Dialog Ketubuhan Melalui Tradisi Lokal Cirebon

Oleh: Jihan Fairuz*

 

Penyerangan terhadap komunitas waria Cirebon terjadi di bulan Agustus 2015, -hari-hari yang mestinya seluruh masyarakat, khususnya umat Islam, tengah khusyuk menyelami ritus Idulfitri- sungguh ternodai. Sekelompok ormas yang mengatasnamakan Gerakan Pemuda Anti Maksiat (Gapas) itu, membubarkan kegiatan yang bertema halal bi halal kelompok waria, karena dianggap menyimpang dari ajaran agama. Aparat penegak hukum tak kuasa menghalau aksi persekusi, yang terang-benderang, melanggar hak kebebasan berekspresi warga negara.

Jika tindak persekusi terhadap komunitas yang dianggap berbeda itu telah terjadi di Cirebon, bagaimana sejarah Cirebon sendiri –yang konon dianggap sebagai derivasi dari kata Caruban¸ yang artinya campuran- bersinggungan dengan orientasi seksual dan ketubuhan seseorang?

***

SEKITAR pertengahan bulan November tahun lalu, saya masih menyimpan memori sampai hari ini, sebuah rasa kagum juga ‘penasaran’ selepas menyaksikan sebuah pertunjukan teatrikal tari di salah satu kampus di Cirebon, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), yang tengah menyelenggarakan sebuah acara kebudayaan, bertajuk “Padang Wulanan”, yang di dalamnya menyajikan pelbagai pertunjukan kebudayaan, apresiasi seni dan sastra, juga dialog santai yang merefleksikan perkembangan isu-isu sosial terkini.

Berdecak kagum karena tari yang ditampilkan mengundang siapapun yang melihatnya pasti tertawa terpingkal-pingkal, sembari sedikit bertanya dalam hati, mengapa para penari menampilkan sebuah perpaduan unik: ekspresi perempuan dalam tubuh laki-laki. Para penonton di malam itu, termasuk saya, melihat kejenakaan para penari yang mengimprovisasi gerak cepat-melambai dari tarian  di atas panggung, sedikit menunggingkan pantat ke depan, dengan ekspresi muka mbodor atau plonger (melucu dengan gestur wajah yang terkesan konyol). Tari yang saya lihat pada pertunjukan itu kental dengan nuansa humor. Humor semacam itu sesungguhnya sudah mengurat-akar dalam tradisi kebudayaan di Cirebon, ada tradisi masres, sandiwara, misalnya.

Ada sekurang-lebihnya delapan penari, meski biasanya empat orang, yang melakukan tarian tersebut di hadapan para hadirin. Musik tradisional khas pantura dengan rytme nada dan iringan yang naik-turun, juga cepat, menambah suasana semakin ramai, disambut tepuk tangan yang meriah. Wajah mereka dirias begitu tebal, selaiknya rias penari di manapun, dengan perut buncit, seperti lakon petruk dalam cerita pewayangan, tetapi yang menarik, mengapa tarian tersebut menampilkan citra perempuan dalam tubuh laki-laki.

Ronggeng Bugis

Tari Ronggeng Bugis, begitulah masyarakat menyebutnya. Historisitas tari ini sudah berkembang sejak awal kali kerajaan Cirebon (Carabun Nagari) terbentuk, sekitar tahun 1482, di bawah kepemimpinan Susuhunan Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hudayatullah. Sebutan lain dari tari yang menggugah rasa jenaka tersebut adalah Tari Telik Sandi, istilah populer pada era sekarang intelijen, mata-mata, atau spionase.

Ronggeng sendiri berarti tarian, sedangkan Bugis merupakan suku asli di Sulawesi Selatan. Dalam istilah yang berkembang di tempat lain di Nusantara, di antaranya dikenal dengan nama taledek, tandak, ringgit, lengger, gambyong, gandrung, atau doger. Secara umum, ronggeng sendiri bisa dibawakan satu orang penari, dua, empat, atau delapan sebagaimana tari pada umumnya, yang membutuhkan eksplorasi gerakan di dalamnya.

