Bangun koneksi, Gerak Bersama 4th Young Queer Faith and Sexuality Camp 2017

YIFoS Indonesia mengadakan kegiatan 4th Young Queer Faith and Sexuality Camp (Queer Camp) pada tanggal 11 sampai 18 Agustus di Kota Bogor, Jawa Barat. Kegiatan kemah yang diikuti oleh sekitar 30 anak muda dari beragam identitas mengusung tema ‘Bangun Koneksi, Gerak Bersama’ harapanya adalah dengan membangun koneksi dapat membantu kerja-kerja YIFoS Indonesia bersama komunitas dan jaringan untuk bergerak bersama dalam merayakan keberagaman iman dan seksualitas.
Dalam kegiatan ini, peserta saling berbagi pengetahuan bersama trainer, narasumber serta fasilitator terkait materi-materi kemah, diantaranya; Ketubuhan, Identitas dan relasi kuasa, Sejarah seksualitas, SOGIE dan HKSR, Perspektif Iman terhadap seksualitas, serta HAM terkait keberagaman iman dan seksualitas. Selain materi-materi tersebut, peserta juga mendapatkan program pengembangan kapasitas melalui workshop-workshop yang dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan kemah.

Field Trip

Sebuah sarana mendorong peserta untuk mengenal dan terlibat langsung dalam lingkungan yang penuh keragaman identitas iman dan seksualitas. Dalam kesempatan Queer Camp ditahun keempat ini, YIFoS Indonesia bersama peserta kemah berkesempatan mengunjungi komunitas Sunda Wiwitan dan komunitas Transvoice.

‘Air mata yang memadamkan api kebencian’…

diluar dugaan, lokasi yang kita kunjungi dalam kondisi mengenaskan, tempat berkumpul teman-teman komunitas sunda wiwitan telah dirusak dan dibakar oleh oknum ormas intoleran, tepat beberapa hari sebelum peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-72. Lalu, masihkah kita mengaku merdeka disaaat saudara-saudara kita mendapatkan diskriminasi dan kekerasan berbasis kebebasan beragama dan berkeyakinan?

WhatsApp Image 2017-08-24 at 11.33.42
Foto 1 ; Pasca perusakan dan pembakaran aset sunda wiwitan

Sampai kapan kita akan terus menebarkan kebencian terhadap sesama manusia? bukankah lebih baik kita sama-sama bergerak membangun peradaban bangsa agar lebih baik?

 

 

 

 

Advertisements

Pengumuman Peserta YQueerFSCamp 2017

Ini dia nama-nama yang lulus mengikuti 4th YQueerFSCamp 2017. Pastikan ada nama kamu di bawah ini:

  1. Dicky Andreanta Sembiring Brahmana
  2. Dwiki Mulya
  3. Dimas Sigit Pambudi
  4. Fadli Rais
  5. Gilbert Lianto
  6. Isa Oktaviani
  7. Julian Nathanael
  8. Dhurrotun Nafisah
  9. Firman Saputra
  10. Sansan Maria
  11. Nanang Dwi
  12. Alip Muhammad Abidin
  13. Nur Latifa Isnaini
  14. Syaifur
  15. Masyitoh Inayati
  16. Putra Mandala Pratama
  17. Vania Sharleen
  18. Teresa Chiquita
  19. Sebastian Ardi Kusuma
  20. Ahmad Salahudin Mansyur
  21. Windy Zaskia
  22. Risky Natalia Larasati
  23. Mukhammad Fitrah Malik
  24. Alfajar
  25. Beres Lumtantobing
  26. Andrea Tujossy Yuwono
  27. Adhe Saiful Akbar
  28. Ahmad Afriyansyah
  29. Panjul
  30. Muhammad Ainul Yaqin

Untuk surat keterangan bahwa Peacemaker lolos sebagai Peserta 4th Young Queer Faith and Sexuality Camp tanggal 11 Agustus – 18 Agustus 2017 akan dikirimkan secepatnya.

Selain itu untuk peserta yang mendadak memiliki kendala dan tidak bisa mengikuti kegiatan YQueerFSCamp 2017, kami memiliki daftar nama untuk peserta yang di katagorikan dalam waiting list :

  1. AdhitanFadel
  2. Trisha Indrajayati
  3. Letza Wijaya
  4. M. Dailami Luthpi
  5. Rendi Handika Saputra

Selanjutnya cek email kamu untuk informasi selanjutnya. Atau jika membutuhkan informasi tambahan kamu dapat menghubungi kami lewat kontak informasi kami:
Email : yqueerfsc4@yifosindonesia.org
Twitter : @yqueerfscamp
FB : http://www.facebook.com/yqfsc
Blog : http://www.yqueerfscamp2017.wordpress.com

Hp : +628973268865 (Dana)

Dialog Ketubuhan Melalui Tradisi Lokal Cirebon

Oleh: Jihan Fairuz*

 

Penyerangan terhadap komunitas waria Cirebon terjadi di bulan Agustus 2015, -hari-hari yang mestinya seluruh masyarakat, khususnya umat Islam, tengah khusyuk menyelami ritus Idulfitri- sungguh ternodai. Sekelompok ormas yang mengatasnamakan Gerakan Pemuda Anti Maksiat (Gapas) itu, membubarkan kegiatan yang bertema halal bi halal kelompok waria, karena dianggap menyimpang dari ajaran agama. Aparat penegak hukum tak kuasa menghalau aksi persekusi, yang terang-benderang, melanggar hak kebebasan berekspresi warga negara.

Jika tindak persekusi terhadap komunitas yang dianggap berbeda itu telah terjadi di Cirebon, bagaimana sejarah Cirebon sendiri –yang konon dianggap sebagai derivasi dari kata Caruban¸ yang artinya campuran- bersinggungan dengan orientasi seksual dan ketubuhan seseorang?

***

SEKITAR pertengahan bulan November tahun lalu, saya masih menyimpan memori sampai hari ini, sebuah rasa kagum juga ‘penasaran’ selepas menyaksikan sebuah pertunjukan teatrikal tari di salah satu kampus di Cirebon, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), yang tengah menyelenggarakan sebuah acara kebudayaan, bertajuk “Padang Wulanan”, yang di dalamnya menyajikan pelbagai pertunjukan kebudayaan, apresiasi seni dan sastra, juga dialog santai yang merefleksikan perkembangan isu-isu sosial terkini.

Berdecak kagum karena tari yang ditampilkan mengundang siapapun yang melihatnya pasti tertawa terpingkal-pingkal, sembari sedikit bertanya dalam hati, mengapa para penari menampilkan sebuah perpaduan unik: ekspresi perempuan dalam tubuh laki-laki. Para penonton di malam itu, termasuk saya, melihat kejenakaan para penari yang mengimprovisasi gerak cepat-melambai dari tarian  di atas panggung, sedikit menunggingkan pantat ke depan, dengan ekspresi muka mbodor atau plonger (melucu dengan gestur wajah yang terkesan konyol). Tari yang saya lihat pada pertunjukan itu kental dengan nuansa humor. Humor semacam itu sesungguhnya sudah mengurat-akar dalam tradisi kebudayaan di Cirebon, ada tradisi masres, sandiwara, misalnya.

