Perempuan Berparas Tampan : Cemburu 2 (bagian 8)

Oleh : Joshua Intan

Pagi ini betapa terkejutnya aku ketika melihat setangkai mawar lengkap dengan sepucuk surat di depan pintu pastori yang hampir saja terinjak olehku. Lalu aku melayangkan pandang mencaritahu siapa yang menaruhnya disini, namun tak kudapati seorangpun di sekitar pastori. Aku memungut bunga berwarna merah yang kelopaknya merekah indah itu kemudian membaca isi suratnya,

Selamat pagi sayang, selamat memulai hari ini dengan sesuatu yang cantik dan manis seperti senyummu. Aku mencintaimu.

Rainbow

Aku tersipu malu membaca pesan singkat darinya, lalu aku kembali ke dalam untuk menghubungi sang pengirim bunga tersebut. Aku mencoba menelponnya dan kemudian setelah menunggu beberapa saat,

“Pagi sayang….” Suaranya begitu menghangatkanku.

“Pagi, trimakasih bunganya ya sayang. Kamu kapan kesini?”

“Tadi pagi aku datang doa pagi disana, aku sengaja datang supaya bisa ketemu kamu, ternyata kamu nggak ada.”

“Kok kamu taruh bunga di depan pintu yang? Gimana nanti kalau di ambil orang lain?”

“Iya aku tadi mikir gitu sih, tapi mau gimana lagi kan biar surprise. Kamu suka nggak yang?”

“Mmmm suka sih…suka banget…Tumben bisa manis kaya gitu…”

“Yaaah namanya juga usaha. Oh iya yang, aku ini jalan mau ke Surabaya, nanti ku telpon lagi ya kalau sudah sampai Surabaya.”

“Lho, kamu bawa mobil sendiri?”

“Iya… biar nanti disana nggak kesulitan kalau mau ke mana-mana.”

“Oh… hati-hati di jalan ya sayang. Jangan lupa kasih kabar ya…”

“Iya sayang… I love you…”

“I love you too.”

Tiba-tiba hatiku merasa sedikit tak senang, aku kembali memikirkan kak Rania yang akanada di Surabaya selama 4 hari bersama Natalia. Jujur saja memang masih saja kurasakan ada kecemburuan setiap memikirkannya. Tapi aku juga berusaha menepis rasa itu dan melanjutkan kegiatanku di pagi ini. Setidaknya pagi ini diawali dengan sesuatu yang begitu romantis, memang kejutan dari sang kekasih memberikan semangat yang luar biasa.

 

Pukul 13.00 wib aku dan beberapa teman kurikulum gereja menyelesaikan rapat. Kemudian aku bergegas menuju Solo Square untuk menjumpai sahabatku Windy yang sudah menantiku disana. Hari ini kami akan membeli sebuah kado untuk Rasad yang berulang tahun.

Setibanya di Solo Square, aku langsung menuju ke outlet pakaian dimana Windy tengah sibuk memilih sebuah kemeja,

“Win… sorry ya, rapatnya baru kelar jam satu soalnya.”

“Hehehe nggak apa-apa, santai aja kali. Eh Nad, coba lihat ini, bagus nggak?” Windy menunjukkan kemeja berwarna biru gelap yang tengah di pegangnya.

“Hmmmm bagus sih, tapi coba lihat yang itu Win…” aku menunjuk kearah kemeja berwarna hijau toska yang tergantung di ujung ruangan.

“Iiihhh baguss… kok aku nggak liat ya tadi… coba ambil Nad.”

Dan akhirnya kami membeli kemeja tersebut karena selain model dan warnanya memang bagus ternyata kami mendapatkan diskon yang lumayan banyak karena kemeja tersebut hanya tinggal satu saja.

Setelah mendapatkan kado, kami lalu memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum pulang. Namun ketika kami berjalan menuju foodcourt tiba-tiba mataku tertawan oleh sepasang sepatu yang entah bagaimana langsung mengingatkanku akan kak Rania.

“Win,tunggu sebentar.” Aku lalu masuk ke toko sepatu tersebut.

Windy mengikut di belakangku, “Sepatu?? Buat siapa?? Kan ini udah kita beli buat Rasad.”

“Bukan… bukan buat Rasad.” Aku sibuk sendiri melihat setiap bagian dari sepatu yang terbuat dari kulit itu.

“Hmmm aku jadi curiga kalau gini…”

Aku melihat Windy sedang menaikkan alis mata nya sembari memandangku curiga,

“Apaan sih, bukan… ini cuman liat-liat aja…” meletakkan sepatu lalu menarik keluar Windy, “ayok makaaaan…. Lapeeeeerrrr”

Windy masih saja curiga tentang sepatu tersebut sampai dengan kami usai makan. Tapi aku terus menerus berkilah dan kemudian mengajaknya pulang dengan alasan masih ada yang harus ku kerjakan, kebetulan juga setengah jam lagi Windy ada kegiatan di kampusnya.

Karena Windy terburu-buru maka dia duluan pergi dari mall, meninggalku yang langsung mengambil kesempatan ini untuk kembali ke toko sepatu tadi. Setelah memilih ukuran sepatu yang sesuai, aku meminta pelayan toko untuk membungkusnya dengan rapi.

 

Malam ini aku pulang agak larut karena merayakan ulangtahun Rasad bersama Windy dan beberapa teman yang lain. Usai mandi aku langsung masuk ke dalam kamar untuk bersiap tidur, tak sengaja kulihat bunga mawar yang aku taruh di sebuah gelas yang kuisi air dan kuletakkan di meja rias. Tiba-tiba hatiku disengat rindu yang berat sekali. Seharian ini tidak ada kabar dari kak Rania, dia pun tak menepati janjinya untuk memberiku kabar setibanya di Surabaya.

