Oh”

Didalam bilik Al Azhar mas Saefudin mengajak ngobrol Alfa

“Gus, sejak kapan kamu kenal sama Rijal? tanya Saefudin”

“Sssttt.. panggil nama aja jangan panggil Gus”

“Iyadeh iya”

“Aku kenal Rijal udah satu bulan lebih”

“kalian emang berteman atau….”

“atau apa? mairilan?”

“bukan aku lho yang bilang”

“habisnya kata-katanya penuh dengan kecurigaan, kayak ga kenal aku aja kamu Sep”

“hahaha…. jadi Rijal itu calon mairilan kamu?”

“Iya, jangan ember yah mulutnya?”

“Beres, sesama pencari mairil bisa jaga rahasia”

“Pssstt… itu Rijal udah masuk, ganti topik obrolan”

 

Sehabis buang air kecil dan berwudhu, aku kembali ke bilik, kulihat Alfa dan mas Sefudin masih asyik ngobrol, entah ngobrolin apa. Aku langsung rebahan diatas tikar dan siap untuk tidur

“Mas Sef, Fa aku tidur duluan ya?”

“Iya, sok atuh” jawab mas Sef dan Alfa bersamaan

Tidur hanya beralaskan tikar dan mengenakan sarung, cukup membuatku nyenyak meskipun daerah disini berhawa dingin. Entah pukul berapa aku merasakan ada tangan yang memeluk perutku.

“Jal?”

“hmmmrrggh…” sahutku males

“aku sayang sama kamu Jal”

“Deg, ini mimpi atau kenyataan”

Cupz… sebuah kecupan hangat mendarat dipipiku, perasaanku berdesir ketika bibir lembut Alfa menyentuh pipiku

“tidur lagi aja yuk?” bisik Alfa sambil memeluk tubuhku dari belakang

Malam yang dingin berubah menjadi panas karena pelukan dia.

Empat bulan aku dipesantren menjadi mairilnya dia.

 

 

Ramadhan tiba…Ramadhan tiba

Aku main ke kantor pengurus ngobrol sama salah satu senior yang sedang bertugas dan aku minta tolong sama dia.

“Mas Ridho, aku pinjam database santri dong?”

“buat apa Jal?”

“mau cari alamat santri, rencana aku mau silaturahmi liburan lebaran ini”

“oh, bentar yah?…nih”

“makasih mas”

Lembar demi lembar kubuka lalu kuamati baris demi baris nama-nama santri yang tertulis, setelah beberapa menit ku temukan juga nama itu ALFA SIRRIL WAFA, jalan Merdeka nomor 778 Tasikmalaya, Siip, alamat sudah ku dapatkan, liburan nanti aku mau bikin surprise silaturahmi kesana tanpa sepengetahuan Alfa.

H+3 lebaran, siap-siap riding ke Tasik, mumpung masih suasana mudik aku mantap berangkat meskipun tanpa membawa SIM, aku berangkat bersama sepupuku, kita menempuh jalur pantura selatan melewati daerah Ajibarang, Wangon, Majenang, Wanareja, Banjar, Ciamis dan Tasik. Lima jam lebih perjalanan yang kita tempuh.

Setelah bertanya ke warga sekitar akhirnya kita sampai dirumah keluarga Alfa, aku merasa kagum karena rumah Alfa berada dilingkungan pesantren yang besar. Rumah bercat putih tulang adalah rumah keluarganya Alfa, itu kata warga yang aku tanyai dijalan tadi.

“Hmm.. kok banyak mobil terparkir dihalaman depan rumah yah? apalagi banyak sandal dan sepatu berserakan didekat pintu. Lagi ada keluarga ngumpul kayaknya, ah biarlah” suara hatiku mengabarkan keraguan. Aku beranikan diri buat masuk.

“Assalamualaikum”

“Wa’alaikumussalam” seorang wanita mengenakan hijab menjawab salamku

“Alfanya ada bu? saya teman pondoknya”

“Oh, mangga a, kalebet” jawab si ibu menyuruh kami masuk

“muhun”

aku dan sepupuku dipersilahkan masuk ke ruang tengah, lalu aku duduk paling ujung disebelah tamu laki-laki yang langsung mengajakku ngobrol.

“Dari mana mas?”

“Saya dari Tegal-Jawa tengah pak”

“Lho, jauh banget, kesini naik apa?

“ini boncengan sama sepupu saya”

“silaturahmi kesini mau minta ijazah doa?”

“enggak kok pak, saya mau silaturahmi sama temen saya, Alfa”

“eh, kamu temen pondoknya Gus Alfa?”

