Pengumuman Peserta YQueerFSCamp 2017

Ini dia nama-nama yang lulus mengikuti 4th YQueerFSCamp 2017. Pastikan ada nama kamu di bawah ini:

  1. Dicky Andreanta Sembiring Brahmana
  2. Dwiki Mulya
  3. Dimas Sigit Pambudi
  4. Fadli Rais
  5. Gilbert Lianto
  6. Isa Oktaviani
  7. Julian Nathanael
  8. Dhurrotun Nafisah
  9. Firman Saputra
  10. Sansan Maria
  11. Nanang Dwi
  12. Alip Muhammad Abidin
  13. Nur Latifa Isnaini
  14. Syaifur
  15. Masyitoh Inayati
  16. Putra Mandala Pratama
  17. Vania Sharleen
  18. Teresa Chiquita
  19. Sebastian Ardi Kusuma
  20. Ahmad Salahudin Mansyur
  21. Windy Zaskia
  22. Risky Natalia Larasati
  23. Mukhammad Fitrah Malik
  24. Alfajar
  25. Beres Lumtantobing
  26. Andrea Tujossy Yuwono
  27. Adhe Saiful Akbar
  28. Ahmad Afriyansyah
  29. Panjul
  30. Muhammad Ainul Yaqin

Untuk surat keterangan bahwa Peacemaker lolos sebagai Peserta 4th Young Queer Faith and Sexuality Camp tanggal 11 Agustus – 18 Agustus 2017 akan dikirimkan secepatnya.

Selain itu untuk peserta yang mendadak memiliki kendala dan tidak bisa mengikuti kegiatan YQueerFSCamp 2017, kami memiliki daftar nama untuk peserta yang di katagorikan dalam waiting list :

  1. AdhitanFadel
  2. Trisha Indrajayati
  3. Letza Wijaya
  4. M. Dailami Luthpi
  5. Rendi Handika Saputra

Selanjutnya cek email kamu untuk informasi selanjutnya. Atau jika membutuhkan informasi tambahan kamu dapat menghubungi kami lewat kontak informasi kami:
Email : yqueerfsc4@yifosindonesia.org
Twitter : @yqueerfscamp
FB : http://www.facebook.com/yqfsc
Blog : http://www.yqueerfscamp2017.wordpress.com

Hp : +628973268865 (Dana)

Dialog Ketubuhan Melalui Tradisi Lokal Cirebon

Oleh: Jihan Fairuz*

 

Penyerangan terhadap komunitas waria Cirebon terjadi di bulan Agustus 2015, -hari-hari yang mestinya seluruh masyarakat, khususnya umat Islam, tengah khusyuk menyelami ritus Idulfitri- sungguh ternodai. Sekelompok ormas yang mengatasnamakan Gerakan Pemuda Anti Maksiat (Gapas) itu, membubarkan kegiatan yang bertema halal bi halal kelompok waria, karena dianggap menyimpang dari ajaran agama. Aparat penegak hukum tak kuasa menghalau aksi persekusi, yang terang-benderang, melanggar hak kebebasan berekspresi warga negara.

Jika tindak persekusi terhadap komunitas yang dianggap berbeda itu telah terjadi di Cirebon, bagaimana sejarah Cirebon sendiri –yang konon dianggap sebagai derivasi dari kata Caruban¸ yang artinya campuran- bersinggungan dengan orientasi seksual dan ketubuhan seseorang?

***

SEKITAR pertengahan bulan November tahun lalu, saya masih menyimpan memori sampai hari ini, sebuah rasa kagum juga ‘penasaran’ selepas menyaksikan sebuah pertunjukan teatrikal tari di salah satu kampus di Cirebon, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), yang tengah menyelenggarakan sebuah acara kebudayaan, bertajuk “Padang Wulanan”, yang di dalamnya menyajikan pelbagai pertunjukan kebudayaan, apresiasi seni dan sastra, juga dialog santai yang merefleksikan perkembangan isu-isu sosial terkini.