Aku menghibur diriku sendiri, “pasti kak Rania sedang sibuk sekali hari ini.” Lalu kupejamkan mata dengan segera, aku tak ingin pikiran lain masuk dan menggelisahkanku malam ini.

 

Sampai hari ke 4 kak Rania di Surabaya namun tak satu kabarpun ku dapat darinya. Aku sangat merindukannya hingga membuatku merasa sangat kesepian. Rasanya seperti ada yang tidak lengkap denganku, ada bagian yang kosong selama kak Rania tak ada. Dengan rutinitas pekerjaan pelayanan yang kulakukan setiap hari pun tak bisa mengurangi rasa rinduku pada sosok kekasih hati, karena tiap waktu aku tak bisa mengeluarkannya dari pikiran.

Sesekali aku menghibur diri dengan membayangkannya pulang, kita makan malam berdua sambil ngobrol seperti biasa. Aku juga membayangkan menyerahkan sepatu yang baru kubeli untuknya sebagai bentuk apresiasiku atas kerja kerasnya selama ini. Namun semua khayalan itu hanya membuat rinduku semakin bertambah menyiksa.

Lalu kuberanikan diri untuk menghubunginya melalui telpon, namun sampai 3 kali ku coba tak ada yang diangkatnya. Ini yang membuatku tak bisa lagi berpikiran baik padanya, kecurigaan menguasai hampir seluruh hati dan pikiran. Marah, kecewa, cemburu, rindu dan kesedihan yang sekaligus kurasakan membuatku menangis tersedu di dalam kamar.

Kesedihanku bertambah besar ketika aku tak bisa berbagi cerita kepada siapapun saat ini. Aku tak bisa bercerita kepada Windy, atau kak Adi, atau sahabatku yang lain tentang apa yang kurasakan. Semuanya harus kurasakan dan kujalani sendiri, dan untuk kesekian kalinya aku begitu membenci diriku sendiri yang belum bisa memberitahu setidaknya seorang dari sahabatku tentang hubunganku dengan kak Rania.

Aku menangis hingga tertidur dan terbangun ketika panggilan telpon berdering. Aku lupa menaruh HP dimana dan ini membuatku kesulitan menemukannya. Aku hanya mengikuti arah suara dari ringtone HP, dan tepat ketika aku berhasil menemukannya yang tertindih bantal maka sambungan panggilan terputus.

Tapi kemudian telpon kembali bordering, di layar HP terlihat nama kak Rania.

“Halo…” aku terkejut karena suaraku sengau.

“Haloo sayang, kamu flu?? Maaf ya tadi nggak tahu ada telpon, aku lagi pimpin diskusi tadi.”

“Nggak… aku nggak apa-apa. Oh, ya udah.”

“Kamu lagi apa yang?”

“Lagi nunggu kabarmu.” Jawabku ketus.

“Maaf ya sayang, disini lagi sibuk banget soalnya.”

“Oh…”

“Kamu marah ya?”

“Nggak.”

“Duh yang, bentar ya… ini kami mau lanjut acara lagi.”

Aku melirik jam dinding yang menunjukkan sudah pukul 8 malam, “Masih ada acara lagi? Kamu jadi pulang hari ini kan?”

“Aduh, aku pulang besok akhirnya yang. Habis gimana lagi, ini aja paling selesai jam 10an.”

“Oh ya udah terserah.”

“Nanti ku telpon ya, janji ku telpon.”

Lalu aku memutuskan sambungan telpon tanpa menjawab sepatah katapun.

 

Benar saja, pukul 10 malam kak Rania kembali menghubungiku. Tapi suasana hatiku tak kunjung membaik,

“Sayang, jangan marah dong… besok pagi aku janji pulang.”

“Terserah kok kamu mau pulang kapan.”

“Tuh kaaan kamu gitu, besok kita pergi berdua ya. Aku rindu sama kamu yang, jangan marah terus dong…”

“Udah lah, nggak usah bilang kaya gitu. Aku udah capek. Kamu nggak bisa tepati janjimu ke aku. Kamu nggak kasih kabar sama sekali dan sekarang bilang telat pulang, terserah…”

“Ya sudah aku minta maaf karena nggak kasih kabar sama kamu, tapi kali ini bener-bener aku nggak bisa pulang yang, besok pagi-pagi deh aku jalan.”

“Iya, ya sudah… suasana hatiku sedang nggak baik,” aku berharap kak Rania menutup telpon.

“Kamu kenapa sih yang? Kamu curiga sama aku?”

“Sejujurnya iya,” jawabku lirih.

“Karena aku disini sama Natalia?”

“Kamu pikir saja sendiri.” Aku semakin ketus.

“Sayang, kami hanya teman. Kita juga sudah bicarakan hal ini sebelumnya kan?! Kenapa kamu masih nggak percaya??”

“Kamu yang bikin aku nggak percaya. Sikapmu itu seakan-akan kamu tak menghargaiku sebagai pacarmu.”

“Sikap yang mana???”

“Coba aku ingat, barangkali aku yang salah. Kamu selalu bisa membalas pesan dari Natalia sekalipun kamu sedang denganku, tapi itu nggak berlaku bagiku. Kamu bahkan nggak bisa sekedar memberiku sebuah pesan selama kamu dengannya yang jelas-jelas kamu tahu akan membuatku cemburu.”