“Gus?” jawabku heran

Belum hilang keterkejutanku, aku lihat ada sosok ulama kharismatik melangkah dan duduk diseberang kami dan para tamu, sambil mempersilahkan aku dan sepupuku untuk menikmati snack dan teh manis. Aku langsung berdiri meraih tangan dan mencium tangan beliau, diikuti oleh sepupuku.

“Nunggu sebentar yah mas?, Alfanya lagi nganterin kakanya belanja” kata Abah

“Nggih bah”

Masuk waktu sholat dhuhur kita dipersilahkan ke masjid pesantren buat melaksanakan sholat berjamaah. Setelah itu aku dan sepupuku diantar ke kamar transit tamu agar kita bisa istirahat.

“Hel, kamu kalo mau tidur, tidur aja, aku mau jalan-jalan keliling komplek pesantren ini, nanti aku bangunin kalo udah mau pulang” ujarku ke Helmi sepupuku

“Iya mas”

Aku keliling pesantren dipandu salah satu santri abdi dalem Abah, sepanjang komplek kita ngobrol.

“Kang, akang teh kenal jeng Gus Alfa udah lama?” tanya santri itu yang bernama Rahmat

“belum sih, baru enam bulan lebih”

“wah, beruntung akang bisa jadi temennya Gus Alfa”

“hehe..bisa aja”

“Akhir tahun akang kesini lagi kan?”

“Ada apa emang?”

“Lho, masa ga tau? apa Gus Alfa ga cerita?”

“enggak tuh, cerita apa?”

“Gus Alfa udah taaruf sama putrinya sahabat Abah, kyai juga”

“Oh gitu, mungkin nanti dia cerita” jawabku meninggalkan Rahmat

Perasaanku mulai berkecamuk, antara sedih, kecewa, marah, bingung. Sampai ketika ada suara seseorang memanggilku

“Wooi… Jal”

“Alfa..?”

“Sejak kapan kamu disini?”

“udah mau 2 jam, hehe”

“Ada apa nih, kok tiba-tiba kesini? kangen yah?” ucap Alfa tanpa bisa melihat wajahku yang menahan air mata

“Enggak, bentar lagi aja aku pulang”

“Lho, cepet banget, ga nginep?

“Enggak, besok lusa aku udah harus ke pondok, ada kepentingan”

“Semangat banget kamu Jal, mentang-mentang santi baru”