Berdecak kagum karena tari yang ditampilkan mengundang siapapun yang melihatnya pasti tertawa terpingkal-pingkal, sembari sedikit bertanya dalam hati, mengapa para penari menampilkan sebuah perpaduan unik: ekspresi perempuan dalam tubuh laki-laki. Para penonton di malam itu, termasuk saya, melihat kejenakaan para penari yang mengimprovisasi gerak cepat-melambai dari tarian  di atas panggung, sedikit menunggingkan pantat ke depan, dengan ekspresi muka mbodor atau plonger (melucu dengan gestur wajah yang terkesan konyol). Tari yang saya lihat pada pertunjukan itu kental dengan nuansa humor. Humor semacam itu sesungguhnya sudah mengurat-akar dalam tradisi kebudayaan di Cirebon, ada tradisi masres, sandiwara, misalnya.

Ada sekurang-lebihnya delapan penari, meski biasanya empat orang, yang melakukan tarian tersebut di hadapan para hadirin. Musik tradisional khas pantura dengan rytme nada dan iringan yang naik-turun, juga cepat, menambah suasana semakin ramai, disambut tepuk tangan yang meriah. Wajah mereka dirias begitu tebal, selaiknya rias penari di manapun, dengan perut buncit, seperti lakon petruk dalam cerita pewayangan, tetapi yang menarik, mengapa tarian tersebut menampilkan citra perempuan dalam tubuh laki-laki.

Ronggeng Bugis

Tari Ronggeng Bugis, begitulah masyarakat menyebutnya. Historisitas tari ini sudah berkembang sejak awal kali kerajaan Cirebon (Carabun Nagari) terbentuk, sekitar tahun 1482, di bawah kepemimpinan Susuhunan Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hudayatullah. Sebutan lain dari tari yang menggugah rasa jenaka tersebut adalah Tari Telik Sandi, istilah populer pada era sekarang intelijen, mata-mata, atau spionase.

Ronggeng sendiri berarti tarian, sedangkan Bugis merupakan suku asli di Sulawesi Selatan. Dalam istilah yang berkembang di tempat lain di Nusantara, di antaranya dikenal dengan nama taledek, tandak, ringgit, lengger, gambyong, gandrung, atau doger. Secara umum, ronggeng sendiri bisa dibawakan satu orang penari, dua, empat, atau delapan sebagaimana tari pada umumnya, yang membutuhkan eksplorasi gerakan di dalamnya.

Pertanyaannya mengapa satu jenis tarian yang lahir dan berkembang di wilayah pantura Cirebon tersebut disematkan dengan nama salah satu suku di Sulawesi Selatan tersebut; karena pencipta pertama kalinya seorang yang berasal dari tanah bugis, atau hubungan komunikasi dan kerjasama antar dua kerajaan (Cirebon dan Bugis), tidak ada catatan resmi untuk menjawabnya. Yang jelas, tujuan awal tarian ini digunakannya untuk mematai-matai, karena dianggap medium seni bisa masuk ke wilayah musuh, dalam hal ini kerajaan Pajajaran yang dalam sejarahnya pernah bersitegang dengan kerajaan Cirebon. Cerita semacam ini sering saya simak dari penuturan para orang tua di kampung halaman, atau dari budayawan Cirebon, seperti Raffan W. Hasyim, dr. Bambang, ataupun Pak Handoyo. Nama terakhir adalah orang yang pertama kali mengangkat ke publik tarian ronggeng bugis di tahun 1990-an.

Lalu bagaimana dengan simbol feminin dalam tubuh laki-laki? Mengacu pada latar kebangunan Ronggeng Bugis, dalam amatan Abdul Rosyidi, Jurnalis Harian Fajar Cirebon, menandaskan bahwa masyarakat Cirebon sejak dulu sejatinya menerima keterbukaan dalam memandang keragaman agama, suku, budaya dan ras, termasuk di sini adalah keragaman identitas seksual. Dalam konteks ini, ronggeng bugis sebagai representasi keragaman seksual male to female yang berangkat dari latar kesenian Cirebon, yang telah ada sejak era Sunan Gunung Jati itu.