“Yang, bukan begitu…”

Aku memotong pembicaraannya, “Sudahlah, aku sedang nggak ingin mendengarkan penjelasan apapun sekarang, maaf. Lebih baik kita sendiri dulu saja sekarang.”

“Nggak… nggak bisa kaya gitu donk yang, aku nggak mau putus denganmu hanya karena alasan seperti ini.”

“Beri aku waktu…” dan aku tak menantikan lagi apa yang akan dikatakan kak Rania, segera telpon kumatikan.

Kak Rania mencoba menghubungiku lagi namun tak kuhiraukan, lalu dia mengirimkan pesan melalui BBM

Nad, aku cinta sama kamu, semoga suasana hatimu segera membaik. Besok aku pulang dan kuharap kita bisa bertemu. Aku merindukanmu.

Dan aku hanya bisa menangis seperti biasanya. Aku sendiri juga tak mengerti apa yang sedang kurasakan. Mungkin aku memang terlalu merindukannya atau mungkin juga karena aku terlalu takut kehilangannya. Aku merasa sikapnya selama ini terhadap Natalia terlihat seperti dia masih mencintainya, dan itu yang selalu membuatku cemburu.

Aku memang perlu waktu sendiri untuk memastikan perasaanku kali ini. Aku mencintainya, sangat mencintainya bahkan, namun aku juga tak mau selalu terbakar cemburu seperti ini. Terlalu menyakitkan bagiku jika terjebak dalam kecurigaan yang tak pernah bisa kuatasi, maka malam ini kuputuskan untuk berdiam diri dalam doa untuk menenangkan diri.

 

Gelap akansegera berjumpa dengan fajar

Mengakhiri sebuah perjalanan dingin nan sepi,

Aku termenung dalam semburat sinar

Terkungkung dalam sebuah rasa benci

 

Bangunlah sayang, malam ini tak lagi gelap

Tengoklah ke jendela, semuanya membara bagai amarah,

Jangan menghampiri tangis dan jangan coba mengusap

Aku tak ada waktu berdialog denganmu dalam gundah

 

Siapakah dirimu???

Yang mencumbuku dengan api

Siapakah dirimu???

Yang membelaiku dengan belati

(Sang Amarah)

 

 

 

Bersambung…

 

 

 

Puisi : Ironi.. (kelompok 3)

Budaya itu selalu dilakukan
Namun selalu berwajah muram
Sejatinya ia tidak terlahir dalam semalam
Tetapi senantiasa hanya diceritakan dalam diam

Ketika dua insan sejenis berkelindan
Atas dasar penghormatan dan kebudayaan
Maka wajarlah itu adanya
Maka hiduplah keduanya

Tetapi pabila dua insan sejenis berkelindan
Dengan cinta sebagai alasan
Maka murkalah yang diterimanya
Maka matilah keduanya

Tidak bisakah keduanya abadi
Dalam raga..
Dalam rasa..
Dalam cinta…

 

 

 

Perempuan Berparas Tampan : Cemburu (bagian 7)

Oleh : Joshua Intan

“Sayang, tunggu ya aku angkat telpon dulu…” sambil berlari menjauh tanpa menantikan jawaban dariku.

Aku hanya bengong saja di depan pintu masuk bioskop, karena sampai beberapa waktu belum juga kulihat tanda-tanda bahwa kak Rania akan mengakhiri percakapannya di telpon lalu akupun memutuskan untuk masuk terlebih dahulu sambil membeli tiket.

Dua tiket sudah ada ditangan, dan film akan diputar sekitar 3 menit lagi. Dari kejauhan kak Rania melihatku dan aku memberikan tanda supaya dia bergegas dengan melambaikan tiket yang kupegang. Namun kak Rania hanya membalas lambaian tangan yang kuartikan sebagai “tunggu dulu”. Dengan sedikit tak enak hati aku duduk di kursi tunggu.

5 menit kemudian kak Rania berlari ke arahku,

“Sorry ya, tadi si Natalia, ngobrolin kerjaan.” Lalu duduk di sampingku.

Entah kenapa aku jadi begitu kesal ketika kak Rania mengatakan bahwa telpon tadi dari Natalia. Aku tahu Natalia adalah rekan sekerja kak Rania yang ada di Jakarta, mereka sering ngobrol lewat Line, BBM dan sering telponan. Terkadang memang membicarakan pekerjaan tapi seringkali Natalia hanya curhat pribadi.

“Ayo masuk, kita udah telat beberapa menit.” Jawabku singkat.

Kak Rania suka sekali mengomentari film yang sedang kami lihat sewaktu film masih di putar, entah membicarakan aktornya, acting nya, atau efek-eefek dan juga menebak-nebak jalan cerita nya akan bagaimana. Biasanya aku juga akanmenimpali dan kita akan tertawa berdua, tapi kali aku hanya diam saja. Karena masih merasa dongkol dengan apa yang baru saja terjadi.

“Yang, kok kamu diem aja sih??” kak Rania menggenggam tanganku.

Aku hanya menggelengkan kepala tanpa melihat ke arahnya. Lalu kak Rania mencium punggung tanganku. Saat kak Rania diam saja dan berhenti berkomentar maka aku merasa tak enak padanya, sudah hampir aku membuka mulut untuk memulai percakapan dengannya tiba-tiba genggaman tangannya dilepaskan dan dia merogoh-rogoh saku celananya.