Aku kehilangan semangat buat ngobrol sama Alfa, sampai habis ashar. Aku dan sepupuku berpamitan sama keluarga Alfa. Aku salamin dan cium tangan abahnya, lalu langsung menuju ke motor yang kita parkirin didepan rumah. Menuju pulang

~~~~~

Dipesantren,

Aku menuliskan sebuah puisi di kertas putih, lalu aku masukan ke sela-sela kitab dan aku bungkus kitab tersebut dengan kertas kado. Bingkisan itu aku titipkan ke mas Saefudin.

“Mas Sef, aku nitip ini buat Alfa yah? nanti kalo Alfa udah di pondok”

“kok, enggak kamu kasih langsung aja?”

“enggak mas, gampang. sekalian aku minta maaf sama mas Sef, barangkali selama tujuh bulan aku hidup bersama bikin susah”

“nyantai wae Jal”

Tepat dibulan september, aku kabur dari pondok membawa kitab-kitab dan pakaian seadanya, tanpa berpamitan kepada Kyai Husni, mas Sef dan Alfa.

Puisi ‘Untuk Alfa’

Fa,
Mungkinkah keindahan cinta yang kau berikan
Sesuai dengan apa yang kudambakan?

begitu sadisnya cintamu itu,
apakah aku Haram untuk kau miliki seutuhnya?
apakah kau yakin mencintai dia?

ya, dia,
yang akan kau nikahi dalam waktu dekat
pernikahan yang bukan kehendakmu, tapi kehendak orangtuamu

aku ingin terus mencintaimu
tapi aku sadar
dirimu begitu suci untuk aku raih
dirimu terlalu berharga untuk keluargamu
dirimu terlalu istimewa untuk santri-santri yang menantimu
menjadi pemimpin mereka

Selamat tinggal,
Terima kasih atas kebahagiaan singkat yang kau berikan

I LOVE YOU…  Gus

Perempuan Berparas Tampan : Ciuman Bagi Si Katak (bagian 5)

rtn__hinata_hyuuga_by_ooobuta_kunooo-d6g096z
Gambar Ilustrasi

By. Joshua Intan

Kalian pernah dengar kisah tentang seorang pangeran super tampan yang dikutuk menjadi seekor katak yang mengerikan? Sang katak harus berkelana untuk membebaskan diri dari kutukan dengan mencari seorang wanita yang sudi menciumnya dengan ciuman penuh cinta. Kisah pangeran katak ini berakhir dengan sempurna, dia temukan seorang wanita cantik yang sungguh mencintai si katak buruk rupa ini. Dan setelah mendapat ciuman dari cintanya, maka katak pun berubah kembali menjadi pangeran super tampan. Dan mereka berdua hidup bahagia selamanya.

Kisah pangeran katak ini meninggalkan kesan tersendiri bagiku, tentang cinta yang begitu sederhana namun kuat. Aku sering mendambakan cinta macam ini, mungkin karena aku yang jauh dari kata sempurna sehingga aku selalu berpikir bahwa akulah sang katak yang buruk rupa dan aku perlu berjumpa dengan orang yang akan mencintaiku dengan segala keberadaanku ini.

Aku orang yang sedikit ceroboh, sering kejedot sana-sini ketika sedang buru-buru ngerjain sesuatu, gampang marah tapi nggak bisa melampiaskan amarah selain dengan menangis, makanya aku sering banget menangis. Belum lagi terkadang jika sudah nggak cocok dengan seseorang, aku nggak bisa menyembunyikannya, bukan orang yang bisa ramah dengan semua orang lah intinya. Seringkali teman-teman memanggilku “si antagonis” lantaran sifatku yang satu itu.

Sore ini saat aku sedang menikmati kopi sidikalang favouritku yang dikirim oleh Opung doli dari Medan di teras rumah, tiba-tiba mami menghampiriku dan ikut duduk,

“Libur sampai kapan Nad?” tanyanya sambil mencomot keripik yang kusiapkan sebagai teman minum kopi.

“Masih 2 hari lagi Mi, tenang aja. Masih kangen ya?” godaku.

Sudah 4 hari aku di rumah, aku sengaja mengambil cuti karena beberapa hal dan salah satunya jujur saja karena peristiwa pernyataan cinta kak Lukman waktu itu.

“Oh… baguslah, besok adekmu pulang dari Semarang.”

“Hmm…” aku menyeruput kopi.

“Nad, kamu ni… mmm mami boleh nanya??” terdengar cemas.

“Kenapa?? Pakai ijin segala, biasa juga mami langsung nanya.” Aku cuek.

“Gini, kamu apa belum deket sama seseorang sih Nad?”

Aku tersedak kopi, “Uhuk… uhuk… Mam…”

Mami menepuk-nepuk punggungku sambil menyodorkan tissue untuk mengelap tangan yang kugunakan untuk membungkam mulut supaya kopi yang ada di mulut tak tumpah kemana-mana.

“Kamu, mami cuma nanya kaya gitu aja kok reaksinya lebay. Pasti jawabannya belum.” Terdengar sedikit kecewa.