Pertanyaannya mengapa satu jenis tarian yang lahir dan berkembang di wilayah pantura Cirebon tersebut disematkan dengan nama salah satu suku di Sulawesi Selatan tersebut; karena pencipta pertama kalinya seorang yang berasal dari tanah bugis, atau hubungan komunikasi dan kerjasama antar dua kerajaan (Cirebon dan Bugis), tidak ada catatan resmi untuk menjawabnya. Yang jelas, tujuan awal tarian ini digunakannya untuk mematai-matai, karena dianggap medium seni bisa masuk ke wilayah musuh, dalam hal ini kerajaan Pajajaran yang dalam sejarahnya pernah bersitegang dengan kerajaan Cirebon. Cerita semacam ini sering saya simak dari penuturan para orang tua di kampung halaman, atau dari budayawan Cirebon, seperti Raffan W. Hasyim, dr. Bambang, ataupun Pak Handoyo. Nama terakhir adalah orang yang pertama kali mengangkat ke publik tarian ronggeng bugis di tahun 1990-an.

Lalu bagaimana dengan simbol feminin dalam tubuh laki-laki? Mengacu pada latar kebangunan Ronggeng Bugis, dalam amatan Abdul Rosyidi, Jurnalis Harian Fajar Cirebon, menandaskan bahwa masyarakat Cirebon sejak dulu sejatinya menerima keterbukaan dalam memandang keragaman agama, suku, budaya dan ras, termasuk di sini adalah keragaman identitas seksual. Dalam konteks ini, ronggeng bugis sebagai representasi keragaman seksual male to female yang berangkat dari latar kesenian Cirebon, yang telah ada sejak era Sunan Gunung Jati itu.

Ia lalu menarik benang merah dari Tari Ronggeng Bugis dengan historisitas Nyi Mas Gandasari. Menurut cerita lisan atau foklor yang berkembang di Cirebon, sosok Nyi Mas Gandasari memiliki wajah cantik yang rupawan, sehingga banyak diperebutkan oleh para jawara di masa itu. Singkat cerita, sebuah sayembara digelar sebagai syarat mempersunting Nyi Mas Gandasari adalah yang mampu mengalahkannya. Karena selain cantik, juga memiliki ilmu kanuragan yang tinggi sehingga tak ada yang bisa mengalahkannya, kecuali seorang bernama Syekh Magelung.

Syekh Magelung berhasil menaklukkan Nyi Mas Gandasari, akan tetapi ia tak kunjung menepati janjinya. Kemudian mereka berdua sempat bersiteru. Sunan Gunung Jati, guru kedua sosok itu menengahi, dengan cara akan menikahi Nyi Mas Gandasari dan Syekh Magelung bukan di dunia, melainkan di akhirat. Yang menarik, menyitir Abdul Rosyidi (2017) yang berangkat dari cerita lisan masyarakat Cirebon, bahwa sungguhpun Nyi Mas Gandasari seorang yang cantik, ia berkelamin penis.

Dimensi Spiritualitas

Baik Ronggeng Bugis ataupun kisah heroik dari Nyi Mas Gandasari, sesungguhnya tradisi itu bisa kita tarik pada realitas keragaman seksulitas dalam alam pikiran masyarakat Cirebon sudah hidup sejak lama. Fakta bahwa transvestite menubuh pada tradisi-tradisi yang ada di sana, menjadi satu perspektif untuk membuka dialog ketubuhan yang berlatar dari tradisi lokal itu sangatlah menarik.

Tradisi lokal atau kearifan lokal serupa juga bisa kita jumpai pada fakta sejarah Komunitas Bissu yang berkembang di daerah Sulawesi. Bissu memiliki keistimewaan khusus, baik seorang Calabai ataupun Calalai, yang dipercaya dapat berkomunikasi secara langsung dengan para dewata. Ia dipilih oleh ‘semesta’ sebagai manusia yang suci, bersih, dan menjadi penasehat raja-raja di kerajaan Bugis. Pada diri Bissu terdapat sebuah sisi spritualitas, yang bahkan menurut saya, tak bisa diukur dengan kacamata agama atau hukum negara.