HP sudah di genggaman tangannya lagi dan kemudian dia sibuk membalas pesan yang masuk. Lagi-lagi aku dongkol jadinya, dalam hati bertanya siapa sih yang sedang menghubunginya sampai-sampai saat nonton pun harus membalas. Sepenting apa pesan itu sehingga tidak bisa ditunda nanti saja. Sempat curiga dalam hati jangan-jangan Natalia yang sedang mengirim pesan, dan aku juga kehilangan konsentrasi melihat film saat ini.

Sampai film usai dan kami duduk ditempat makan kak Rania masih sibuk sekali dengan HPnya, dan ini membuatku sangat tidak nyaman,

“Sibuk banget sih dari tadi…” celetukku.

Meletakkan HPnya, “Duh, iya nih si Natalia… dia ngobrolin kerjaan.” Lalu memandangku yang belum menyantap makanan yang kupesan, “kok belum dimakan?”

“Nanti aja, nunggu kamu selesai, biar makan bareng.” Kujawab dengan ketus.

“Ya udah yuk makan…” tapi kemudian HPnya berdering dan kak Rania seketika melirik bergantian antara layar HP dan aku.

Sudah tak dapat kusembunyikan lagi raut kesal di wajahku, “Siapa?? Natalia??”

Kak Rania memegang tanganku, “Sebentar ya sayang…” lalu mengangkat telpon.

Entah kenapa rasanya aku tak ingin mendengarkan percakapan mereka berdua, aku tak perduli apakah itu masalah pekerjaan atau masalah diluarnya. Aku berdiri menuju ke toilet demi untuk menghindari mendengar percakapan mereka. Saat aku berdiri meninggalkannya, kak Rania sempat memegang tanganku namun tak kuhiraukan pun tak kupandang lagi dia.

Natalia bukan sekedar rekan kerja kak Rania, dulu mereka pernah berpacaran sampai akhirnya putus. Usia pacaran mereka pun cukup lama, hampir 5 tahun. Aku tak tahu persis kenapa mereka mengakhiri hubungan, yang aku tahu semenjak mereka putus 2 tahun yang lalu, mereka masih sering berkomunikasi. Bahkan dari cerita kak Rania beberapa kali mereka masih saling mengirimkan hadiah di hari ulangtahun masing-masing.

Setelah kurasa cukup lama aku tak melakukan apa-apa di toilet, aku lalu kembali ke meja tempat kami makan. Diluar dugaan, kak Rania masih saja bercakap-cakap di telepon, akhirnya aku hanya bisa menyantap lebih dahulu makananku. Namun tak berapa lama kemudian, kak Rania menutup telponnya.

Kembali dia memegang tanganku yang langsung ku kebaskan dan berpura-pura menikmati makanan. Aku tak ingin memandang wajahnya saat ini, rasanya ada yang mau meledak dari dalam hati.

“Sayang, kamu marah ya?”

Mendengar pertanyaan itu sama sekali tak meredakan amarahku, namun aku hanya menggelengkan kepala tanpa mengatakan apapun.

“Itu tadi Natalia, kami lagi ngobrolin kerjaan kok… kan aku udah bilang sama kamu kalau tinggal beberapa minggu lagi kami ada kegiatan di Surabaya, nah ini kami lagi ngobrolin masalah itu.”

Aku meletakkan sendok dan garpu ditangan, “Aku pengen pulang, mendingan kamu buruan habisin makanan kamu.”

“Lho kok pulang, kamu marah ya?!?!”

“Enggak… udah pokoknya aku pengen pulang…”

“Sayang, kan kita belum ngobrol…”

“Nggak usah, kamu ngobrol aja sama temen kamu itu, kan kamu lagi sibuk.” Aku semakin ketus.

“Ini udah enggak lagi kok, ayolah sayang kamu jangan marah dong… kan ini masalah kerjaan.” Kak Rania merajuk.

“Iya, ya udah kan kamu lagi banyak kerjaan, jadi kamu selesein aja kerjaanmu. Lain kali jangan ajak orang keluar kalau kerjaanmu lagi banyak.”

Kali ini tak ada jawaban dari kak Rania, namun dia langsung berdiri, “Ya udah, ayo pulang.”

Aku yang tak bisa membaca apa maksud dari kak Rania akhirnya menengadahkan kepala untuk melihatnya, “Makanannya di habisin dulu.”

“Nggak usah, kita pulang aja.” Terdengar sedikit kecewa.

Tapi akupun juga tak mereda, karena bagiku memang aku layak merasa kesal dengan apa yang terjadi. Wajar saja jika aku kesal dan cemburu, ini adalah waktu kami berdua untuk berkencan, namun dia masih saja sibuk dengan pekerjaannya bahkan bersama mantan pacarnya.

Di dalam mobil saat perjalanan pulang kami tak bicara sepatah katapun. Aku tak tahu persis apa yang dirasakan kak Rania saat ini, yang pasti aku hanya punya perasaan marah dan kecewa atas apa yang baru saja terjadi. Sesampainya di pastori pun aku tak mengatakan apa-apa kecuali terima kasih, sedang kak Rania tak mengatakan apapun dan langsung tancap gas secepat mungkin setelah aku turun dari mobil.

Karena merasa sangat marah dan sangat kecewa, akupun segera mandi air hangat seperti biasa dan bergegas naik ke tempat tidur. Lalu tak sengaja aku melihat jadwal di samping tempat tidur, dan aku mengumpat,

“Ck… sial, besok mimpin doa pagi pula… argh…” dan mau tak mau akupun langsung mengambil Alkitab dan membaca bahan renungan untuk besok pagi.