Setelah mengatur nafas, “Habis mami, tanya kaya gitu. Memang kenapa?? Jangan bilang mau suruh Nad nikah lagi.”

“Habis, kamu tuh mau sampai kapan Nad kaya gini??? Inget usia… Mami kan pengen juga kamu kenalin pacar kamu. Apa kamu belum bisa move on dari Harsya?”

“Diiiih… sok-sokan deh mami pakai move on segala. Lagian mam, nggak ada hubungannya ini sama Harsya, yak elah udah lama banget kali mam….”

“Buktinya, setelah putus dari Harsya, kamu nggak ada dekat sama siapa-siapa. Udah, kalian balikan aja deh, toh Harsya juga masih jomblo sampai sekarang.”

“Mam… apaan sih, sok tau deh. Mami tau dari mana kalau Harsya belum punya pacar?? Trus mami tau dari mana kalau Nad belum deket sama siapa-siapa?”

Mangap, “Hah??? Jadi kamu deket sama siapa Nad? Temen greja? Siapa-siapa?? Kok nggak cerita sama mami sih??” sangat antusias.

Tersenyum usil, “Kan ini Nad lagi deket sama mami… hahaha”

Tapi mami kali ini terlihat kesal, “terus aja kaya gitu, nanti mam jodohin sama Harsya. Dia kapan hari habis dari rumah dan waktu mami tanya apa udah punya pacar belum katanya belum. Udah, mami atur aja kamu sama dia.”

“Ish mami… apaan sih, lagian ngapain dia kerumah?? Aneh-aneh aja.” Aku gantian kesal.

“Yaaa kan silaturahmi sama mami sama papi. Kamu tuh Nad, nyari yang kaya apa? Harsya itu cakep, udah gitu mapan, dia sekarang tambah ganteng tau nggak Nad, trus sopan sama orangtua.” Mami ngotot.

“Ya udah kalau gitu, Harsya sama mami aja.” Aku lalu beranjak meninggalkan mami yang kemudianberteriak-teriak memanggilku kembali. Tapi tak kuhiraukan dan malah mengurung diri di kamar.

Harsya adalah mantan pacarku waktu SMA, dia satu-satunya cowok yang pernah menjadi pacarku, tepatnya sih dia satu-satunya orang yang pernah berpacaran denganku. Nggak ada cinta sih jujur aja, waktu itu aku sedang sibuk menyangkal diriku yang jatuh cinta dengan seorang wanita. Aku merasa tidak normal, dan begitu takut, maka jadilah ketika Harsya teman sekelasku menyatakan cintanya langsung saja aku terima.

Tapi setelah berpacaran dengannya selama hampir 2 tahun perasaanku tak berubah, aku tak pernah mencintainya. Ribuan kali jalan dengannya selalu terasa biasa, hanya selayaknya teman yang sedang hang out bareng. Tidak pernah bertengkar, bahkan aku selalu berharap dia segera bosan dan selingkuh untuk mencari alasan putus. Terkadang aku yang sengaja jalan dengan teman-teman cowokku supaya dia cemburu dan minta putus, tapi nihil, cemburunya sih iya tapi dia nggak pernah minta putus. Kami hampir nggak pernah gandengan tangan, aku selalu menolak. Tapi aku pernah diciumnya sekali, dan itupun hanya satu rasa yang muncul, risih setengah mati.Jelas sekali bahwa sedari awal memang dia bukan orang yang akan membebaskan si katak dari kutukan, ciumannya tak berhasil sama sekali.

Lalu aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Saat putus dengannya begitu sulit, bukan karena aku patah hati melainkan karena Harsya tak mau dan kedua orangtua ku pun terus berusaha memintaku memikirkan lagi keputusan itu. Tapi setelah proses yang cukup panjang dan melelahkan untuk meyakinkan baik Harsya maupun orangtuaku maka kami bisa juga benar-benar mengakhiri hubungan kami.

Sudah 6 tahun berselang dari kisah masa lalu itu, tapi entah kenapa Harsya tak kunjung punya pacar lagi. Karena dia masih saja datang ke rumah dan berkomunikasi dengan orangtua juga kakakku sampai saat ini ditambah aku yang tak kunjung mengenalkan seorang pacar kepada keluarga, mungkin ini yang membuat keluargaku berpikir bahwa aku dan Harsya masih saling mencintai.

“Duuuh…kopinya di teras lagi…” aku baru menyesali kopi yang kutinggalkan di teras tadi.

Lalu aku menyalakan player dan mendengarkan lagu sambil merebahkan badan ke kasur. Saat kulirik jam dinding di atas kepalaku,

“Masih jam 5, lumayan lah tidur sejam lagi.” Aku lalu memejamkan mata. Nikmat sekali rasanya tidur sambil mendengarkan alunan musik lembut sembari diterpa angin sore yang masuk dari jendela kamar yang sengaja kubuka.