Ia lalu menarik benang merah dari Tari Ronggeng Bugis dengan historisitas Nyi Mas Gandasari. Menurut cerita lisan atau foklor yang berkembang di Cirebon, sosok Nyi Mas Gandasari memiliki wajah cantik yang rupawan, sehingga banyak diperebutkan oleh para jawara di masa itu. Singkat cerita, sebuah sayembara digelar sebagai syarat mempersunting Nyi Mas Gandasari adalah yang mampu mengalahkannya. Karena selain cantik, juga memiliki ilmu kanuragan yang tinggi sehingga tak ada yang bisa mengalahkannya, kecuali seorang bernama Syekh Magelung.

Syekh Magelung berhasil menaklukkan Nyi Mas Gandasari, akan tetapi ia tak kunjung menepati janjinya. Kemudian mereka berdua sempat bersiteru. Sunan Gunung Jati, guru kedua sosok itu menengahi, dengan cara akan menikahi Nyi Mas Gandasari dan Syekh Magelung bukan di dunia, melainkan di akhirat. Yang menarik, menyitir Abdul Rosyidi (2017) yang berangkat dari cerita lisan masyarakat Cirebon, bahwa sungguhpun Nyi Mas Gandasari seorang yang cantik, ia berkelamin penis.

Dimensi Spiritualitas

Baik Ronggeng Bugis ataupun kisah heroik dari Nyi Mas Gandasari, sesungguhnya tradisi itu bisa kita tarik pada realitas keragaman seksulitas dalam alam pikiran masyarakat Cirebon sudah hidup sejak lama. Fakta bahwa transvestite menubuh pada tradisi-tradisi yang ada di sana, menjadi satu perspektif untuk membuka dialog ketubuhan yang berlatar dari tradisi lokal itu sangatlah menarik.

Tradisi lokal atau kearifan lokal serupa juga bisa kita jumpai pada fakta sejarah Komunitas Bissu yang berkembang di daerah Sulawesi. Bissu memiliki keistimewaan khusus, baik seorang Calabai ataupun Calalai, yang dipercaya dapat berkomunikasi secara langsung dengan para dewata. Ia dipilih oleh ‘semesta’ sebagai manusia yang suci, bersih, dan menjadi penasehat raja-raja di kerajaan Bugis. Pada diri Bissu terdapat sebuah sisi spritualitas, yang bahkan menurut saya, tak bisa diukur dengan kacamata agama atau hukum negara.

Ronggeng sendiri punya posisi keistimewaan tersendiri, yang sangat melekat dengan relasi manusia dan Dzat Yang Illahi. Perjalanan empat tahapan spiritualitas seorang manusia yang diibaratkan seperti anak tangga yang terus naik, menyitir Sharon Joy Siddique (1977), pertama, wayang melambangkan sisi spritualitas seseorang berada di tahap syariat. Kedua, Barong, punya sisi sebagai tingkat spritualitas pada fase Tarekat, ketiga, Topeng berada pada tahap Hakekat, dan keempat, Makrifat yang terdapat pada jenis seni seperti Ronggeng.

Melakoni profesi sebagai penari bukanlah pekerjaaan biasa, atau dengan ringan kita menyebutnya jenis profesi atau pekerjaan nomor dua. menjadi penari membutuhkan kecakapan dalam menggerakkan seluruh jemari dan anggota tubuh, serta insting yang tajam dalam mengeksplorasi gerakan saat di hadapan penonton. Penari bisa menghibur para penonton, sekaligus bernilai sebagai tuntunan.

Di sisi lain, penari ronggeng yang diangkat dalam buku sastra karangan Ahmad Tohari mendudukan profesi ronggeng dalam posisi yang begitu subtil, karena mengandung unsur spritualitas yang menyertainya. Ronggeng Dukuh Paruk (1981), kisah yang menyuguhkan Srintil sebagai lakon utamanya, menarasikan bahwa menjadi ronggeng merupakan panggilan hidup selamanya.

Si Srintil tahu betul, untuk menjadi penari ronggeng ia akan menghadapi tantangan dan godaan yang begitu berat yang selalu mengintai, selain karena paras cantiknya, setali tiga uang, juga menikahi seorang ronggeng bagi seorang laki-laki adalah posisi sosial yang istimewa. Untuk itulah, penari ronggeng dilarang keras menikah seumur hidup, karena hal itu akan menyebabkan stasusnya sebagai seorang ronggeng akan hilang. tetapi siapakah yang dapat menghilangkan rasa cinta dari seseorang?