Sulit sekali berkonsentrasi saat suasana hati sekacau ini, beberapa kali kulirik HP ku namun sama sekali tak ada tanda-tanda kak Rania mencoba menghubungiku. Aku tak mengerti bagaimana bisa dia diam saja tanpa mengucapkan permitaan maaf atas kacaunya jadwal kencan kami hari ini, atau sekedar mengucapkan selamat malam atau apa yang mungkin bisa sedikit meredakan marahku.

Karena tak kunjung ada kabar dari yang diharapkan dan aku sulit menjaga fokus menyiapkan bahan renungan maka kumatikan saja HP ku. Sempat berpikir apakah aku harus memulai menghubungi kak Rania, namun segera kuurungkan niatku itu karena gengsi dan ingin menunjukkan padanya betapa marahnya aku.

Malam ini seperti berjalan sangat lamban, entah memang seperti itu atau karena aku yang gelisah sepanjang malam hingga tak kunjung bisa memejamkan mata. Yang aku tahu sesaat setelah aku berhasil tertidur lalu alarm berbunyi. Dengan sekuat tenaga aku berjuang menuju kamar mandi, melawan kantuk dan kepala yang berat untuk bersiap-siap melaksanakan tanggung jawab di pagi ini.

Tepat pukul 05.30 doa pagi dimulai, jemaat yang hadir pun seperti biasanya, aku hafal seluruh jemaat yang hadir karena memang setiap hari hanya wajah-wajah inilah yang datang. Jumlahnya yang tidak terlalu banyak, hanya berkisar 15-20 orang setiap hari membuat doa pagi ini terasa seperti mezbah keluarga, jadi suasana yang tercipta adalah suasana hangat dan santai. Aku hampir melupakan semua kekesalanku semalam ketika menikmati memimpin di doa pagi saat ini.

2 jam kemudian aku sudah kembali merebahkan badan di atas tempat tidur, sebenarnya ibadah pagi hanya memerlukan waktu satu jam, namun seperti biasanya pula para majelis gereja maupun jemaat yang datang akan mengajakku ngobrol sambil menikmati jamuan pagi yang sudah disiapkan oleh gereja.

Kepala rasanya berat sekali dan mata sudah tak bisa diajak kerjasama lagi, maka akupun tertidur pulas sesaat setelah menjatuhkan badan ke tempat tidur.

Aku baru terbangun lagi pukul 12 siang lantaran naga dalam perut sudah berontak. Setelah berhasil mengumpulkan nyawa aku lalu ke kamar mandi untuk mandi lagi, sembari mandi aku sudah membayangkan akan makan bakso di depan gereja. Cuaca di luar sudah pasti panas saat ini, tapi entah kenapa aku malah ingin makan bakso pedas.

Usai mandi aku menyalakan HP yang sudah mati sejak semalam, dan banyak sekali notifikasi yang masuk. Dari BBM, Line, Whatsap, Fb dan lain-lain. Namun yang membuatku sedikit bersemangat adalah pesan-pesan dari kak Rania yang dikirimkan sepanjang pagi untuk menyapaku, menanyakan kabar dan akhirnya mengajakku makan siang.

Saat hendak membalas ajakannya, tiba-tiba telpon masuk,

“Halo…” sapaku sedikit malas namun sesungguhnya sangat gembira.

“Halo sayang, kok HP mu nggak aktif sih daritadi? Kamu lagi apa? Masih marah ya?” suara kak Rania terdengar cemas.

“Oh… enggak… lupa nyalain, aku juga baru selesai mandi.”

“Kamu baru bangun yang? Serius? Nggak di cari orang kantor memang?”

“Aku tadi udah pimpin doa pagi, trus tidur lagi.”

“Oh… makan yuk… aku jemput ya, kamu mau makan apa?”

“Hmmm kamu nggak ke kantor? Boleh deh makan apa aja.”

“Ini dari kantor, aku jemput sekarang ya, kita makan…mmm… makan Bakso aja yuk…”

“OK.” Dalam hatiku langsung jejingkrakan.

 

Setelah bakso habis kami santap,

“Yang, boleh bicara masalah kemarin??” kak Rania terlihat serius.

“Iya boleh.” Jawabku.

“Jadi, kamu kemarin marah gara-gara telpon dari Natalia?”

Membahas masalah ini membuatku merasakan sedikit kemarahan yang tersisa, dan aku hanya diam saja tak bereaksi sembari menahan amarah.

“Kamu kan tahu Natalia itu sama aku ada kerjaan, kok kamu masih marah sih yang? Apa yang bikin kamu marah? Tolong dong kamu ngomong biar aku tahu.”

Kuhela nafas dalam, “Kemarin kan jadwal kita kencan, tapi kamu malah sibuk sama kerjaan kamu, ya wajar kalau aku kesal.”

“Cuman itu? Atau ada lagi?”

“Oh iya, aku nggak suka kamu komunikasi terus sama Natalia.”

“Kamu cemburu?”

“Kamu masih cinta sama dia? Lalu kenapa kalian putus? Ya udah kalau kamu masih cinta sama dia ya kalian balikan aja.” Aku naik pitam seketika.

“Yang, kok kamu gitu sih?? Aku sama Natalia udah nggak ada apa-apa, aku sama sekali nggak ada perasaan apa-apa lagi sama dia kecuali sebagai seorang sahabat. Nggak ada salahnya kan kalau kita sekarang menjadi teman?!?!”