Tak perlu waktu lama akupun pulas. Sampai pada akhirnya aku melompat dari tempat tidur, terjun bebas ke lantai saat aku mendengar bunyi telepon dari HP. Terkejut ketika tahu bahwa kak Rania yang telpon,dah lebih terkejut lagi ketika kulihat jam di layar HP menunjukkan pukul 7 malam. Jantungku berdegup kencang lantaran teringat bahwa malam ini kami janjian akan makan malam tepat pukul 7.

“Halo kak…” aku ngos-ngosan.

“Halo Nad, kamu dimana?”

“Aduh sorry kak, aku lagi bangun. Sebentar ya, aku mandi trus cabut deh…” sangat merasa tak enak.

“Nad Nad… tunggu dulu, aku juga ini masih ada kerjaan kok. Kita ketemu jam 8 aja ya.”

Tiba-tiba merasa lega, “Huft… kirain kakak udah di tempat janjian, oke kak kalau gini kan aku bisa lebih santai.”

“Oke oke…sorry ya, tadi aku juga lupa kasih tahu kamu. Jam 8 ya, sampai jumpa…” dan telpon terputus.

 

Jam 8 malam lebih seperempat aku tiba ditempat janjian. Tempat ini salah satu tempat yang sering aku kunjungi bersama kak Rania, yang kusuka dari tempat ini adalah karena ada taman yang cantik dan sangat terawat, ditambah lagi coklat panas nya pun nikmat. Aku memilih tempat duduk di sisi belakang, tepat di satu set bangku dan meja kayu yang masih berwujud setengah pohon.

Kak Rania baru muncul setelah aku usai memilih menu yang ingin kumakan, nasi goreng pedas, coklat panas dan sosis untuk camilan. Dari kejauhan kak Rania sudah menghujaniku dengan senyuman manisnya,

“Hai… udah lama ya???” dia menjabat tanganku.

“Enggak, barusan kok… tapi aku udah pesan kak,” heran, entah kenapa setiap berjumpa dengannya aku selalu saja merasa salah tingkah.

“Oh nggak papa, santai aja.” Kak Rania duduk di sebelahku. “Mas, minta menu…” lalu dia melambaikan tangan kearah pelayan yang tak sengaja melintas.

Setelah memesan spagethy dan es jeruk maka kak Rania menyalakan rokoknya. Melihat HP nya sebentar lalu meletakkannya di meja,

“Jadi udah ngapain aja selama di rumah?”

“Hehehe, nggak ngapa-ngapin, cuman tidur, makan, nonton tv, ngobrol sama keluarga, udah.”

“Hahaha ya udah, nikmatin aja mumpung masih liburan. Sampai kapan sih?”

“Lusa udah balik pastori lagi kok…”

“Wah, udah siap sibuk lagi donk.”

Lalu kami ngobrol seperti biasa, menceritakan kegiatan kami selama beberapa hari ini. Membicarakan hobby kami masing-masing dan sedikit membuat rencana buat nonton atau sekedar makan lagi. Pokoknya malam ini berjalan seperti biasanya kalau kita bertemu, sangat menyenangkan.

Bersama dengan kak Rania tak pernah membuatku bosan, ngobrol dengannya juga sangat menyenangkan. Seperti malam ini, nggak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, dan ini pertanda kami harus segera pulang.

“Tadi naik taksi kan??” kak Rania memastikan. Aku mengangguk. “Oke,jadi kan bisa antar kamu pulang.” Lanjutnya,

Ini pertama kali nya kak Rania mengantarku pulang, biasanya kami pulang masing-masing. Tapi karena kak Rania memintaku untuk nggak bawa motor sendiri kali ini supaya dia bisa mengantarku pulang maka aku pun menuruti.

Entah ini perasaanku sendiri, entah memang ini yang terjadi, suasana di dalam mobil kali ini terasa berbeda. Kak Rania terlihat sedikit cemas tak seperti biasanya dan tak banyak bicara, akupun jadi bingung harus bagaimana. Kami hanya mendengarkan music sambil sesekali saling memandang tanpa bicara.

Setelah menuntunnya jalan menuju ke rumah melalui instrusi singkat seperti, “belok kanan”, “nah depan itu kiri” dan akhirnya “itu kak rumah warna ijo itu rumahku” maka tibalah kami di depan rumah. Tak heran jika rumah sudah tertutup rapat dan lampu sudah remang-remang karena pasti memang keluargaku sudah tidur jam segini.

Aku bingung untuk mengucapkan perpisahan,

“Makasih ya kak udah diantar pulang, sorry nggak bisa minta kakak mampir soalnya sudah malam.” Tanganku sudah hampir membuka pintu mobil saat kak Rania memegang pundakku.

“Nad, tunggu…”