Ada sekurang-lebihnya delapan penari, meski biasanya empat orang, yang melakukan tarian tersebut di hadapan para hadirin. Musik tradisional khas pantura dengan rytme nada dan iringan yang naik-turun, juga cepat, menambah suasana semakin ramai, disambut tepuk tangan yang meriah. Wajah mereka dirias begitu tebal, selaiknya rias penari di manapun, dengan perut buncit, seperti lakon petruk dalam cerita pewayangan, tetapi yang menarik, mengapa tarian tersebut menampilkan citra perempuan dalam tubuh laki-laki.

Ronggeng Bugis

Tari Ronggeng Bugis, begitulah masyarakat menyebutnya. Historisitas tari ini sudah berkembang sejak awal kali kerajaan Cirebon (Carabun Nagari) terbentuk, sekitar tahun 1482, di bawah kepemimpinan Susuhunan Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hudayatullah. Sebutan lain dari tari yang menggugah rasa jenaka tersebut adalah Tari Telik Sandi, istilah populer pada era sekarang intelijen, mata-mata, atau spionase.

Ronggeng sendiri berarti tarian, sedangkan Bugis merupakan suku asli di Sulawesi Selatan. Dalam istilah yang berkembang di tempat lain di Nusantara, di antaranya dikenal dengan nama taledek, tandak, ringgit, lengger, gambyong, gandrung, atau doger. Secara umum, ronggeng sendiri bisa dibawakan satu orang penari, dua, empat, atau delapan sebagaimana tari pada umumnya, yang membutuhkan eksplorasi gerakan di dalamnya.

Pertanyaannya mengapa satu jenis tarian yang lahir dan berkembang di wilayah pantura Cirebon tersebut disematkan dengan nama salah satu suku di Sulawesi Selatan tersebut; karena pencipta pertama kalinya seorang yang berasal dari tanah bugis, atau hubungan komunikasi dan kerjasama antar dua kerajaan (Cirebon dan Bugis), tidak ada catatan resmi untuk menjawabnya. Yang jelas, tujuan awal tarian ini digunakannya untuk mematai-matai, karena dianggap medium seni bisa masuk ke wilayah musuh, dalam hal ini kerajaan Pajajaran yang dalam sejarahnya pernah bersitegang dengan kerajaan Cirebon. Cerita semacam ini sering saya simak dari penuturan para orang tua di kampung halaman, atau dari budayawan Cirebon, seperti Raffan W. Hasyim, dr. Bambang, ataupun Pak Handoyo. Nama terakhir adalah orang yang pertama kali mengangkat ke publik tarian ronggeng bugis di tahun 1990-an.

Lalu bagaimana dengan simbol feminin dalam tubuh laki-laki? Mengacu pada latar kebangunan Ronggeng Bugis, dalam amatan Abdul Rosyidi, Jurnalis Harian Fajar Cirebon, menandaskan bahwa masyarakat Cirebon sejak dulu sejatinya menerima keterbukaan dalam memandang keragaman agama, suku, budaya dan ras, termasuk di sini adalah keragaman identitas seksual. Dalam konteks ini, ronggeng bugis sebagai representasi keragaman seksual male to female yang berangkat dari latar kesenian Cirebon, yang telah ada sejak era Sunan Gunung Jati itu.

Ia lalu menarik benang merah dari Tari Ronggeng Bugis dengan historisitas Nyi Mas Gandasari. Menurut cerita lisan atau foklor yang berkembang di Cirebon, sosok Nyi Mas Gandasari memiliki wajah cantik yang rupawan, sehingga banyak diperebutkan oleh para jawara di masa itu. Singkat cerita, sebuah sayembara digelar sebagai syarat mempersunting Nyi Mas Gandasari adalah yang mampu mengalahkannya. Karena selain cantik, juga memiliki ilmu kanuragan yang tinggi sehingga tak ada yang bisa mengalahkannya, kecuali seorang bernama Syekh Magelung.

Syekh Magelung berhasil menaklukkan Nyi Mas Gandasari, akan tetapi ia tak kunjung menepati janjinya. Kemudian mereka berdua sempat bersiteru. Sunan Gunung Jati, guru kedua sosok itu menengahi, dengan cara akan menikahi Nyi Mas Gandasari dan Syekh Magelung bukan di dunia, melainkan di akhirat. Yang menarik, menyitir Abdul Rosyidi (2017) yang berangkat dari cerita lisan masyarakat Cirebon, bahwa sungguhpun Nyi Mas Gandasari seorang yang cantik, ia berkelamin penis.

Dimensi Spiritualitas

Baik Ronggeng Bugis ataupun kisah heroik dari Nyi Mas Gandasari, sesungguhnya tradisi itu bisa kita tarik pada realitas keragaman seksulitas dalam alam pikiran masyarakat Cirebon sudah hidup sejak lama. Fakta bahwa transvestite menubuh pada tradisi-tradisi yang ada di sana, menjadi satu perspektif untuk membuka dialog ketubuhan yang berlatar dari tradisi lokal itu sangatlah menarik.

Tradisi lokal atau kearifan lokal serupa juga bisa kita jumpai pada fakta sejarah Komunitas Bissu yang berkembang di daerah Sulawesi. Bissu memiliki keistimewaan khusus, baik seorang Calabai ataupun Calalai, yang dipercaya dapat berkomunikasi secara langsung dengan para dewata. Ia dipilih oleh ‘semesta’ sebagai manusia yang suci, bersih, dan menjadi penasehat raja-raja di kerajaan Bugis. Pada diri Bissu terdapat sebuah sisi spritualitas, yang bahkan menurut saya, tak bisa diukur dengan kacamata agama atau hukum negara.

Ronggeng sendiri punya posisi keistimewaan tersendiri, yang sangat melekat dengan relasi manusia dan Dzat Yang Illahi. Perjalanan empat tahapan spiritualitas seorang manusia yang diibaratkan seperti anak tangga yang terus naik, menyitir Sharon Joy Siddique (1977), pertama, wayang melambangkan sisi spritualitas seseorang berada di tahap syariat. Kedua, Barong, punya sisi sebagai tingkat spritualitas pada fase Tarekat, ketiga, Topeng berada pada tahap Hakekat, dan keempat, Makrifat yang terdapat pada jenis seni seperti Ronggeng.

Melakoni profesi sebagai penari bukanlah pekerjaaan biasa, atau dengan ringan kita menyebutnya jenis profesi atau pekerjaan nomor dua. menjadi penari membutuhkan kecakapan dalam menggerakkan seluruh jemari dan anggota tubuh, serta insting yang tajam dalam mengeksplorasi gerakan saat di hadapan penonton. Penari bisa menghibur para penonton, sekaligus bernilai sebagai tuntunan.

Di sisi lain, penari ronggeng yang diangkat dalam buku sastra karangan Ahmad Tohari mendudukan profesi ronggeng dalam posisi yang begitu subtil, karena mengandung unsur spritualitas yang menyertainya. Ronggeng Dukuh Paruk (1981), kisah yang menyuguhkan Srintil sebagai lakon utamanya, menarasikan bahwa menjadi ronggeng merupakan panggilan hidup selamanya.