Ronggeng sendiri punya posisi keistimewaan tersendiri, yang sangat melekat dengan relasi manusia dan Dzat Yang Illahi. Perjalanan empat tahapan spiritualitas seorang manusia yang diibaratkan seperti anak tangga yang terus naik, menyitir Sharon Joy Siddique (1977), pertama, wayang melambangkan sisi spritualitas seseorang berada di tahap syariat. Kedua, Barong, punya sisi sebagai tingkat spritualitas pada fase Tarekat, ketiga, Topeng berada pada tahap Hakekat, dan keempat, Makrifat yang terdapat pada jenis seni seperti Ronggeng.

Melakoni profesi sebagai penari bukanlah pekerjaaan biasa, atau dengan ringan kita menyebutnya jenis profesi atau pekerjaan nomor dua. menjadi penari membutuhkan kecakapan dalam menggerakkan seluruh jemari dan anggota tubuh, serta insting yang tajam dalam mengeksplorasi gerakan saat di hadapan penonton. Penari bisa menghibur para penonton, sekaligus bernilai sebagai tuntunan.

Di sisi lain, penari ronggeng yang diangkat dalam buku sastra karangan Ahmad Tohari mendudukan profesi ronggeng dalam posisi yang begitu subtil, karena mengandung unsur spritualitas yang menyertainya. Ronggeng Dukuh Paruk (1981), kisah yang menyuguhkan Srintil sebagai lakon utamanya, menarasikan bahwa menjadi ronggeng merupakan panggilan hidup selamanya.

Si Srintil tahu betul, untuk menjadi penari ronggeng ia akan menghadapi tantangan dan godaan yang begitu berat yang selalu mengintai, selain karena paras cantiknya, setali tiga uang, juga menikahi seorang ronggeng bagi seorang laki-laki adalah posisi sosial yang istimewa. Untuk itulah, penari ronggeng dilarang keras menikah seumur hidup, karena hal itu akan menyebabkan stasusnya sebagai seorang ronggeng akan hilang. tetapi siapakah yang dapat menghilangkan rasa cinta dari seseorang?

Kisah yang berlatar tragedi 1965, sekaligus menceritakan soal pembinasaan bagi orang-orang yang dianggap memiliki afiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), termasuk Srintil yang menjadi korban kebiadaban dan kebengisan tentara pada era itu. Spritualitas yang dibangun dalam imajinasi Ronggeng Dukuh Paruk sejatinya terdapat juga pada kisah-kisah lain yang tumbuh di bumi Nusantara.

Tari Topeng yang menjadi ikonik Kota Cirebon, menurut cerita lisan masyarakat Cirebon, mengandung unsur spritual yang mendalam, meski hari-hari ini, aspek spritual ini terpinggirkan karena sering dilupakan orang. setiap kali penampilan, penari Topeng terlebih dahulu lelakon (menjalani rituali tertentu), yang ditujukan untuk keselamatan dan kebahagiaan bagi para penontonnya. saat pentas dilakukakan, masyarakat yang melihat berbondong-bondong memilih berdekatan dengan si penari, hal ini ditujukan karena setiap penari topeng dalam pentasnya melafalkan puja-pujian dan doa.

Secara substansial, tujuan utama menjadi penari tidak terletak pada sisi material semata, seperti ketenaran, uang, kemegahan panggung. Kisah Srintil dalam lakon Dukuh Paruk yang, secara spesifik, menempatkan profesi penari begitu istimewa, penari topeng dengan ritual pembacaan kalimat tauhid dalam setiap tariannya, juga pada tak kalah penting adalah dimensi kesederhanaan yang disuguhkan oleh tari Ronggeng Bugis.