Aku membalikkan badan dan aku sangat terkejut ketika mendapati wajah kak Rania sudah hanya berjarak sejengkal dengan wajahku. Dia terlihat gugup, akupun tak kalah groginya. Tiba-tiba kak Rania mencondongkan wajahnya lebih mendekat ke wajahku, rasanya jantungku berdebar terlalu kencang sehingga aku bisa mendengarkan detakannya dengan jelas. Tapi tunggu dulu, mungkin aku mendengar degupan lain yang tak kalah kencangnya, mungkin saja ini detakan jantung kak Rania.

Sesaat aku bingung lalu memejamkan mata, dan setelahnya aku hanya merasakan ada sesuatu yang hangat dan lembut menempel di bibirku. Tangan dan kakiku terasa lemas seperti tak bertulang, belum lagi di kepalaku seperti ada yang berdengung-dengung seperti mau meledak. Nafasku tak beraturan saat bibir kak Rania bergerak-gerak yang otomatis membuat bibirku mengikuti gerakannya. Aku sama sekali tak berani membuka mataku sekalipun ingin, di saat ini hanya satu yang kurasakan, “Aku terbebas dari kutukan”, rasanya seperti aku mendapatkan apa yang aku inginkan sekalipun aku tak pernah memikirkannya. Entahlah, ini sangat membingungkan namun juga menggairahkan.

 

Ada yang tengah menanti dan tak lelah mencari sebuah kisah cinta sejati.

Tak perlu paras menawan,

Tak perlu juga seorang jutawan,

Hanya yang penuh ketulusan yang diidamkan.

Adakah kau tahu dimana kisah ini akan menuju lembaran akhir?

Kutukan akan segera berakhir,

Dalam sajak-sajak tanpa kata melainkan hanya melalui sentuhan bibir

( kisah tanpa sepatah kata)

 

Bersambung…

Perempuan Berparas Tampan :Waktu Untuk Bangun (Bagian 4)

5tms
Gambar Ilustrasi

By. Joshua Intan

Aku sering memikirkan tentang Bruce Wayne, bukan memikirkan kekayaan, ketampanan atau kekuatan supernya. Yang menjadi pertanyaan terbesarku adalah siapa yang sebenarnya sedang menipu, apakah Bruce Wayne yang menipu orang lain sebagai Batman, atau Batman yang sedang menipu orang ketika sedang mengambil peran Bruce Wayne??? Antara Batman dan Bruce Wayne, mana yang realita mana yang mimpi? Mana yang asli, mana yang samaran? Entahlah.

Ini cukup membingungkan memang, tapi rasanya hidupku pun tak jauh berbeda. Nadia si pengerja gereja dan Nadia si Lesbian. Peranku seolah berubah tergantung di lingkungan mana aku sedang berada. Sekalipun pendetaku cukup terbuka, namun aku masih belum tahu pastinya bagaimana kalau aku mengatakan yang sesungguhnya tentang siapa aku. Lupakan dulu saja, aku belum punya rencana untuk mengatakan hal ini padanya.

Sudah hampir 1 jam aku mengaduk-aduk isi almariku dan mencari baju yang pas untuk kupakai. Pagi ini kak Rania mengajak sarapan diluar bersama. Aku mempersiapkan diri dengan baik pagi ini, berdandan, menata rambut dan memilih baju. Aku antusias sekali karena ini pertama kalinya setelah 2 minggu lebih kami tak berkomunikasi akhirnya bisa keluar lagi. Aku tidak boleh terlihat jelek pagi ini, untuk itulah aku rela bangun sangat pagi.

Lalu berderinglah telponku, di layar HP terlihat nama kak Lukman,

“Hallo kak, ada apa?”

“Nad, sorry banget telpon pagi-pagi. Ini Nad, pak Mardi yang kemarin kita besuk itu meninggal, hari ini aku diminta mimpin kebaktian di rumah duka.”

“Oh iya, lantas???”

“Nah, padahal jam 11 nanti aku juga ada jadwal buat mimpin persekutuan di SMA 3. Gini Nad, aku minta tolong kamu gantiin mimpin di persekutuan jam 11 ya. Please…” hatiku mencelos seketika.

Kami mengakhiri obrolan dengan persetujuanku untuk menggantikan tugas kak Lukman di SMA 3. Dengan berat hati aku menghubungi kak Rania yang ternyata sudah siap menjemputku dan membatalkan janji kami pagi ini. Kak Rania terdengar biasa saja awalnya, namun kurasa dia agak kecewa ketika aku juga menolak ajakannya untuk makan siang karena aku harus menyusul ke pemakaman jemaat kami.

Dengan hati yang tidak enak aku berganti pakaian dan mulai menyalakan laptop sembari membaca Alkitab untuk mempersiapkan bahan yang akan aku bawakan di persekutuan nanti. Jika sudah begini aku harus melupakan dulu kekesalan hatiku lantaran batal berjumpa kak Rania, dan kukerahkan segenap tenagaku untuk menyelesaikan bahan renungan.

 