Si Srintil tahu betul, untuk menjadi penari ronggeng ia akan menghadapi tantangan dan godaan yang begitu berat yang selalu mengintai, selain karena paras cantiknya, setali tiga uang, juga menikahi seorang ronggeng bagi seorang laki-laki adalah posisi sosial yang istimewa. Untuk itulah, penari ronggeng dilarang keras menikah seumur hidup, karena hal itu akan menyebabkan stasusnya sebagai seorang ronggeng akan hilang. tetapi siapakah yang dapat menghilangkan rasa cinta dari seseorang?

Kisah yang berlatar tragedi 1965, sekaligus menceritakan soal pembinasaan bagi orang-orang yang dianggap memiliki afiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), termasuk Srintil yang menjadi korban kebiadaban dan kebengisan tentara pada era itu. Spritualitas yang dibangun dalam imajinasi Ronggeng Dukuh Paruk sejatinya terdapat juga pada kisah-kisah lain yang tumbuh di bumi Nusantara.

Tari Topeng yang menjadi ikonik Kota Cirebon, menurut cerita lisan masyarakat Cirebon, mengandung unsur spritual yang mendalam, meski hari-hari ini, aspek spritual ini terpinggirkan karena sering dilupakan orang. setiap kali penampilan, penari Topeng terlebih dahulu lelakon (menjalani rituali tertentu), yang ditujukan untuk keselamatan dan kebahagiaan bagi para penontonnya. saat pentas dilakukakan, masyarakat yang melihat berbondong-bondong memilih berdekatan dengan si penari, hal ini ditujukan karena setiap penari topeng dalam pentasnya melafalkan puja-pujian dan doa.

Secara substansial, tujuan utama menjadi penari tidak terletak pada sisi material semata, seperti ketenaran, uang, kemegahan panggung. Kisah Srintil dalam lakon Dukuh Paruk yang, secara spesifik, menempatkan profesi penari begitu istimewa, penari topeng dengan ritual pembacaan kalimat tauhid dalam setiap tariannya, juga pada tak kalah penting adalah dimensi kesederhanaan yang disuguhkan oleh tari Ronggeng Bugis.

Seni: Dakwah Seksualitas

Seni merupakan medium yang bersifat universal. Tak ayal, wali sanga saat berdakwah menyebarkan Islam pertama kali di Nusantara acapkali menggunakan media seni yang inheren dengan karakteristik masyarakat. Sebutlah semisal Sunan Kalijaga, dengan medium wayangnya, mampu menarik minat orang untuk belajar tentang agama Islam atau tembang, syair-syair klasik Jawa seperti lir-ilir yang disampaikan ketika memberi wejangan seputar makna kehidupan. Dengannya, medium seni yang dibawa Sunan tersebut, memberi wajah keteduhan pada Islam bagi khalyak luas. Atau kita yang hidup di era milineal ini, bisa melihat kembali pola seperti pada ceramah Emha Ainun Nadjib dengan Kyia Kanjengnya. Mak Arimbi menceritakan bagaimana pengalamannya terlibat dalam dunia seni. Seorang pekerja seni, juga aktivitas di Yifos Indonesia, dirinya sering menemukan titik temu (kalimatun sawa), antara seni dan isu yang ia geluti. Baginya, medium seni jadi penghubung untuk mengenal sejarah seksualitas yang ada di Indonesia. tradisi Gandrung di Banyuwangi, misalnya, lekat dengan keragaman seksualitas manusia.

Eksistensi ronggeng bugis ataupun Nyimas Gandasari yang berbasis kearifan lokal Cirebon, menjadi ‘pintu masuk’ wacana seksualitas yang lebih ekstensif. Kearifan lokal tidak saja menjadi jejak masa lalu yang sekadar bahan nostalgia, lebih dari itu, ia menjadi ingatan kolektif sebuah komunitas masyarakat dalam menyikapi pelbagai dinamika kehidupan hari ini, dan seterusnya. Di tengah situasi dewasa ini, orang semakin mudah menjustifikasi keragaman seksualitas sebagai ancaman, maka menghadirkan sebuah diskusi yang berangkat dari pengetahuan mengenai sejarah bangsa kita sendiri adalah oase di tengah padang gurun. Iklim kebencian pada yang dianggap ‘liyan’ mudah ditebarkan di ruang-ruang publik, media sosial, stigma yang mudah disematkan pada kehidupan seorang transgender atau transvestite, yang dianggap abnormal dan penyakit masyarakat itu, mestinya sudah ditinggalkan. Karena sejarah bangsa ini adalah sejarah yang berbicara mengenai ragam perbedaan, yang bagi kita, perbedaan itu dimaknai sebagai jalan mendefinisikan makna ketubuhan.

*Koordinator Nasional YIFoS Indonesia periode 2017-2021.

======================================================================

Bahan Bacaan:

  1. The Ronggeng, the Wayang, the Wali, and Islam: Female or Transvestite Male Dancers-Singers-Performers and Evolving Islam in West Java, Kathy Foley, Asian Theatre Journal, 32, no. 2, 2015. University of Hawai‘i Press,
  2. Bissu: Menggugat Maskulinitas dan Feminitas, Bisri Effendy, 2003, Majalah Srinthil
  3. Ronggeng Bugis: Foklor Transvetite di Cirebon & Bertemu Nyi mas Gandasari, Abdul Rosyidi, 2016.

Profil Calon Pengurus Sekretariat Nasional YIFoS 2016-2020 : Para Alumni Queer Camp dan Keberlanjutan Organisasi

Semenjak akhir Oktober 2016, YIFoS sibuk mempersiapkan kegiatan penting, yakni Forum Rapat Nasional. Ini merupakan forum bagi pengurus YIFoS 2012-2016 untuk mempertanggungjawabkan kerja-kerja selama ini serta untuk memilih pengurus YIFoS 2016-2020. Forum Rapat Nasional ini menjadi momen refleksi serta konsolidasi bagi untuk merumuskan bersama mengenai arah dan strategi selama lima tahun kedepan, baik dalam pengelolaan organisasi, peran strategis dalam gerakan sosial, serta memastikan terselenggaranya kultur demokrasi dalam proses pergantian kepemimpinan YIFoS.

Khusus untuk proses pencalonan pengurus Sekretariat Nasional 2016-2020, YIFoS membentuk panitia persiapan Forum Rapat Nasional yang fungsinya selain mempersiapkan terselenggaranya forum ini, juga untuk memfasilitasi dan membangun mekanisme pencalonan ini. Dalam Anggaran Dasar YIFoS, Sekretariat Nasional terdiri dari Koordinator Nasional, Bendahara Nasional dan Sekretaris Nasional.