Seni: Dakwah Seksualitas

Seni merupakan medium yang bersifat universal. Tak ayal, wali sanga saat berdakwah menyebarkan Islam pertama kali di Nusantara acapkali menggunakan media seni yang inheren dengan karakteristik masyarakat. Sebutlah semisal Sunan Kalijaga, dengan medium wayangnya, mampu menarik minat orang untuk belajar tentang agama Islam atau tembang, syair-syair klasik Jawa seperti lir-ilir yang disampaikan ketika memberi wejangan seputar makna kehidupan. Dengannya, medium seni yang dibawa Sunan tersebut, memberi wajah keteduhan pada Islam bagi khalyak luas. Atau kita yang hidup di era milineal ini, bisa melihat kembali pola seperti pada ceramah Emha Ainun Nadjib dengan Kyia Kanjengnya. Mak Arimbi menceritakan bagaimana pengalamannya terlibat dalam dunia seni. Seorang pekerja seni, juga aktivitas di Yifos Indonesia, dirinya sering menemukan titik temu (kalimatun sawa), antara seni dan isu yang ia geluti. Baginya, medium seni jadi penghubung untuk mengenal sejarah seksualitas yang ada di Indonesia. tradisi Gandrung di Banyuwangi, misalnya, lekat dengan keragaman seksualitas manusia.

Eksistensi ronggeng bugis ataupun Nyimas Gandasari yang berbasis kearifan lokal Cirebon, menjadi ‘pintu masuk’ wacana seksualitas yang lebih ekstensif. Kearifan lokal tidak saja menjadi jejak masa lalu yang sekadar bahan nostalgia, lebih dari itu, ia menjadi ingatan kolektif sebuah komunitas masyarakat dalam menyikapi pelbagai dinamika kehidupan hari ini, dan seterusnya. Di tengah situasi dewasa ini, orang semakin mudah menjustifikasi keragaman seksualitas sebagai ancaman, maka menghadirkan sebuah diskusi yang berangkat dari pengetahuan mengenai sejarah bangsa kita sendiri adalah oase di tengah padang gurun. Iklim kebencian pada yang dianggap ‘liyan’ mudah ditebarkan di ruang-ruang publik, media sosial, stigma yang mudah disematkan pada kehidupan seorang transgender atau transvestite, yang dianggap abnormal dan penyakit masyarakat itu, mestinya sudah ditinggalkan. Karena sejarah bangsa ini adalah sejarah yang berbicara mengenai ragam perbedaan, yang bagi kita, perbedaan itu dimaknai sebagai jalan mendefinisikan makna ketubuhan.

*Koordinator Nasional YIFoS Indonesia periode 2017-2021.

======================================================================

Bahan Bacaan:

  1. The Ronggeng, the Wayang, the Wali, and Islam: Female or Transvestite Male Dancers-Singers-Performers and Evolving Islam in West Java, Kathy Foley, Asian Theatre Journal, 32, no. 2, 2015. University of Hawai‘i Press,
  2. Bissu: Menggugat Maskulinitas dan Feminitas, Bisri Effendy, 2003, Majalah Srinthil
  3. Ronggeng Bugis: Foklor Transvetite di Cirebon & Bertemu Nyi mas Gandasari, Abdul Rosyidi, 2016.

Pertemuan Jaringan Anak Muda

DSC01966

Jumat, 8 November 2013 – Dua belas organisasi anak muda (baik yang dipimpin oleh anak muda maupun yang fokus pada pemenuhan hak pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual (PKRS) bagi anak muda berkumpul di Hotel All Seasons͵Jakarta; untuk berpartisipasi dalam Pertemuan Jaringan Anak Muda yang difasilitasi Pamflet. Organisasi-organisasi tersebut adalah Fokus Muda, GWL (Gay Waria LSL) Muda, Centra Mitra Muda (CMM) Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI Jakarta), Youth Forum DIY, Aliansi Remaja Independen (ARI), GueTau.com, Rahima, Ardhanary Institute, Pusat Kajian Gender dan Seksualitas UI, Aliansi Mahasiswa Indonesia Peduli Kesehatan Reproduksi dan Seksual (AMIPERS) serta YIFoS sendiri. Pertemuan Jaringan Anak Muda ini merupakan langkah awal dari kepedulian semua organisasi yang hadir membangun kerjasama terkait dengan isu advokasi