“Aku nggak tahu ya apa kalian temenan atau apa, tapi sikap kalian yang masih saling kasih perhatian itu aku nggak suka. Jangan-jangan memang kalian masih saling cinta.”

“Kamu jangan kaya gitu donk, kamu sama aja sudah merendahkanku. Apa kamu pikir aku nggak bisa menjaga komitmen kita?”

“Apa kamu pikir dengan kalian yang masih sering membahas masa lalu itu nggak bikin aku cemburu? Kamu nggak menghargai aku yang, aku kan pacarmu.”

“Bukan begitu, aku tetap sama kamu dan aku tetap cinta sama kamu. Tentang Natalia semua sudah lewat, dan aku nggak akan menghianatimu. Please kamu percaya…”

Aku sudah ingin menangis sampai kak Rania meremas tanganku,

“Aku mencintaimu Nadia… Aku akan menjaga komitmen kita berdua, jadi percayalah. Aku nggak akan menghianatimu, sungguh.”

Kata-kata kak Rania dan tatapan mata yang kulihat saat ini memang mengatakan kejujuran. Ada yang membuat hatiku menjadi nyaman kembali dan lebih tenang saat ini. Sekalipun aku tak tahu apakah aku bisa tidak cemburu pada Natalia lagi, namun aku ingin percaya pada kak Rania. Aku merasakan getaran cintanya yang tulus setiap waktu semenjak kami bersama, dan bagiku itu cukup untuk membuatku percaya padanya.

 

 

Sayang, semenjak kau masuk ke ruang utama hatiku

Semenjak itulah aku menjadi irisan nadimu

Aku adalah denyutmu

Akulah bagian yang tak kan terlepas dari deburan jantungmu

Jadi, untuk apa kau termenung dan ragu?

Bisakah nadi dan jantung itu meninggalkanmu

Jika kau tidak mati??

Sedang aku rela terpenjara hingga akhirmu nanti

(Sayang percayalah)

 

 

Bersambung…

Perempuan Berparas Tampan : Memulai Sebuah Kisah Cinta (Bagian 6)

Oleh : Joshua Intan

Entah kau yang menemukannya

Atau dia yang menemukanmu

Hatimu akan tahu bagaimana menyambutnya

Kalian akan berjumpa di ujung jalan baru

Yang setengahnya usai kalian jalani,

Dan pada saat itu kalian akan berhenti menanti

Peluklah erat, ciumlah lembut

Cinta terkadang menempuh jalan berat, namun akan berakhir ketika dua hati saling menyambut

(Kisah Romatis)

 

Akhirnya aku dan kak Rania resmi berpacaran. Sungguh bahagia rasanya bisa menjadi bagian yang penting dalam hidup seseorang dan juga memiliki bagian yang penting dalam hidup kita sendiri. Sungguh tidak pernah kusangka akan berpacaran dengannya, aku tak pernah berharap sejauh ini sejak aku merasakan cinta pandangan pertama padanya. Dan aku bersyukur jika sekarang kami sedekat ini.

Kami begitu berbeda dalam banyak hal, mulai dari hobby, kebiasaan, beberapa juga selera dan pandangan. Misalkan saja dia suka sekali bersepedajuga melakukan aktivitas di alam terbuka seperti naik gunung dan berjalan kaki ketika sedang ditempat wisata, sedangkan aku yang jarang bahkan hampir tidak pernah olahraga sangat alergi dengan yang namanya capek.

Kak Rania orang yang sangat santai dan bebas, maksudnya jika ada perkerjaan dia suka mengerjakannya dengan santai, bukan berarti dia tidak bertanggung jawab melainkan dia selalu ingin mengerjakannya dengan hasil terbaik, jadi dia akan benar-benar menanti mood terbaik untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia tak suka di atur, bahkan dia kadang hidup dengan tak teratur seperti sering terbalik jam tidur. Sedangkan aku sedari kecil terbiasa hidup disiplin, harus mengerjakan semua tepat waktu dan terbiasa hidup teratur.

Memang agak sulit menjalin relasi dengan perbedaan-perbedaan yang ada, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan rasa cintaku padanya. Makanya walaupun sering terlibat pertengkaran kecil, tapi selalu berakhir dengan baik lagi. Kami hanya perlu banyak ngobrol untuk mengerti satu sama lain. Nah ini juga masalah, aku orang yang cukup sulit menceritakan tentang kesedihan, ataupun hal-hal pribadi dengan oranglain termasuk kak Rania, sedang kak Rania adalah orang yang selalu berusaha membuatku mau mengungkapkan setiap apa yang kurasakan padanya. Dia ingin kami saling membagi kisah hidup berdua. Dan sejak saat kami berelasi, aku memang melatih diri untuk mampu mengungkapkan apa yang kurasakan padanya karena memang ini baik untuk dilakukan.

Kak Rania mungkin bukan cinta pertamaku, karena seperti yang pernah kuceritakan bahwa cinta pertamaku adalah pada sosok wanita sewaktu aku SMA yang tak sempat ku ungkapkan. Tetapi kak Rania adalah orang pertama yang membuatku jatuh cinta sehebat ini, yang membuatku begitu tergila-gila padanya, yang membuatku belajar banyak hal dalam memahami orang lain yang berbeda denganku, yang selalu membuatku berusaha menjadi yang terbaik dimatanya dan yang tidak bisa lepas dari pikiranku. Dia begitu special untukku.