Untuk itu, panitia menyusun tahap-tahap sebagai berikut sebelum pemilihan berlangsung, yakni  :

  1. Pembukaan pendaftaran calon pengurus Sekretariat Nasional 2016-2020 dari akhir Oktober hingga 30 November 2016
  2. Masa perumusan visi, misi dan program/strategi dari para calon pengurus Sekretariat Nasional, dimulai dari 1 – 8 Desember 2016
  3. Masa sosialisasi online para calon pengurus Sekretariat Nasional, dimulai dari 12-15 Desember 2016

Dua tahap telah dilalui dan panitia menerima 6 (enam) orang calon pengurus Sekretariat Nasional 2016-2020 serta rumusan visi, misi dan program/strategi mereka. Keenam orang ini adalah anggota YIFoS yang juga menjadi bagian dari kesejarahan YIFoS karena peran dan kontribusi mereka selama ini dalam kegiatan ataupun program YIFoS. Keenam orang ini tentu juga adalah alumni Queer Camp. Sejak Queer Camp terselenggara, YIFoS percaya bahwa para alumni menjadi sumber inspirasi dan kekuatan bagi YIFoS untuk mengembangkan dirinya sebagai organisasi anak muda. Oleh karena itu, kepemimpinan YIFoS tak mungkin lepas dari para alumni Queer Camp. Setiap alumni Queer Camp punya perjalanannya sendiri-sendiri dalam menemukan diri dan otoritas tubuhnya, memaknai relasi kuasa dari berbagai norma dan nilai yang ada di luar dirinya, hingga menemukan langkah-langkah untuk melakukan transformasi sosial.

Sebagai organisasi anak muda yang baru berumur 6 (enam) tahun, YIFoS masih dalam proses bertumbuh. Dalam proses tersebut juga, YIFoS meyakini bahwa kepemimpinan anak muda harus terus bergulir dan upaya untuk merealisasikan hal tersebut adalah bagian dari merawat keberlanjutan, transfer pengetahuan dan pengalaman diri dan organisasi agar tak terputus dan terkumpul di beberapa individu.

Jadi, mari mengenal lebih dekat 6 (enam) orang alumni Queer Camp yang jadi sumber keberlanjutan YIFoS untuk lima tahun ke depan. Setelah melihat profil mereka, mari bergabung untuk turut andil memikirkan masa depan YIFoS dengan menyampaikan gagasan, pendapat, pertanyaan dan masukanmu terhadap rencana-rencana perubahan mereka!

Catatan :

  • Urutan dibuat berdasarkan alfabetikal.
  • Profil Calon dipublikasi berdasarkan termin sosialisasi online, yakni tiga orang untuk termin pertama (12-13 Desember) dan tiga orang berikutnya untuk termin kedua (14-15 Desember).

Launching Laporan Pelapor Khusus Hak-hak Kelompok Minoritas oleh KOMNAS HAM

news_59394_1464777154
foto 1. Perwakilan Komnas HAM bersama Narasumber
Cj1hTsYVEAARxAg
Foto 2. Pertunjukan tari tradisional dari kelompok minoritas identitas gender

Hari Rabu, tanggal 1 Juni tahun 2016 YIFoS Indonesia berkesempatan menghadiri kegiatan launching laporan pelapor khusus hak-hak kelompok minoritas yang bertempat di Kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat. Kegiatan launching laporan yang berjudul ‘Upaya Negara Menjamin Hak-Hak Kelompok Minoritas di Indonesia’ diisi dengan Talk Show yang dipandu oleh Wimar Witoelar bersama lima narasumber, diantaranya; Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementrian Kesehatan, Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementrian Dalam Negeri, Direktur Jenderal Pembinaan Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Tradisi Kementrian Kebudayaan Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementrian Sosial, serta Direktur Jenderal Pembinaan dan Produktivitas Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Kegiatan ini bertujuan untuk sosialisasi laporan pemenuhan HAM oleh negara untuk kelompok-kelompok minoritas; mendorong terciptanya lebih banyak dialog antara pemangku kewajiban dengan pemangku hak khususnya kelompok-kelompok minoritas; dan menciptakan ruang antar kelompok minoritas untuk saling berbagi pengalaman.

Acara dilanjutkan dengan penyampaian testimoni dari perwakilan kelompok minoritas, ada tiga testifier yang mewakili, perwakilan dari kelompok minoritas disabilitas menyampaikan ceritanya melalui penerjemah bahasa isyarat yang bercerita tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai laki-laki yang terlahir tuna wicara dan ketika berumur tiga tahun mengalami pelecehan seksual oleh seorang laki-laki di sekitar rumahnya, dia kesulitan untuk melaporkan kejadian yang dialami kepada orang tuanya karena keterbatasan dalam berbicara.

Testimoni yang kedua disampaiakan oleh perwakilan kelompok minoritas orientasi seksual dan identitas gender, dia menyampaikan pengalaman yang dialami oleh kelompok minoritas orientasi seksual dan identitas gender diantaranya stigma dan diskriminasi oleh masyarakat maupun institusi berbasis agama yang menolak keberadaan LGBTIQ. ‘Saya pernah melihat seorang waria yang diusir dari Masjid ketika dia sedang melaksanakan sholat, apa hak mereka melarang seseorang untuk beribadah kepada Tuhan? media juga berpengaruh besar melakukan diskriminasi dan kejahatan terhadap kelompok LGBT, masih ingat kasus pengusiran dan penutupan pesantren Al Fatah di Jogja? Pemberitaan yang tidak benar yang dilakukan oleh oknum media berimbas terjadinya diskriminasi terhadap waria yang berada di pesantren tersebut’.

Untuk testimoni yang ketiga disampaikan oleh perwakilan kelompok minoritas aliran kepercayaan dan penghayat, ‘kami sering mengalami diskriminasi dan intimidasi oleh kaum-kaum ber’agama’ serta oleh negara melalui perangkatnya, kami dipaksa untuk menggunakan label agama untuk data kependudukan, tidak ada aturan yang melindungi hak-hak penghayat dan aliran kepercayaan. Jangan pernah ajari kami untuk terus bersabar menghadapi diskriminasi terhadap kelompok kami’.

 

*Unduh laporan Upaya Negara Menjamin Hak-Hak Kelompok Minoritas di Indonesia melalui situs resmi Komnas HAM di www.komnasham.go.id

Young Queer Faith and Sexuality Camp: “Negosiasi Identitas melalui Pengalaman Ketubuhan”

Logo Young Queer Faith and Sexuality Camp YIFoS IndonesiaOleh : VK Larasati (Koordinator Nasional YIFoS Indonesia)

Sejak terbentuk pada tahun 2010, Youth Interfaith Forum on Sexuality (YIFoS) sebagai organisasi yang mendorong pelibatan aktif anak muda untuk menciptakan dan membangun lingkungan yang aman dan damai ditengah keberagaman identitas iman dan seksual; mencoba menawarkan pendidikan alternatif dalam intercultural dialogue.

Salah satunya adalah Young Queer Faith and Sexuality Camp (Queer Camp) yang dilaksanakan pertama kali tahun 2012 dan terus dilakukan setiap tahunnya. Queer Camp merupakan platform pendidikan alternatif bagi anak muda usia 18 sampai 28 tahun dari beragam identitas iman dan seksual (termasuk Lesbian, Gay, Biseksual, Trans, Interseks, Queer dan yang lainnya) untuk membangun gerakan anak muda antar identitas. Interaksi antara anak muda dari berbagai latar belakang dan identitas telah menjadi metode untuk menciptakan pemahaman dan pengetahuan; berbagi pengalaman; menanggalkan stereotype dan meniadakan stigma; mendorong munculnya gerakan anak muda dari beragam identitas; serta pelibatan aktif dalam menyuarakan keberagaman iman dan seksualitas sebagai bagian dari pemenuhan hak asasi manusia. Sampai dengan tahun 2014, lebih dari 120 anak muda berpartisipasi sebagai peserta, panitia, relawan, fasilitator, expertise, narasumber dan trainer dalam 8 hari pelaksanaan Queer Camp.