 Sesi awal dibuka dengan presentasi dari setiap organisasi mengenai fokus isu advokasi, sasaran, keberhasilan, hambatan serta strategi ke depan yang akan ditempuh. Dari hasil pemaparan terungkap berbagai fokus isu, yakni peningkatan kesadaran dan penguatan terhadap pengetahuan terkait seksualitas dan otoritas tubuh di kalangan komunitas muda iman, Lesbian-Gay-Bisexual-Transgender/Transeksual (LGBT) dan Laki-Laki Seks Laki-Laki (LSL) muda, pe-integrasian HIV dengan kekerasan berbasis gender, mendorong PKRS dalam kurikulum nasional, penyediaan layanan kesehatan produksi (kespro) yang ramah remaja, peningkatan kesadaran dan perspektif SOGI dan sosialisasi Priawan kepada komunitas dan masyarakat luas, peningkatan usia perkawinan bagi laki-laki dan perempuan serta jaminan hak pendidikan bagi siswi yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Selain itu, terungkap juga berbagai tingkat advokasi, yakni mulai dari komunitas; khususnya terkait dengan pelibatan anak muda dalam pengambilan keputusan, media massa yang merupakan pembentuk opini publik hingga perubahan kebijakan, baik secara nasional (undang-undang) maupun peraturan di kementerian/lembaga pemerintah.

Dari berbagai fokus isu advokasi yang disampaikan, setiap organisasi memilih tiga isu prioritas advokasi. Melalui proses tersebut terpetakanlah tiga isu besar, yakni

  1. kemitraan setara anak muda dan orang dewasa,
  2. pemenuhan layanan kespro yang ramah remaja dan
  3. pemenuhan PKRS.

YIFoS bekerja dalam dua isu͵ yakni poin pertama dan ketiga dimana terkait dengan pemenuhan PKRS tidak bisa luput dari elemen SOGI (Sexual Orientation and Gender Identity) sebagai bagian yang terintegrasi.

Setiap isu dibahas dalam kelompok kecil yang terdiri dari organisasi-organisasi yang memiliki fokus kerja advokasi yang serupa. Setiap kelompok merumuskan tujuan advokasi dari isu yang dibahas, institusi yang disasar serta pemetaan mitra strategis yang mendukung, berpengaruh serta perlu dikuatkan dalam mencapai tujuan advokasi tersebut. Ketiganya komponen ini dirumuskan dengan pertimbangan bahwa advokasi disasar pada level nasional.

Dari hasil diskusi kelompok, terdapat rumusan tujuan advokasi sebagai berikut :

  • Tentang kemitraan setara anak muda dan orang dewasa. Tersedianya mekanisme pelibatan anak muda di tingkat komunitas͵ ruang publik (media massa) serta kebijakan sehingga dapat diakses oleh anak muda dari identitas yang beragam.
  • Tentang pemenuhan PKRS. Masuknya CSE (Comprehensive Sexuality Education) ke dalam sistem pendidikan nasional
  • Tentang layanan kespro ramah remaja. Tersedianya layanan kesehatan seksual & reproduksi yang komprehensif dan ramah

Pertemuan Jaringan Anak Muda ini diakhiri dengan beberapa kesepakatan terkait dengan mekanisme koordinasi, yakni penting untuk membuat media komunikasi online agar dapat saling bertukar informasi, diadakan pertemuan setiap 6 bulan untuk membahas perkembangan dari kerja-kerja advokasi, serta pengawalan secara rotatif terhadap tiga tujuan advokasi yang telah dirumuskan oleh organisasi yang memiliki fokus kerja yang serupa. Organisasi-organisasi tersebut adalah YIFoS, Pamflet dan GWL Muda Ina untuk isu kemitraan setara anak muda dan orang dewasa; Youth Forum DIY, dan ARI untuk pemenuhan PKRS; CMM PKBI, Ardhanary Institute dan ARI untuk pemenuhan layanan kespro ramah remaja. (Edith/10.11.13)

Ramadhan : Indahnya Keberagaman ^^

YIFoS Card _ Ramadhan

Hi Peacemaker!