Aku sudah banjir keringat ketika sampai ke pemakaman, untung saja aku berhasil menyelesaikan tugas tepat waktu sehingga aku masih sempat menyusul untuk mengunjungi keluarga jemaat yang tengah berduka. Tidak berselang lama dari kedatanganku upacara pemakaman pun usai. Setelah memberikan sedikit kata-kata penghiburan kepada keluarga, akupun undur diri.

“Nadiaa…” kak Lukman setengah berlari menghampiriku.

Aku menghentikan langkahku tepat dibawah pohon besar yang lumayan teduh,

“Nad…huff… Thanks ya buat hari ini. Huuff…huff… gimana tadi? Lancar kan?” kak Lukman terengah-engah usai berlari.

“Iyaa, lancar aja kok Puji Tuhan.” Menawarkan air putih yang aku bawa di dalam tas, “makanya, kakak itu Fitnes kek, jogging atau olahraga apa gitu lho. Perut udah segedhe itu.”

“Thanks…” meneguk air putih yang kuberikan, “iya…minggu depan fitness kok.”

Kami lalu berjalan beriringan menuju kendaraan yang ternyata sama-sama terparkir jauh di luar pemakaman. Tiba-tiba kami mendengar percakapan dua orang dibelakang kami,

“Ih… jijik banget deh, kaya nya memang Lidia itu pacaran sama cewek kok” Suara orang pertama.

“Iya, katanya ada yang pernah mergokin mereka lagi kencan kok. Anak saya kan temennya Lidia dari SMP, katanya memang dia itu mainnya sama orang-orang begitu.” Suara orang kedua.

“Serem ya bu, jangan-jangan memang ini sudah mau kiamat, makin banyak aja orang-orang lesbian yang berani muncul terang-terangan.”

Lalu kedua orang yang tak kami kenal itu berjalan mendahului kami. Aku dan kak Lukman sontak saling berpandangan. Aku rasa ekspresi takut dan ngeri yang tergambar di wajahku kali ini tak bisa kusembunyikan lagi. Sedang raut muka yang langsung kutangkap dari kak Lukman adalah tatapan tak percaya.

“Kenapa kak??” aku cemas dan kesulitan membaca arti tatapan kak Lukman.

Menggelengkan kepala sambil mengerjap, “Wow… entahlah.”

Menaikkan bahu, “Maksudnya entahlah???”

Tersenyum, “Ya entahlah, mau dibilang salah juga nggak, mau dibilang bener juga enggak banget.”

Aku diam dan masih tak mengerti,

“Maksudnya dua ibu tadi Nad, kalau kita mau salahin mereka atas ucapannya kan ya nggak bisa, mungkin mereka punya pandangan seperti itu karena mereka nggak tahu. Tapi ya aku nggak bisa membenarkan ucapan mereka itu.” Terangnya.

“Oh…” aku menelan ludah sambil mengumpulkan keberanian bertanya, “Kak, menurut kakak jika seseorang menjadi atau memilih jadi homo itu dosa nggak??”

“Siapa sih yang bisa menentukan seseorang itu berdosa atau enggak Nad? Lagian kita lahir ini aja sudah bawa benih dosa kok, dan setiapmanusia memang sudah jatuh kedalam dosa. Nggak perlu jadi homo, semua sama sudah berdosa. Aku nggak setuju kalau homo dikaitkan dengan dosa.”

“Kak Lukman serius?? Maksudnya, apa kak Lukman nggak mandang orang-orang homo itu melenceng karena nggak sesuai dengan perintah Tuhan untuk hidup berpasangan dan memiliki keturunan? Jika begitu bukankah Tuhan secara tersirat bilang bahwa hubungan yang DIA mau itu ya hubungan beda jenis kelamin, supaya menghasilkan keturunan.”

“Kalau pasangan beda jenis kelamin dan nggak bisa punya keturunan gimana Nad?? Dosa juga berarti karena nggak sesuai dengan goal Tuhan yang memerintahkan kita beranak cucu?? Nggak juga kan?? Kupikir masalah kepada siapa kita mencintai itu adalah bentuk anugerah juga. Cinta ya begitu Nad, kita kadang nggak tahu kapan datangnya, seperti kita nggak tahu alasan apa yang buat kita mencintai seseorang. Hal yang lahiriah, alami dan tanpa paksaan itu menurutku adalah hal yang indah dan suci. Jadi jika orang dengan jenis kelamin sama saling mencintai tanpa paksaan ya sudah, biarkan saja. Bukankah itu lebih indah dibandingkan mereka dipaksa berpisah dan dipasangkan dengan orang beda jenis kelamin?? Seringkali kesalahan kita adalah melihat siapa yang saling mencintai, bukan melihat kenyataan seperti apa cinta itu. Itu yang bikin pikiran kita sempit dan mengkotak-kotakkan cinta.”