Hari ini kami akan jalan-jalan ke Yogyakarta, kami janji bertemu di stasiun kereta api jam 4 pagi untuk membeli tiket kereta api yang paling pagi. Awalnya aku agak ragu apakah kak Rania bisa menepati janjinya, mengingat dia ternyata sulit sekali bangun pagi. Tapi sungguh di luar dugaan, saat aku sampai di stasiun jam setengah 5 pagi, ternyata kak Rania sudah duduk di salah satu kursi tunggu disana.

“Lho… udah sampai sini???” aku menghampirinya.

“Iya dong, nih udah dapet tiketnya, jam 6 nanti kita berangkat.” Kak Rania tersenyum puas sambil melambaikan tiket ditangannya kepadaku.

“Wow… bangun jam berapa tadi?” aku masih saja tak percaya melihatnya sudah rapi sepagi ini.

“Hehehe aku nggak tidur, selesai kita telponan itu aku langsung ngerjain sesuatu, soalnya kalau tidur nanti takutnya nggak bisa bangun.”

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengarnya, dalam hati senang sekali karena demi jalan-jalan denganku dia rela tak tidur. Tapi aku juga merasa kasihan padanya.

“Oh iya, sebentar…” kak Rania membuka tas dan mengaduk-aduk isinya lalu menarik keluar botol minum dari dalam tas, “nih, coklat panas kesukaanmu. Tadi aku buat sebelum berangkat.”

Ini sudah bukan bahagia lagi namanya, entah bagaimana menyebutnya dalam kata-kata. Bagaimana aku menggambarkan perasaanku ini, aku merasa begitu istimewa dan beruntung memilikinya sekarang. Aku sempat terpaku beberapa saat sambil menggenggam botol berisi coklat yang memang masih terasa panas di tanganku,

“Hush… ngelamun, ayo diminum nanti keburu dingin, soalnya botol minum itu nggak tahan panas.” Kak Rania membuatku tersadar dari lamunan.

Lalu kami minum berdua sambil menanti kereta datang. Pukul 6 kurang kereta api kami datang, dan kami langsung naik. Beruntung kami masih mendapatkan tempat duduk, memang biasanya kereta Solo-Yogyakarta sangat padat penumpang apalagi untuk jadwal pagi di hari senin seperti ini, itulah kenapa kami harus berangkat sepagi mungkin dan harus berlari menaiki kereta secepat mungkin supaya kami bisa kebagian tempat duduk.

Kereta berangkat pukul 6 tepat, kak Rania memasang headset ke telinga kami lalu memutar lagu. Karena semalam aku tidur cukup larut sedang kak Rania sama sekali tak tidur maka tak berapa lama setelah kereta melaju kami pun tertidur pulas.

Kami tiba di stasiun Tugu Yogyakarta pukul setengah 8 pagi, dan melanjutkan perjalanan menuju museum benteng Vredeburg dengan berjalan kaki. Ide liburan ke museum adalah usulan kak Rania, sebenarnya aku kurang tertarik pergi ke museum dan lebih memilih liburan ke pantai atau karena kita di Yogyakarta mungkin bisa berbelanja batik seperti yang biasa kulakukan bersama teman-teman. Tapi tak apalah, bagiku asal bisa bersama-sama menghabiskan waktu dengan kak Rania makanya aku nurut saja.

Ternyata sangat melelahkan berjalan dari stasiun ke museum, beberapa kali kak Rania menawariku berhenti sebentar untuk beristirahat. Keringat sudah membasahi badan dan kaki terasa mulai nyut-nyutan ketika kami tiba di dekat museum, sedang kulihat kak Rania baik-baik saja.

“Makan dulu yuk sayang, sarapan ya…” kak Rania mengajakku makan di sekitar museum.

Aku mengangguk-angguk dan tak sanggup bicara karena nafas sepertinya juga tinggal sedikit. Kami duduk di warung tenda kaki lima, kak Rania memesan nasi pecel, sedang aku yang tak suka sayur dan tak berselera makan karena capek cuma memesan teh panas manis.

“Lho, kok nggak makan sih? Itu lho ada bakmi, nggak mau?”

“Nggak deh, aku nggak laper, minum teh panas aja ya yang, sepertinya aku lemes.”

“Capek ya jalan, padahal cuma deket lho…”

“Kan aku nggak biasa, jadi ya maklum dong capek.” Entah kenapa aku merasa sedikit dongkol.

“Ya udah minum dulu teh nya, biar seger.” Kak Rania menyodorkan teh pesananku lalu mengusap rambutku.

Usai makan kami langsung menuju museum yang terletak di depan Gedung Agung dan Kraton Kesultanan Yogyakarta tersebut , kak Rania selalu memegang tanganku saat kami berjalan dan aku kembali merasa bersemangat karenanya. Kami melihat banyak diorama di dalam museum, membaca sejarah perjuangan warga Yogyakarta mengusir penjajah dan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Yogyakarta sewaktu berjuang untuk menuju satu kata “Merdeka.”

Museum yang memiliki luas kurang lebih 2100 meter persegi ini memiliki beberapa bangunan dan kak Rania antusias sekali mengelilingi setiap bangunannya. Mulanya aku juga antusias melihat diorama dan membaca setiap penjelasan yang tersedia di dekat setiap diorama, namun lama kelamaan aku merasa capek. Udara hari ini juga sangat panas, yang membuat kepalaku mulai merasa pusing. Namun melihat kak Rania yang begitu bersemangat, akupun tak berani mengatakan padanya bahwa aku perlu istirahat.