Dalam menyambut Ramadhan kali ini, YIFoS mencoba untuk mengajak Peacemaker memaknai Ramadhan dan ibadah puasa tahun ini dengan tagline “Indahnya Ramadhan, Indahnya Keberagaman”

Keberagaman bukan hanya bicara soal warna kulit, tinggi badan, berat badan, pendidikan, budaya, dan tingkat ekonomi. Keberagaman juga bicara soal persepsi atau cara pandang dan juga identitas, termasuk didalamnya identitas iman dan identitas seksual.

Sayangnya, sampai dengan saat ini, kita masih banyak melihat perlakuan diskriminasi yang disertai dengan kekerasan hanya karena identitas mereka berbeda dari kebanyakan orang atau berbeda dari apa yang dianggap lumrah oleh lingkungan.

Sebut saja cerita sedih dari pengungsi Syi’ah Sampang yang harus diusir dari GOR dan kehilangan hak untuk memiliki kehidupan yang layak, ATAU cerita sedih salah satu teman transgender yang ditolak masuk ke sebuah club di Jakarta karena identitas seksualnya, ATAU cerita sedih jemaat HKBP Filadelfia dan GKI Yasmin yang dilarang untuk beribadah karena dianggap melanggar peraturan, dan masih banyak lagi.

Lalu, apakah kita bisa merubah kondisi yang intoleran terhadap keberagaman identitas iman dan seksual? TENTU SAJA BISA

Caranya?
Dengan meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang keberagaman identitas iman dan seksual, serta menciptakan lingkungan yang ramah terhadap keberagaman identitas. Setiap individu terlepas dari identitasnya berhak untuk menikmati hidup yang layak, kapanpun dan dimanapun.

Jadi jangan tunggu Ramadhan dimulai ya,
untuk bisa mewujudkan indahnya keberagaman 🙂

(Jakarta – Larasati, 09072013)

Training of Trainer Pengorganisasian LBT

Hi Peacemaker!!
Admin datang lagi dengan membawa cerita dari salah satu pengurus YIFoS, Yulia Dwi Andriyanti yang akrab disapa dengan Edith, mengikuti pelatihan terkait Training of Trainer Pengorganisasian LBT (Lesbian, Biseksual dan Transgender) yang diselenggarakan di oleh Ardhanary Institute (AI). Kegiatan yang berjalan dari 10-12 Oktober 2012, menjadi sarana bertemunya berbagai komunitas dan organisasi LBT dari berbagai provinsi di Indonesia͵ baik peningkatan keterampilan fasilitasi maupun membangun solidaritas sebagai LBT yang akan berperan menggerakkan komunitas. Kegiatan ini diadakan di Wisma Hijau, Depok.

Mari kita simak bersama yuk pemaparan hasil kegiatannya 🙂

Para peserta datang sehari sebelum kegiatan. Aktivitas dimulai dengan saling berkenalan͵ menetapkan kontrak belajar dan juga melakukan pembagian tugas selama pelatihan berlangsung͵ yakni tim review materi͵ tim time keeper dan juga tim ice breaking. Perwakilan komunitas dan organisasi beragam. Ada yang bergerak pada penguatan kapasitas individu LBT͵ seperti Gendhis (Lampung)͵ Talitakum (Solo)͵ Gamacca (Makassar)͵ Dipayoni (Surabaya) yang bergerak di ranah advokasi LGBT seperti PLU Satu Hati (Yogyakarta); dan juga yang memiliki persinggungan dengan isu lain͵ seperti Kipas (Makasar) dan Effort (Semarang) dengan isu buruh͵ Rumah Belajar  Pluralisme (Medan) dengan isu pluralisme serta Youth Interfaith Forum on Sexuality dengan isu lintas iman. Keberagaman arah komunitas dan organisasi ini menjadi sarana untuk membangun komunitas LBT yang tidak hanya mampu menguatkan komunitas͵ melainkan juga berkontribusi dalam perubahan sosial.