Kisah yang berlatar tragedi 1965, sekaligus menceritakan soal pembinasaan bagi orang-orang yang dianggap memiliki afiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), termasuk Srintil yang menjadi korban kebiadaban dan kebengisan tentara pada era itu. Spritualitas yang dibangun dalam imajinasi Ronggeng Dukuh Paruk sejatinya terdapat juga pada kisah-kisah lain yang tumbuh di bumi Nusantara.

Tari Topeng yang menjadi ikonik Kota Cirebon, menurut cerita lisan masyarakat Cirebon, mengandung unsur spritual yang mendalam, meski hari-hari ini, aspek spritual ini terpinggirkan karena sering dilupakan orang. setiap kali penampilan, penari Topeng terlebih dahulu lelakon (menjalani rituali tertentu), yang ditujukan untuk keselamatan dan kebahagiaan bagi para penontonnya. saat pentas dilakukakan, masyarakat yang melihat berbondong-bondong memilih berdekatan dengan si penari, hal ini ditujukan karena setiap penari topeng dalam pentasnya melafalkan puja-pujian dan doa.

Secara substansial, tujuan utama menjadi penari tidak terletak pada sisi material semata, seperti ketenaran, uang, kemegahan panggung. Kisah Srintil dalam lakon Dukuh Paruk yang, secara spesifik, menempatkan profesi penari begitu istimewa, penari topeng dengan ritual pembacaan kalimat tauhid dalam setiap tariannya, juga pada tak kalah penting adalah dimensi kesederhanaan yang disuguhkan oleh tari Ronggeng Bugis.

Seni: Dakwah Seksualitas

Seni merupakan medium yang bersifat universal. Tak ayal, wali sanga saat berdakwah menyebarkan Islam pertama kali di Nusantara acapkali menggunakan media seni yang inheren dengan karakteristik masyarakat. Sebutlah semisal Sunan Kalijaga, dengan medium wayangnya, mampu menarik minat orang untuk belajar tentang agama Islam atau tembang, syair-syair klasik Jawa seperti lir-ilir yang disampaikan ketika memberi wejangan seputar makna kehidupan. Dengannya, medium seni yang dibawa Sunan tersebut, memberi wajah keteduhan pada Islam bagi khalyak luas. Atau kita yang hidup di era milineal ini, bisa melihat kembali pola seperti pada ceramah Emha Ainun Nadjib dengan Kyia Kanjengnya. Mak Arimbi menceritakan bagaimana pengalamannya terlibat dalam dunia seni. Seorang pekerja seni, juga aktivitas di Yifos Indonesia, dirinya sering menemukan titik temu (kalimatun sawa), antara seni dan isu yang ia geluti. Baginya, medium seni jadi penghubung untuk mengenal sejarah seksualitas yang ada di Indonesia. tradisi Gandrung di Banyuwangi, misalnya, lekat dengan keragaman seksualitas manusia.

Eksistensi ronggeng bugis ataupun Nyimas Gandasari yang berbasis kearifan lokal Cirebon, menjadi ‘pintu masuk’ wacana seksualitas yang lebih ekstensif. Kearifan lokal tidak saja menjadi jejak masa lalu yang sekadar bahan nostalgia, lebih dari itu, ia menjadi ingatan kolektif sebuah komunitas masyarakat dalam menyikapi pelbagai dinamika kehidupan hari ini, dan seterusnya. Di tengah situasi dewasa ini, orang semakin mudah menjustifikasi keragaman seksualitas sebagai ancaman, maka menghadirkan sebuah diskusi yang berangkat dari pengetahuan mengenai sejarah bangsa kita sendiri adalah oase di tengah padang gurun. Iklim kebencian pada yang dianggap ‘liyan’ mudah ditebarkan di ruang-ruang publik, media sosial, stigma yang mudah disematkan pada kehidupan seorang transgender atau transvestite, yang dianggap abnormal dan penyakit masyarakat itu, mestinya sudah ditinggalkan. Karena sejarah bangsa ini adalah sejarah yang berbicara mengenai ragam perbedaan, yang bagi kita, perbedaan itu dimaknai sebagai jalan mendefinisikan makna ketubuhan.