Queer Camp dilaksanakan dengan menggunakan metodologi hermeneutical dari Elisabeth Schussler Fiorenza yakni Teori Dance of Liberation and Transformation. Keseluruhan materi yakni Pengembangan Wawasan dan Kesadaran Kritis, Aksi Anak Muda terhadap Keragaman Iman dan Seksualitas, Pengembangan Kemampuan dan Community Live-In diberikan dalam bentuk ceramah, diskusi, panel, simulasi, outing, malam budaya serta live-in di komunitas-komunitas berbasis iman dan seksualitas yang berbeda. Seluruh rangkaian acara ini didasarkan pada 6 tahapan Dance of Liberation and Transformation yakni Reflection on experience and systematic analysis of oppression; Suspicion and critical analysis; Critical evaluation and proclamation; Historical symbolic conceptual reconstruction; Creative imagination; dan Liberation and transformation.

Dalam tiga kali pelaksanaan Queer Camp yang mengusung tema Membangun Perdamaian Melalui Keberagaman (2012); Dialogkan Tubuhmu, Ciptakan Sejarahmu (2013); dan Lingkar Cinta Ragam Ekspresi (2014), terdapat beragam temuan-temuan menarik terkait ketertarikan anak muda untuk menemukenali diri mereka dalam eksplorasi pengalaman ketubuhan; keingintahuan anak muda untuk mendiskusikan iman dan seksualitas secara berdampingan tanpa kekerasan dan diskriminasi yang dialami karena iman dan seksualitas mereka tidak seperti kebanyakan; negosiasi dengan keberagaman identitas yang ada disekeliling mereka.

Dari pelaksanaan Queer Camp yang didasarkan pada Teori Dance of Liberation and Transformation, YIFoS Indonesia menemukan bahwa eksplorasi pengalaman ketubuhan dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran tentang otoritas terhadap diri termasuk mendefinisikan tubuh dan identitas diri yang beragam. Dan hasilnya adalah pemahaman yang tepat terkait keragaman identitas termasuk didalamnya identitas iman dan seksual sebagai bagian dari ekspresi kemanusiaan. Sehingga, setiap orang akan merayakan keragaman identitas iman dan seksual di keluarganya, komunitasnya, di ruang kerjanya, di masyarakat dan negara.

*Baca selengkapnya disini

Perempuan Berparas Tampan: Kidung Sendu (Bagian 2)

cats
*Gambar sekedar ilustrasi

by. Joshua Intan

Bagi seorang pengerja gereja sepertiku setiap hal yang aku lakukan pastiakan jadi sorotan, khususnya oleh jemaat ditempatku melayani. Seperti halnya kehidupan pendeta yang selalu dituntut sempurna, para pengerjapun diberlakukan hal yang sama. Maka dari itu,saat ini aku merasakan kebimbangan yang besar.

Berkali-kali aku baca BBM dari kak Rania yang menawariku makan siang bersama, tapi aku tak berani membalasnya. Sampai pada akhirnya telpon berbunyi, dan dengan perasaan tak karuan kuangkat panggilan itu.

“Nad… kamu kenapa?”

“Oh, enggak kak… enggak kenapa, kakak dimana?”

“Bener?? Aku di jalan dekat greja, kamu mau aku jemput buat makan siang?”

Berpikir sejenak, “Boleh kak.”

“Oke aku jemput ya, 5 menit lagi sampai.” Telpon terputus.

Benar saja, 5 menit kemudian aku lihat mobil kak Rania sudah ada di depan greja, aku bergegas keluar menghampirinya sebelum dia turun,

“Hai kak…”

“Hai, mau makan dimana?”

“Terserah kakak aja,” aku memasang seat belt, “kak, boleh nggak kita makan di tempat yang agak sepi?” pintaku.

Kak Rania hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala penuh pengertian seperti biasanya. Mobil berjalan menyatu dengan keramaian jalan, sing ini panas sekali sampai-sampai AC mobil hampir tidak terasa. Kami duduk dalam diam beberapa saat sambil mendengarkan alunan music payung teduh dari player.

Aku melirik sosok gadis tampan di sebelahku, dia terlihat keren seperti biasanya. Kaos merah, celana pendek berwarna coklat, sepatu merah, lengkap dengan kacamata hitamnya. Sempurna, dia adalah bagian terindah yang tak pernah bosan kulihat.

“Kenapa?? Aku ganteng ya??” godanya.

Aku yang terkejut karena kepergok pun lalu jadi salah timgkah. Dia tersenyum simpul,

“Kenapa Nad?? Ada masalah sama orang greja?” lanjutnya.

“Oh itu, enggak kok kak, cuman sedang memikirkan sesuatu aja.” Aku tidak pandai mengatakan apa yang sebenarnya menjadi ketakutanku padanya.

“Memikirkan apa kalau boleh tahu?”

Menghela nafas, “Yaaa… banyak kak. Kerjaan, laporan, semuanya” ini jawaban klise yang sangat mudah dilihat ketidakjujurannya.

“Eh sorry ganti topic dulu ya. Aku ada referensi music baru buatmu Nad. Setelah sedikit mengenalmu sepertinya kamu akan suka music ini.” Kak Rania merogoh saku celana dengan tangan kirinya,sedang tangan satunya masih di kemudi.

Setelah berhasil mengeluarkan HP dari saku celananya, dia memintaku untuk menyambungkan HP nya dengan kabel yang terkulai lemas di sekitar player. Masih sambil mengemudi, kak Rania mencari-cari sesuatu di list player HP nya. Sesekali matanya tertunduk ke layar HP dan selebihnya dia focus ke jalanan. Tak perlu waktu yang lama lalu,

“Nih, coba denger deh. Ini cocok kamu dengerin sore-sore sebagai temanmu minum teh atau kopi.”

Aku tertegun dengan ucapannya, dia mengingat kebiasaan-kebiasaanku. Dan lebih terkejut lagi ketika aku mendengarkan habis satu lagu yang dia putar, memang bagus sekali. Benar tebakan kak Rania, aku menyukainya.

“Wow… siapa kak ini? Bagus…”

Tersenyum dengan penuh kepuasan, “The Tealeaves, yang tadi kamu dengerin itu judulnya The Little Ones. Bagus kan? Aku tahu kamu pasti suka, nanti aku kasih ya.”

Aku mengangguk sambil melemparkan senyum kepadanya, sisa perjalanan ini kami lakukan dengan mendengarkan lagu-lagu dari The Tealeaves. Rasanya sedikit menenangkan hati dan pikiranku yang sedang sumpek.