Pada permulaan hari͵ Lily Sugianto dari AI mengajak peserta mereview konsep seks dan gender biner yang berkembang dimasyarakat; seks yang terdiri dari penis dan vagina serta gender yang terdiri dari perempuan dan laki-laki. Konsep seks dan gender yang biner inilah yang membuat keberadaan seks dan gender selainnya dianggap tidak ada ataupun ditiadakan. Melalui diskusi kelompok kecil͵ peserta diajak untuk merumuskan kembali tentang definisi seks dan gender yang mampu mengakomodir keberadaan waria͵ priawan͵ interseks͵ perempuan tomboy͵ laki-laki kemayu͵ biseksual dan homoseksual. Dari hasil diskusi kelompok dan panel͵ didapatkan poin-poin penting mengenai konsep seks dan gender yang non biner͵ yakni :

  • Seks bersifat biologis͵ terdiri dari alat kelamin͵ kromosom dan hormon͵ berfungsi untuk prokreasi dan rekreasi͵ dan dapat dirubah
  • Gender bersifat sosial (dikonstruksi oleh masyarakat)͵ terdiri dari peran͵ penghayatan diri͵ dan dapat dirubah.

Diskusi berlanjut pada konsep keragaman gender dan seksual. Terkait dengan ini͵ terdapat beberapa aspek yakni orientasi seksual serta ekspresi gender. Orientasi seksual adalah kepada siapa seseorang tertarik secara fisik͵ emosional͵ baik terhadap seks biologis dan/atau gendernya;  bisa homoseksual (seks biologis/gendernya sama) ͵ heteroseksual (seks. biologis/gender berbeda) dan biseksual (terhadap seks biologis/gender yang sama dan berbeda). Sementara ekspresi gender adalah bagaimana seseorang mengekspresikan dirinya berdasarkan kualitas feminin dan maskulinnya. Orientasi seksual tidak ada kaitannya dengan ekspresi gender. Ini berarti bahwa tidak semua perempuan maskulin serta merta adalah lesbian; bisa juga berarti bahwa tidak semua priawan adalah heteroseksual.

Setelah memahami tentang konsep seks dan gender͵ peserta diajak untuk membahas tentang berbagai bentuk ketidakadilan gender – sebagai konsekuensi dari pemahaman seks dan gender yang biner – di berbagai ranah kehidupan͵ yakni :

  • Stereotipe͵ yakni pelabelan.
  • Subordinasi͵ yakni penomorduaan.
  • Kekerasan͵ berupa pskis (verbal)͵ fisik͵ ekonomi dan seksual
  • Beban ganda
  • Stigmatisasi
  • Marjinalisasi

Akhir sesi di hari pertama ditutup oleh Agustine dari AI tentang bagaimana peserta bisa memahami Yogyakarta Principles sebagai instrumen vokasi terhadap komunitas LGBTIQ. Yogyakarta Principles merupakan instrumen hukum internasional yang disusun oleh ahli hukum dan ham mengenai perlindungan terhadap orang-orang dengan orientasi aekaual dan gender identity yang berbeda. Instrumen ini disusun di Yogyakrta pada tahun 2006. Meskipun belum diratifikasi͵ menjadi penting bagi organisasi LBT untuk menggunakan instrumen hukum ini sebagai landasan dalam melakukan advokasi maupun peningkatan kesadaran tentang perlindungan terhadap hak-hak LGBTIQ.

Di hari kedua͵ peserta berdiskusi bersama Khoirul Anam dari Human Right Working Group tentang SOGI (Sexual Orientation and Gender Identity) dan instrumen ham. Terdapat prinsip utama dalam ham͵ yakni:

  • Non diskriminasi
  • Anti kekerasan
  • Universal
  • Keadilan

Terkait dengan ham͵ negara memiliki kewajiban untuk melindungi (hadir dan bertindak ketika terjadi pelanggaran)͵ Menghormati ( tidak intervensi terhadap integritas personal)͵ dan memenuhi (mengimplementasi mekanisme ham hingga tingkat yang paling kongkrit).

Yang dimaksud dengan pelanggaran ham adalah

  • By act͵ yakni dilakukan secara aktif oleh negara͵ termasuk melalui kebijakan
  • By ommission͵ yakni melakukan pembiaran

Dalam kaitannya dengan konteks kebebasan beragama terdapat dua hal͵ yakni :

  • Forum eksternum (tata cara beribadat) dimana negara masih boleh mengatur
  • Forum internum (ekspresi iman) dimana negara tidak boleh mengatur.