*Koordinator Nasional YIFoS Indonesia periode 2017-2021.

======================================================================

Bahan Bacaan:

  1. The Ronggeng, the Wayang, the Wali, and Islam: Female or Transvestite Male Dancers-Singers-Performers and Evolving Islam in West Java, Kathy Foley, Asian Theatre Journal, 32, no. 2, 2015. University of Hawai‘i Press,
  2. Bissu: Menggugat Maskulinitas dan Feminitas, Bisri Effendy, 2003, Majalah Srinthil
  3. Ronggeng Bugis: Foklor Transvetite di Cirebon & Bertemu Nyi mas Gandasari, Abdul Rosyidi, 2016.

Profil Calon Pengurus Sekretariat Nasional YIFoS 2016-2020 : Para Alumni Queer Camp dan Keberlanjutan Organisasi

Semenjak akhir Oktober 2016, YIFoS sibuk mempersiapkan kegiatan penting, yakni Forum Rapat Nasional. Ini merupakan forum bagi pengurus YIFoS 2012-2016 untuk mempertanggungjawabkan kerja-kerja selama ini serta untuk memilih pengurus YIFoS 2016-2020. Forum Rapat Nasional ini menjadi momen refleksi serta konsolidasi bagi untuk merumuskan bersama mengenai arah dan strategi selama lima tahun kedepan, baik dalam pengelolaan organisasi, peran strategis dalam gerakan sosial, serta memastikan terselenggaranya kultur demokrasi dalam proses pergantian kepemimpinan YIFoS.

Khusus untuk proses pencalonan pengurus Sekretariat Nasional 2016-2020, YIFoS membentuk panitia persiapan Forum Rapat Nasional yang fungsinya selain mempersiapkan terselenggaranya forum ini, juga untuk memfasilitasi dan membangun mekanisme pencalonan ini. Dalam Anggaran Dasar YIFoS, Sekretariat Nasional terdiri dari Koordinator Nasional, Bendahara Nasional dan Sekretaris Nasional.

Untuk itu, panitia menyusun tahap-tahap sebagai berikut sebelum pemilihan berlangsung, yakni  :

  1. Pembukaan pendaftaran calon pengurus Sekretariat Nasional 2016-2020 dari akhir Oktober hingga 30 November 2016
  2. Masa perumusan visi, misi dan program/strategi dari para calon pengurus Sekretariat Nasional, dimulai dari 1 – 8 Desember 2016
  3. Masa sosialisasi online para calon pengurus Sekretariat Nasional, dimulai dari 12-15 Desember 2016

Dua tahap telah dilalui dan panitia menerima 6 (enam) orang calon pengurus Sekretariat Nasional 2016-2020 serta rumusan visi, misi dan program/strategi mereka. Keenam orang ini adalah anggota YIFoS yang juga menjadi bagian dari kesejarahan YIFoS karena peran dan kontribusi mereka selama ini dalam kegiatan ataupun program YIFoS. Keenam orang ini tentu juga adalah alumni Queer Camp. Sejak Queer Camp terselenggara, YIFoS percaya bahwa para alumni menjadi sumber inspirasi dan kekuatan bagi YIFoS untuk mengembangkan dirinya sebagai organisasi anak muda. Oleh karena itu, kepemimpinan YIFoS tak mungkin lepas dari para alumni Queer Camp. Setiap alumni Queer Camp punya perjalanannya sendiri-sendiri dalam menemukan diri dan otoritas tubuhnya, memaknai relasi kuasa dari berbagai norma dan nilai yang ada di luar dirinya, hingga menemukan langkah-langkah untuk melakukan transformasi sosial.

Sebagai organisasi anak muda yang baru berumur 6 (enam) tahun, YIFoS masih dalam proses bertumbuh. Dalam proses tersebut juga, YIFoS meyakini bahwa kepemimpinan anak muda harus terus bergulir dan upaya untuk merealisasikan hal tersebut adalah bagian dari merawat keberlanjutan, transfer pengetahuan dan pengalaman diri dan organisasi agar tak terputus dan terkumpul di beberapa individu.