“Makan disini ya,” mobil berhenti tepat disebuah tempat makan bernuansa Bali yang terletak di tempat yang lumayan tersembunyi. Untuk mencapai tempat ini harus masuk ke dalam gang beberapa kali, ini kali kedua aku kesini setelah beberapa waktu lalu kak Rania juga yang mengajakku makan disini. Ini salah satu tempat favourit kak Rania dan kawan-kawannya, kadang juga mereka rapat disini karena tempatnya yang sepi dan teduh karena ditengah tempat makan ada kolam ikan yang dikelilingi taman cantik.

Kami turun dari mobil dan masuk ke dalam tempat makan, setelah memilih tempat duduk yang dekat dengan kolam ikan dan pot besar berisi anyelir maka pelayan datang untuk mengorder pesanan kami.

“Aku nasi bakar ayam aja mas, sama es jeruk.” Kak Rania tidak perlu waktu lama untuk menentukan pesanannya, karena memang ini tempat yang biasa dia datangi untuk makan siang bersama teman-temannya.

Saat pelayan melihat kearahku, “Aku sama mas.” Lalu pelayan berwajah tirus dan bertubuh jangkung itu meninggalkan kami.

Kak Rania menyalakan rokok, “Jadi Nad balik lagi ke pembicaraan yang tadi, apa yang sebenarnya sedang menggelisahkanmu?”

Dia memang tidak begitu suka basa-basi, terkadang aku tidak siap menjawab pertanyaannya seperti sekarang. Dan aku hanya melekatkan pandanganku kebungkus rokok yang tergeletak di meja.

Tiba-tiba tangannya yang putih bersih dan berjemari lentik itu menggenggam tanganku, aku terkejut tapi juga merasa seperti ada ketenangan yang mengaliri seluruh tubuhku.

“Nad, kenapa kamu nggak jujur aja sih? Aku tahu ada yang nggak biasa, aku ngrasa ada yang sedang kamu kuatirkan, tapi aku nggak tahu persis apa itu. Jadi tolong kamu bantu aku buat memahami kegelisahanmu.”

Genggamannya dilepaskan tepat saat pelayan berada di samping meja kami untuk meletakkan dua gelas es jeruk.

“Kak, maaf ya… maaf kalau aku takut. Aku nggak tahu harus bagaimana.” Akupun terisak dan tertunduk semakin dalam.

Kak Rania menggeser duduknya lalu merangkul pundakku, “Iya nggak apa-apa, wajar saja ketika kadang kita merasa takut. Tapi apa yang kamu takutin?”

Aku berusaha berbicara ditengah isakan tangis yang sekuat mungkin aku tahan,

“Maaf ya kak aku udah berani datang ke kakak waktu itu, maaf aku memberanikan diri buat menyapamu dan mengatakan isi hatiku, tapi sekarang aku bingung kak harus bagaimana.”

Kak Rania mengusap wajahku yang basah dengan tissue sambil terus mengelus pundakku. Setelah cukup lama kupertimbangkan yang membuatku susah tidur beberapa malam ini maka kuberanikan diri mengatakannya sekarang,

“Aku tahu aku jatuh cinta sama kakak dan itu yang sejujurnya kurasain, tapi aku takut kak. Aku takut kalau greja sampai tahu, bukan cuman karena aku mengkhawatirkan pekerjaanku, tapi aku juga takut jika nanti aku nggak bisa lagi diterima disana. Aku harus gimana kak?? Kita harus gimana??”

“Lho, memangnya ada yang mencurigai kedekatan kita? Ada yang tanya sama kamu tentang hubungan kita?”

Aku hanya terdiam, memang sampai saat ini sepertinya belum ada yang mempertanyakan kedekatanku dengan kak Rania. Tapi jujur saja aku takut jika ternyata sudah ada pembicaraan dibelakangku. Sejak kedekatan kami 2 bulan lalu, kak Rania jadi sering datang beribadah di gereja. Belum lagi kami sering nonton atau makan bersama dan beberapa kali berjumpa dengan jemaat gereja ketika sedang jalan.

“Belum ada sih kak, cuman aku nggak tahu juga. Beberapa hari lalu waktu aku dan kak Lukman makan diluar, dia sempat tanya-tanya tentang kakak. Ya, cuman tanya hal-hal umum tentang kakak sih, dan nggak yang sampai tanya macem-macem, cuman aku ngrasa kalau ada yang tanya tentang kakak rasanya aku takut. Aku takut mereka tahu…”

Pesanan kami datang, kak Rania kembali ke posisi duduknya yang semula kemudian mematikan puntung rokoknya yang lunglai di asbak. Sambil terus memandangiku dia melemparkan senyum manisnya, agaknya dia ingin menenangkanku.

“Nad, semuanya jangan dipaksakan. Jika memang kamu ngrasa nggak nyaman dengan kedekatan kita ya sudah, atau bagaimana? Kita berhenti saja?Mumpung belum terlanjur jauh. Kamu jangan salah mengartikan ya, aku juga sayang sama kamu tapi aku nggak mau kalau hubungan ini menyakitimu.”

Dalam isakanku, hanya satu kata yang mampu kuucapkan berulang-ulang, “Maaf… maaf…”

Kak Rania mengelus punggung tanganku, lalu mengajakku makan. Akupun menghapus air mata yang membanjiri wajah, meneguk es jeruk sembari mengatur perasaanku. Kak Rania sudah mulai menyantap makanannya, tak berapa lama akupun menyantap makanan dihadapanku. Kami makan seperti biasa, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Setelah selesai makan dan menghabiskan sebatang rokok, kak Rania mengajakku meninggalkan tempat ini. Aku ikut saja tanpa banyak bicara maupun bertanya. Kami tidak terlibat pembicaraan cukup lama, hanya saling diam dan terasa penuh keresahan.

Tiba-tiba mobil berhenti di depan Alfamart, kak Rania turun dan memintaku tetap di dalam mobil. Aku melihat kak Rania mondar-mandir di dalam Alfamart, entah apa yang dibelinya, kemudian menuju kasir untuk membayar dan kembali ke mobil.

“Ice cream…” disodorkannya ice cream magnum dihadapanku.

“Trimaksih,” segera kunikmati ice cream itu.

Mobil kembali melaju,

“Nadia, kamu jangan sedih lagi ya, jangan kuatir lagi.” Dari suaranya yang sedikit bergetar, aku merasakan kak Rania menahan sesuatu di dalam hatinya.

“Kaak…” aku memandangnya.

Dia hanya tersenyum, lalu tiba-tiba kulihat air bening mengalir dari balik kacamata hitam menuruni pipinya yang kemerahan karena sengatan panas,

“Nggak apa-apa Nad, nggak apa-apa. Jadi bagaimana, kita sudahi saja Nad toh kita juga belum jadian.”

“Aku akan memikirkannya lagi kak, sejujurnya aku nggak mau berhenti karena aku bener-bener cinta sama kakak. Tapi di sisi lain aku ngerasa belum siap. Aku terlalu takut kak, maaf.”

“Jangan minta maaf lagi, ini bukan salah siapa-siapa Nad. Oke, sepertinya kamu perlu waktu sendiri dulu begitu juga aku.”