Aku mengangguk-angguk lega, “Andai saja semua orang punya pemikiran yang sama dengan kamu ya kak…” sedikit bergumam.

           

Mereka bilang aku harus bangun dari tidurku

Menyibakkan selimut yang sepanjang malam menghangatkan tubuh

Dan menjejakkan kaki ke lantai untuk mulai menghadapi kehidupan dengan jiwa utuh

Tahukah kalian, aku sendirilah pemilik kisah nyata dan semu

Aku tak perlu bertanya padamu

Aku juga tak perduli ucapanmu

Asal kalian tahu

Bangunku adalah hidup semu yang pilu

Sedang mimpiku adalah kenyataan hidup yang kurindu

(Bangun???)

 

Sore tadi aku sempat telponan dengan kak Rania, sebenarnya aku berharap malam ini dia mengajakku makan malam diluar namun rupanya dia sedang ada janji dengan teman-temannya. Akhirnya malam ini aku dan kak Lukman makan di angkringan baru di sekitaran kota barat. Aku,kak Lukman,mbak Vera dan kak Adi punya hobby sama yaitu jelajah kuliner. Biasanya kalau ada tempat baru kami selalu bergegas kesana, tapi malam ini mbak Vera ada tugas di apotek miliknya sedang kak Adi sedang sibuk mendampingi anak-anak remaja belajar biola.

Tempatnya asik, bangku-bangku kayunya aku suka dan bahkan keseluruhan interiornya aku suka. Mungkin karena tempat ini masih baru, makanya penuh dan ribut sekali. Kami disuguhi penampilan band akustik yang membawakan lagu “menye-menye”, begitulah istilah yang aku dan kak Lukman pakai untuk menyebut lagu dengan lyric galau atau patah hati.

Setelah makan kami ngobrol-ngobrol seperti biasa, dari hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan pelayanan kami sampai kehidupan masa lalu kami yang sama sekali nggak penting kecuali untuk ditertawakan. Karena sudah berteman lama terkadang aku lupa bahwa kak Lukman adalah pendetaku, makanya kami bisa saja ngobrol santai dan tertawa seperti malam ini.

Saking asiknya ngobrol, kami nggak tahu kalau ini sudah hampir tengah malam. Pengunjung yang tersisa hanya tinggal beberapa orang saja termasuk kami berdua. Setelah penyanyi pria bersuara serak itu menyelesaikan lagu “When I Was Your Man milik Bruno Mars” kamipun segera pulang.

Kak Lukman yang tadi menjemputku sekarang bertugas mengantarku pulang ke pastori seperti biasa. Mata sudah sedikit mengantuk karena perut juga kenyang, ditambah semilir angina dari AC di dalam mobil dan radio yang di putar dengan volume kecil. Aku sudah memejamkan mata ketika kak Lukman membuka obrolan kembali,

“Nad, boleh kutanyakan sesuatu sama kamu?”

“Yaa… silahkan… Feel Free.” Jawabku sambil masih memejamkan mata.

“Mmm Nad, sebenarnya ini agak pribadi sih.” Suara kak Lukman timbul tenggelam dan terdengar ini akan menjadi percakapan yang serius, akupun membuka mata dan menegakkan posisi dudukku.

“Ya, apa itu kak?” aku jadi penasaran.

“Ehem…” berdeham, agaknya kak Lukman berusaha menutupi perasaan yang entah apa, “Jadi Nad, kita kan sudah kenal lama, dari awal aku datang kesini kamu adalah salah satu rekan pelayanan yang dekat denganku…”

“Pleaseee… jangan bilang kalau kamu tahu aku lesbian. Aku belum siap untuk jujur pada siapapun saat ini…” aku menjerit dalam hati, kali ini aku sangat ketakutan.

“…akhir-akhir ini aku sedang memikirkan sesuatu, aku baru menyadari bahwa sebenarnya aku suka padamu Nad.”

Aku tak bisa menjawab apa-apa waktu kalimat itu meluncur dari mulut kak Lukman. Yang aku tahu mulutku menganga dan mataku melotot lantaran tak percaya. Tidak ada sepatah katapun yang melintas di kepalaku selama beberapa saat, kak Lukman pun demikian bahkan dia tak berani memandangku.

Hingga akhirnya, “Sudah Nad, nggak perlu dijawab dulu… kamu pikirkanlah dulu perasaanku ini, kamu berdoa aja dulu. Sorry ya kalau tiba-tiba bilang begini, tapi aku sudah lama memikirkannya. Ini yang aku rasain Nad.”

Sampai mobil tiba di pastori aku masih belum bisa mengatakan apa-apa. Sekuat tenaga aku mencoba mengumpulkan kata-kata tetap saja tak berhasil. Entahlah, apakah aku bingung karena terkejut atau karena aku takut menolaknya??? Entah…

Bersambung…