Jadi, mari mengenal lebih dekat 6 (enam) orang alumni Queer Camp yang jadi sumber keberlanjutan YIFoS untuk lima tahun ke depan. Setelah melihat profil mereka, mari bergabung untuk turut andil memikirkan masa depan YIFoS dengan menyampaikan gagasan, pendapat, pertanyaan dan masukanmu terhadap rencana-rencana perubahan mereka!

Catatan :

  • Urutan dibuat berdasarkan alfabetikal.
  • Profil Calon dipublikasi berdasarkan termin sosialisasi online, yakni tiga orang untuk termin pertama (12-13 Desember) dan tiga orang berikutnya untuk termin kedua (14-15 Desember).

Launching Laporan Pelapor Khusus Hak-hak Kelompok Minoritas oleh KOMNAS HAM

news_59394_1464777154
foto 1. Perwakilan Komnas HAM bersama Narasumber
Cj1hTsYVEAARxAg
Foto 2. Pertunjukan tari tradisional dari kelompok minoritas identitas gender

Hari Rabu, tanggal 1 Juni tahun 2016 YIFoS Indonesia berkesempatan menghadiri kegiatan launching laporan pelapor khusus hak-hak kelompok minoritas yang bertempat di Kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat. Kegiatan launching laporan yang berjudul ‘Upaya Negara Menjamin Hak-Hak Kelompok Minoritas di Indonesia’ diisi dengan Talk Show yang dipandu oleh Wimar Witoelar bersama lima narasumber, diantaranya; Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementrian Kesehatan, Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementrian Dalam Negeri, Direktur Jenderal Pembinaan Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Tradisi Kementrian Kebudayaan Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementrian Sosial, serta Direktur Jenderal Pembinaan dan Produktivitas Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Kegiatan ini bertujuan untuk sosialisasi laporan pemenuhan HAM oleh negara untuk kelompok-kelompok minoritas; mendorong terciptanya lebih banyak dialog antara pemangku kewajiban dengan pemangku hak khususnya kelompok-kelompok minoritas; dan menciptakan ruang antar kelompok minoritas untuk saling berbagi pengalaman.

Acara dilanjutkan dengan penyampaian testimoni dari perwakilan kelompok minoritas, ada tiga testifier yang mewakili, perwakilan dari kelompok minoritas disabilitas menyampaikan ceritanya melalui penerjemah bahasa isyarat yang bercerita tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai laki-laki yang terlahir tuna wicara dan ketika berumur tiga tahun mengalami pelecehan seksual oleh seorang laki-laki di sekitar rumahnya, dia kesulitan untuk melaporkan kejadian yang dialami kepada orang tuanya karena keterbatasan dalam berbicara.

Testimoni yang kedua disampaiakan oleh perwakilan kelompok minoritas orientasi seksual dan identitas gender, dia menyampaikan pengalaman yang dialami oleh kelompok minoritas orientasi seksual dan identitas gender diantaranya stigma dan diskriminasi oleh masyarakat maupun institusi berbasis agama yang menolak keberadaan LGBTIQ. ‘Saya pernah melihat seorang waria yang diusir dari Masjid ketika dia sedang melaksanakan sholat, apa hak mereka melarang seseorang untuk beribadah kepada Tuhan? media juga berpengaruh besar melakukan diskriminasi dan kejahatan terhadap kelompok LGBT, masih ingat kasus pengusiran dan penutupan pesantren Al Fatah di Jogja? Pemberitaan yang tidak benar yang dilakukan oleh oknum media berimbas terjadinya diskriminasi terhadap waria yang berada di pesantren tersebut’.

Untuk testimoni yang ketiga disampaikan oleh perwakilan kelompok minoritas aliran kepercayaan dan penghayat, ‘kami sering mengalami diskriminasi dan intimidasi oleh kaum-kaum ber’agama’ serta oleh negara melalui perangkatnya, kami dipaksa untuk menggunakan label agama untuk data kependudukan, tidak ada aturan yang melindungi hak-hak penghayat dan aliran kepercayaan. Jangan pernah ajari kami untuk terus bersabar menghadapi diskriminasi terhadap kelompok kami’.