Aku lalu duduk-duduk di kursi yang ada di dalam bangunan tempat kami sekarang berada, dan sepertinya kak Rania mulai paham,

“Capek yang? Ayok istirahat di luar aja,biar dapet angin.” Dan kak Rania membawaku keluar dari bangunan.

Kami duduk-duduk di halaman museum, tepat di bawah pohon yang sangat sejuk. Aku menikmati terpaan angin yang segar sambil terus mengenggam tangan sang kekasih,

“Kok badanmu panas?” kak Rania lalu memegang keningku, “kamu sakit?” aku melihat dia begitu kuatir.

Menggelengkan kepala, “mungkin karena udaranya panas ya, jadi aku agak pusing, tapi nggak apa-apa kok, cuma perlu istirahat sebentar.”

“Kok nggak bilang dari tadi kalau capek? Kamu nggak suka ya jalan-jalan disini?” nada bicaranya sekarang terdengar bahwa dia merasa bersalah membawaku ke tempat ini.

“Enggak kok sayang, enggak… aku suka kok, mungkin karena aku nggak biasa jalan aja ya jadi gini,” aku segera meyakinkan kak Rania yang sangat cemas sekarang.

“Kamu mau minum teh lagi? Aku beli diluar ya?!”

“Nggak usah, minum air putih aja yang tadi kita beli diluar.”

Kak Rania dengan sigap memberiku air mineral yang tadi sempat kami beli di Malioboro. Dia juga memijit-mijit tanganku, lalu berdiri dan memijit pundakku. Aku merasa agak sungkan ketika dia memijit pundakku,

“Yang, nggak perlu dipijit pundaknya, kamu duduk disini aja.” Aku memintanya duduk kembali disampingku yang kemudian dilakukannya.

“Jangan-jangan kamu pusing karena bawa tas yang, aku bawain aja ya tas mu.” Lagi-lagi dia menawarkan bantuannya yang semakin membuatku merasa tak enak. Tak enak karena liburan kami harus sedikit tidak menyenangkan karena aku yang kelelahan.

“Kamu kan juga bawa tas, masa bawa dua sih…”

“Ya nggak papa, daripada kamu pusing.” Lalu kak Rania tertarik dengan sesuatu yang ada di bangunan paling depan dari museum, “yang, itu apa sih?” sambil clingak-clinguk.

Aku melihat kearah yang dimaksud, ada beberapa orang yang mengantri masuk ke bangunan tersebut, tapi aku tak tahu ada apa disana. Karena sangat penasaran,

“Yang, aku liat kesana dulu ya.” Kak Rania meminta ijinku yang kusambut dengan anggukan kepala ditambah senyuman.

Tak butuh waktu lama, kak Rania sudah kembali lagi duduk disampingku sambil matanya berbinar,

“Yang, ternyata itu pemutaran film pendek tentang isi museum ini lho. Sudah mau di putar, yuk kita liat aja, jadi nggak perlu jalan lagi buat lihat sisa museum yang tadi belum kita lihat, gratis juga kok.” Lalu kami berdua menuju gedung tempat pemutaran film pendek.

Begitulah liburan kami hari ini, sebenarnya rencana awal kami akan mengunjungi taman pintar untuk belanja buku. Aku dan kak Rania sama-sama suka baca buku, sewaktu aku tertarik dengan salah satu buku koleksi kak Rania, dia bilang bahwa buku itu cukup sulit di dapat, dulu dia beli di Taman Pintar makanya kami juga memasukkannya ke daftar tujuan liburan kita.

Tapi karena untuk menuju taman pintar kami juga harus berjalan kaki lagi sebab letaknya berdekatan dengan museum sedang staminaku tidak baik maka kak Rania membatalkan tujuan yang satu itu. Sebagai ganti karena hari masih siang dan sayang jika langsung pulang maka kak Rania membawaku ke Ambarukmo Plaza memakai bus Trans Yogyakarta yang haltenya dekat dengan museum. Aku sering bercerita padanya bahwa aku suka sekali makan nasi bakar di salah satu outlet di Ambarukmo Plaza, maka sebagai menu makan siang kami kak Rania membawaku kesana.

Usai makan siang kami sempat bertemu dengan beberapa teman kak Rania yang tinggal di Yogyakarta. Kami bertemu di Plaza tempat kami makan. Mereka membicarakan banyak hal dari hal-hal pribadi sampai pekerjaan yang sama-sama sedang mereka geluti. Aku senang berjumpa dengan teman-teman kak Rania, sekalipun terkadang aku nggak ngerti apa yang sedang mereka bahas tapi aku senang duduk bersama mereka.

Kami kembali ke stasiun Tugu jam 6 sore untuk mengejar kereta jam 8 malam, setelah membeli tiket sembari menanti kereta datang kami minum coklat panas yang kak Rania bilang enak. Dan sepakat, memang coklat disini enak sekali, ditambah lagi ngobrol berdua dengannya, lengkap sudah semuanya.

Kak Rania baik sekali, aku sangat beruntung memilikinya. Dia sungguh belajar memahamiku dan selalu memperhatikanku. Aku merasa sangat dicintai ketika berada di dekatnya. Tetapi ada perasaan yang aneh di dalam hatiku, perasaan bersalah yang sangat besar. Aku belum bisa mengatakankepada orang lain tentang hubunganku dengan kak Rania. Aku takut untuk mengakui bahwa aku mencintai seorang perempuan dan sedang menjalin relasi dengannya di hadapan teman-teman bahkan sahabatku yang sebagian besar orang gereja. Aku sungguh merasa bersalah pada kak Rania.

 

 

 

Bersambung…