“Tapi kak,”

“Kita cari tahu dulu apa yang bener-bener kita mau lakukan, kita pikirkan matang-matang lagi tentang kelanjutan hubungan kita. Aku nggak bisa menjanjikan apa-apa Nad sekarang. Kedepannya bagaimana juga aku nggak tahu, aku cuma nggak mau kamu terpaksa . Tapi kalau memang kedepannya kita mau sama-sama, kita juga harus mikirin cara supaya posisi kamu nggak sulit. Kita sendiri-sendiri dulu ya.”

Aku rasa ada segurat kepiluan menusuk hatiku, dadaku sesak dan rasanya ingin meledak. Sebelah hatiku tak bisa mendustai rasa cinta yang mulai tumbuh, namun sebelah hati lagi aku bergulat dengan situasi yang memaksaku rubuh. Melepasnya begitu menyakitkan namun untuk menggenggamnyapun aku tak punya keberanian.

 

Aku semakin tua

Menjadi rapuh       

Tak sanggup menopang hidupku sendiri

Hingga akhirnya akan layu

Kering dan tertiup angin

(Batin)

           

 

Bersambung…

Perempuan Berparas Tampan ; Pesona yang Tak Pudar (Bagian 1)

l1
*Gambar sekedar ilustrasi jangan dianggap serius hehehe 😀

By. Joshua Intan*

Pernahkah kamu merasakan jantungmu berdegup sangat kencang dan bibirmu kaku sekalipun otakmu mengatakan banyak hal??

Pernahkah kamu merasakan bahwa kakimu seperti tak menyentuh tanah, dan sekujur tubuhmu menjadi ringan??

Aku dengar dari banyak orang bahwa beginilah rasanya jika kamu tengah bertemu dengan orang yang kamu cintai.
Hari ini aku merasakan semua hal itu, ditambah keringat dingin yang membasahi tangan dan kehilangan kendali atas gerak tubuhku sendiri. Sungguh ini diluar dari dugaan bahwa aku akan berjumpa lagi dengannya setelah 1 tahun berlalu. Mataku tak bisa berhenti memperhatikan setiap gerak-geriknya. Dan senyum sipu malu tak bisa kusembunyikan lagi saat ini.

Aku hilang fokus seketika, rasanya lukisan dalam pameran ini tak lagi menarik bagiku. Perasaan senang bercampur gugup seperti teraduk-aduk jadi satu, yang aku tahu aku ingin sekali ngobrol dengannya. Ini kesempatan yang tidak boleh kusia-siakan lagi.

Setelah mempertimbangkan beberapa saat, akhirnya aku memberanikan diri menghampirinya walau dengan kaki yang setengah kuseret karena sepertinya mereka kehilangan tulang,

“Hai…” sapaku.
Membalikkan badan dan memandang tanganku yang sudah terulur lantas segera menjabatnya,

“Oh hai… sorry…” suaranya yang berat dan dalam ini entah mengapa sungguh kurindukan.

“Tak apa.” Sepertinya kali ini aku tak bisa menyembunyikan keteganganku, “masih ingat aku?”

Tersenyum, “masih, kamu Nadia kan?! Suka lihat lukisan juga?” aku rasakan matanya menelusuriku dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Saat mendengar dia menyebut namaku, rasanya aku tersenyum terlalu lebar, “waw… masih ingat juga ya hehehe. Mmm nggak begitu suka sih, cuman karena ini karya temanku jadi aku harus suka daripada durhaka hehehe”

“Hahaha bisa aja, wah tapi aku baru tahu lho kalau Kevin Pramana itu temanmu, karena kebetulan dia adikku.”

“Yang bener??? Gokiilll…” aku setengah mangap, entah karena terkejut dengan fakta yang baru saja kudengar atau karena aku terpesona dengan senyuman manisnya yang bertengger di wajah imutnya.

Mengernyitkan dahi, “gokil?!?! Hahaha jadi yang gokil itu ini,” menunjuk lukisan 3 penari Bali yang berada tepat dibelakang punggungnya, “atau kenyataan bahwa aku kakak dari temanmu?”

Aku mengejap-ngejapkan mataku, “Oh…hahaha itu… anu… hahaha” dan tak sanggup menjawab.

“Akh sudahlah, hahaha ayo kita ngobrol di luar. Sepertinya ada warung kopi di depan sana.”

“Ayok!!” segera aku tutup mulutku yang nggak sopan ini dengan kedua tanganku. “Ups, maaf…”

Lalu dia tertawa, dan kami berdua segera meninggalkan tempat pameran menuju ke warung kopi yang dimaksud. Ternyata kami harus berjalan cukup jauh dari lokasi pameran sampai ke tujuan, kaki rasanya mau gempor dan nafas ngap-ngapan lantaran mengejar langkahnya yang begitu cepat. Berkali-kali dia berhenti dan meminta maaf padaku ketika aku tertinggal jauh di belakang, aku yang rasanya sudah tidak sanggup untuk berkata apa-apa namun dalam hati juga jejingkrakan karena senang inipun pura-pura tetap tersenyum sambil menyiratkan kata “tak apa-apa” lewat lambaian tangan.

Disepanjang perjalanan itu, rasanya kenangan 1 tahun lalu ketika kami berjumpa pertama kali pun kembali. Kala itu aku menghadiri sebuah diskusi public mengenai seksualitas dan agama di kampus sebagai peserta,dan pada saat melihatnya yang ketika itu hadir sebagai salah seorang fasilitator tiba-tiba aku tak bisa mengalihkan pandanganku.

Pertama kali melihatnya, aku merasakan ada yang aneh dalam diriku. Aku sangat terpesona dan begitu ingin mengenalnya lebih dekat. Dia masih muda, wajahnya imut, sangat cantik, juga sangat tampan. Postur tubuhnya tinggi, rambut pendeknya pas sekali dengan bentuk wajahnya yang oval, kulitnya putih bersih dan senyumnya terlihat sangat manis. Ketika dia mulai berbicara perasaanku makin tak karuan, dia pandai dan sangat berenergi. Dia tahu membaca audience, sesekali gurauan yang dia lontarkan berhasil menyegarkan suasana yang cukup membosankan karena materi diskusi yang bisa dikatakan berat.

Beberapa kali kami terlibat kontak mata selama diskusi, tapi saat itu aku belum cukup punya keberanian untuk mendekatinya, hanya saja ketika diskusi berakhir aku sempat menghampirinya untuk sekedar memperkenalkan nama.

Setelah itu aku hanya bisa membayangkan kapan lagi aku bisa berjumpa dengannya, sedang informasi tentangnya pun minim sekali. Aku mencari akun social media miliknya, namun tak satupun bisa kutemukan sekalipun telah berkali-kali kucari. Dan aku terlalu takut bertanya kepada temanku yang sebenarnya adalah salah satu panitia penyelenggara diskusi tentang si gadis berparas tampan yang mempesonaku itu.