 

*Unduh laporan Upaya Negara Menjamin Hak-Hak Kelompok Minoritas di Indonesia melalui situs resmi Komnas HAM di www.komnasham.go.id

Young Queer Faith and Sexuality Camp: “Negosiasi Identitas melalui Pengalaman Ketubuhan”

Logo Young Queer Faith and Sexuality Camp YIFoS IndonesiaOleh : VK Larasati (Koordinator Nasional YIFoS Indonesia)

Sejak terbentuk pada tahun 2010, Youth Interfaith Forum on Sexuality (YIFoS) sebagai organisasi yang mendorong pelibatan aktif anak muda untuk menciptakan dan membangun lingkungan yang aman dan damai ditengah keberagaman identitas iman dan seksual; mencoba menawarkan pendidikan alternatif dalam intercultural dialogue.

Salah satunya adalah Young Queer Faith and Sexuality Camp (Queer Camp) yang dilaksanakan pertama kali tahun 2012 dan terus dilakukan setiap tahunnya. Queer Camp merupakan platform pendidikan alternatif bagi anak muda usia 18 sampai 28 tahun dari beragam identitas iman dan seksual (termasuk Lesbian, Gay, Biseksual, Trans, Interseks, Queer dan yang lainnya) untuk membangun gerakan anak muda antar identitas. Interaksi antara anak muda dari berbagai latar belakang dan identitas telah menjadi metode untuk menciptakan pemahaman dan pengetahuan; berbagi pengalaman; menanggalkan stereotype dan meniadakan stigma; mendorong munculnya gerakan anak muda dari beragam identitas; serta pelibatan aktif dalam menyuarakan keberagaman iman dan seksualitas sebagai bagian dari pemenuhan hak asasi manusia. Sampai dengan tahun 2014, lebih dari 120 anak muda berpartisipasi sebagai peserta, panitia, relawan, fasilitator, expertise, narasumber dan trainer dalam 8 hari pelaksanaan Queer Camp.

Queer Camp dilaksanakan dengan menggunakan metodologi hermeneutical dari Elisabeth Schussler Fiorenza yakni Teori Dance of Liberation and Transformation. Keseluruhan materi yakni Pengembangan Wawasan dan Kesadaran Kritis, Aksi Anak Muda terhadap Keragaman Iman dan Seksualitas, Pengembangan Kemampuan dan Community Live-In diberikan dalam bentuk ceramah, diskusi, panel, simulasi, outing, malam budaya serta live-in di komunitas-komunitas berbasis iman dan seksualitas yang berbeda. Seluruh rangkaian acara ini didasarkan pada 6 tahapan Dance of Liberation and Transformation yakni Reflection on experience and systematic analysis of oppression; Suspicion and critical analysis; Critical evaluation and proclamation; Historical symbolic conceptual reconstruction; Creative imagination; dan Liberation and transformation.

Dalam tiga kali pelaksanaan Queer Camp yang mengusung tema Membangun Perdamaian Melalui Keberagaman (2012); Dialogkan Tubuhmu, Ciptakan Sejarahmu (2013); dan Lingkar Cinta Ragam Ekspresi (2014), terdapat beragam temuan-temuan menarik terkait ketertarikan anak muda untuk menemukenali diri mereka dalam eksplorasi pengalaman ketubuhan; keingintahuan anak muda untuk mendiskusikan iman dan seksualitas secara berdampingan tanpa kekerasan dan diskriminasi yang dialami karena iman dan seksualitas mereka tidak seperti kebanyakan; negosiasi dengan keberagaman identitas yang ada disekeliling mereka.

Dari pelaksanaan Queer Camp yang didasarkan pada Teori Dance of Liberation and Transformation, YIFoS Indonesia menemukan bahwa eksplorasi pengalaman ketubuhan dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran tentang otoritas terhadap diri termasuk mendefinisikan tubuh dan identitas diri yang beragam. Dan hasilnya adalah pemahaman yang tepat terkait keragaman identitas termasuk didalamnya identitas iman dan seksual sebagai bagian dari ekspresi kemanusiaan. Sehingga, setiap orang akan merayakan keragaman identitas iman dan seksual di keluarganya, komunitasnya, di ruang kerjanya, di masyarakat dan negara.

*Baca selengkapnya disini