Kini sudah satu tahun berlalu, sejujurnya aku sudah tidak banyak berharap lagi, namun hari ini aku tidak sengaja berjumpa lagi dengannya. Harapanku untuk berkenalan lebih dekat dengannya seakan datang kembali, ditambah lagi dia masih mengingat namaku. Aku benar-benar tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini,

“Aku kopi aceh mbak, sama pancake banana satu ya. Kamu mau apa Nad?”

“Aku kopi sidikalang mbak.”

“Kamu nggak makan? Apa gitu?”

“Mmm nggak deh, itu aja.”

“Oke… udah mbak, itu dulu.”
Tatapan matanya hangat sekali, duduk berhadapan dengannya dalam jarak sedekat ini membuatku grogi,

“Jadi kak, kok masih ingat namaku?” pertanyaan ini meluncur begitu saja dari bibirku.

Mencondongkan wajahnya sedikit lebih dekat kearahku, lalu berbisik, “Karena namamu pasaran.” Lalu tertawa terbahak-bahak, akupun entah kenapa ikut tertawa begitu saja.

“Bercanda, yaa soalnya kamu berhasil membuatku terkesan dulu.”

Aku menaikkan bahu dan menurunkannya lagi sambil mengernyitkan alis, “kesan?”

“Oh, jadi gini, waktu itu kamu sempat memperkenalkan diri kan saat acara selesai, dan jujur aja nggak banyak yang nglakuin apa yang kamu lakuin.”

“Akh masa?? Bohong deh… pasti kakak sering diajak kenalan cewek.”

“Hahahaha ya ada sih, tapi nggak banyak. Daaaaan… jadi kamu pikir aku hanya bisa menarik perhatian cewek? Menurutmu nggak akan ada cowok yang bisa tertarik buat berkenalan denganku? Aduuuh, kasihan sekali aku…” menepuk jidat sambil merosot dari posisi duduknya.

Sedikit salah tingkah, “Eh bukan gitu kak, tapi… ya, aku pikir karna kakak mmm anu…”

“Lesbi??? Jadi kamu mau bilang bahwa aku sengaja menarik perhatian cewek-cewek karena aku lesbi?? Apa menurutmu lesbi juga nggak bisa menarik perhatian cowok?”

Aku semakin tak enak hati, “eh, bukan gitu kak, bukan…bukan… maaf, maksudnya nggak gitu.”

Kami saling diam beberapa saat, aku rasa telah merusak suasana. Lalu tiba-tiba terdengar ledakan tawa darinya,

“Wahahaha….hahahaha… Nadia…Nadia… kamu lucu banget ya… hahaha wahahaha” melihat wajahku yang bingung lalu dia berhenti tertawa, “Sorry…sorry, aku tadi bercanda. Nggak maksud gitu kok.”

Aku menghembuskan nafas penuh kelegaan, “Kakak bikin takut.”

“Jadi, Nadia takut aku marah?”

Kopi dan pancake pesanan kami datang, aku menunggu beberapa saat sampai pelayan menurunkan pesanan dan meninggalkan kami,

“Ya, aku takut aja merusak suasana dan melewatkan kesempatan ini.”

“Kesempatan??”

“Jadi, sejak pertama ketemu kakak, rasanya aku pengen,” menelan ludah, “pengen berkenalan lebih jauh sama kakak.” Lalu aku menundukkan kepala sambil mencengkeram cangkir kopiku.

Mengangkat cangkir kopi miliknya, meniup-niup lalu meneguknya dan kemudian meletakkannya lagi,

“Nadia, kenapa kamu pengen kenal lebih dekat sama aku?”

Kali ini kami saling diam cukup lama, otakku berpikir keras menyusun kata-kata yang tepat, juga aku mengumpulkan keberanian untuk mengucapkannya. Beberapa kali bibirku hampir terbuka, namun rasanya kata-kata yang siap meluncur itu tertelan kembali.

Setelah beberapa saat, aku menegakkan kepalaku dan kuberanikan diri memandang wajahnya yang malah semakin terlihat menarik. Dia tak banyak berubah, masih seperti setahun yang lalu, hanya saja kini rambutnya terlihat sedikit lebih panjang,

“Kak… jadi, aku… Aku rasa aku tertarik kepadamu, sepertinya aku suka, eh bukan… aku rasa aku jatuh cinta sama kakak.”

Giliran dia sekarang yang terlihat kaget,

“Mmm kak, tapi… tapi nggak apa-apa kok kalau kakak nggak bisa, aku cuman pengen bilang aja kaya gitu sama kakak, jadi jangan marah ya kak.”

Kembali meneguk kopinya dan aku melakukan hal yang sama, lalu dia menghela nafas,
“Nad, bagaimana kalau kita lakukan perkenalan lebih jauh lagi.”

“Maksud kakak?”

“Iya, kita kan belum benar-benar saling kenal, ini juga baru perjumpaan kedua kita setelah satu tahun yang lalu kan, terlalu cepat jika ini dibilang cinta, tapi sejujurnya aku juga tertarik padamu sejak pertama kita bertemu.”

Entah apa tepatnya rasa ini, seperti ada es yang meleleh di atas kepala, namun dalam hati seperti ada bara api yang sangat hangat. Aku hampir menangis karena senang mendengarnya,

“jadii… kita???”

“Belum, kita belum jadian, tapi aku menawarkan padamu bagaimana kalau kita PDKT dulu, biar kita saling kenal.”

Dia begitu tenang dan meyakinkan, aku menatapnya lekat-lekat dan semakin kurasakan jantungku berdegup lebih kencang. Aku menganggukkan kepala tanda sepakat sembari tersenyum padanya. Dia pun tersenyum padaku.

“Terimakasih ya Nad, jadi pertama boleh dong aku minta nomor Hp kamu.” Sambil menyodorkan Hp miliknya kepadaku.

“Boleh kak,” aku menulis nomor Hp ku lalu mengembalikan Hp kepadanya, “Kak, boleh tanya nggak??”

“Tanya aja.” Terlihat antusias.

“Aku udah dari tahun lalu nyari akun Fb kakak, tapi nggak ketemu. Jadi aku kesulitan menghubungi kakak dari dulu.”

“Hahahaha kamu nyari pakai nama apa?”

“Rania Pramana.” jawabku singkat.

“Oh pantas karna aku nggak pakai nama asli. Kamu tahu nggak? Aku juga kesulitan nemuin akun FB mu, jadi akupun nyari cara buat menghubungimu sejak setahun yang lalu.”
Aku bahagia sekali mendengarnya, “hahaha aku pakai nama Joshua kak.”

Dan kami tertawa bersama sembari kembali menikmati kopi yang sudah semakin hangat seperti suasana obrolan kami sore ini.

“Jadi kak, siapa nama akun Fb kakak??”

“Rainbow.”

Entah mengapa senja ini terlihat lebih indah
Dari ribuan kali senja yang pernah kulalui, ini yang termegah
Ada apakah gerangan awan yang tengah riang terarak
Tariannya menciptakan suasana semarak
Ada apakah gerangan langit yang sepertinya tersipu malu
Mungkinkah dia mencoba menuliskan isi hatiku
Senja ini Indah sekali
Senja ini Cantik sekali
Selayaknya senyummu yang tak mau pergi
Hingga lamunanku melambung tinggi
(Pesona)

 

Bersambung…