Sesi berlanjut pada bedah pengalaman pengorganisasian dari masing-masing komunitas untuk menganalisis metode dan tantangan yang dihadapi. Beberapa hasil diskusi yang didapat adalah :

  • Untuk pengorganisasian LBT yang bekerja sebagai buruh͵ metode diskusi yang firmal akan sulit dilakukan͵ mengingat jam kerja yang berbeda sehingga terkadang ketika disjkusi diadakan hanya beberapa orang sja yang hdir untuk itu͵ organiser harus siap dengan diskusi informal.
  • Membentuk LBT crisis centre sebagai sarana penguatan individu LBT dalam menghadapi tantangan yang dihadapi di lingkungan sekitarnya.
  • Membuat antologi cerpen LBT sebagai sarana bagi LBT untuk bercerita tentang dirinya
  • Mengadakan kemah pemuda untuk membangun pengertian antara kelompok LGBTIQ dan kelompok iman
  • Menjadikan tempat usaha͵ yakni angkringan͵ sebagai media pertukaran informasi terkait seksualitas

Setelah peserta melakukan analisis metode pengorganisasian͵ Masruchah͵ Sekjen Komnas Perempuan͵ memandu sesi tentang pendidikan kritis. Pendidikan kritis mendorong peserta menjadi subjek͵ bukan objek. Materi pendidikan berasal dari realitas atau pengalaman. Hal ini akan mendorong proses yang dialogis karena tidak ada peran guru dan murid.

Dalam memandu agar proses pendidikan kritis͵ maka penting untuk mengetahui daur belajar pengalaman yang terstrukturkan. Hal ini terdiri dari :

  • Melakukan; melalui peengalaman maupun peristiwa yang dimunculkan lewat cerita͵ studi kasus͵ permainan dan media lain
  • Mengungkap data; menyatakan kembali apa yang telah dialami melalui tanggapan dan kesan terhadap pengalaman tersebut
  • Menganalisa
  • Menyimpulkan
  • Menerapkan kembali lagi ke melakukan͵ dst

Pemahaman mengenai proses pendidikan kritis ini menjadi panduan bagi para peaerta ketika melakukan proses memfasilitasi sebagai bentuk dari upaya pengorganisasian bagi komunitasnya serta perubahan sosial. Di hari terakhir͵ para peserta melakukan praktek fasilitasi sebagai sarana untuk mengaplikasikan pengetahuan yang telah didapat pada dari hari-hari sebelumnya.

(Yulia Dwi Andriyanti,  @Queer_in_life)

Tetap simak terus postingan-postingan di blog YIFoS, untuk tahu informasi ter-update dari setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh YIFoS.

Salam Damai dalam Keberagaman 🙂

International Day Against Homophobia and Transphobia

Tumbuhkan Cinta Untuk Menghapuskan Kekerasan Berdasarkan Orientasi Seksual Dan Identitas Gender

Kekerasan demi kekerasan seperti menjadi tontonan setiap hari di Indonesia. Dari mulai kekerasan atas nama agama sampai kekerasan atas nama perbedaan apapun. Apa yang dianggap berbeda maka layak untuk disingkirkan. Kemarin Ahmadiyah menjadi korban, hari ini Syiah, besok Anda dan lusa saya, bgitu terus menerus lingkaran kekerasan terjadi dan mengancam setiap orang. Sayangnya Negara dalam hal ini tidak pernah hadir atau “kalah” terhadap tekanan kelompok pelaku kekerasan.

Kasus-kasus kekerasan yang terus menerus berlangsung, menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia telah kehilangan makna cinta dan kasih pada yang berbeda. Semua perbedaan diselesaikan dengan kekerasan dan kebencian. Padahal cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia karena cinta itu membangkitkan semangat. Hukum kemanusiaan dan gejala alam pun tak mampu mengubah kebebasan cinta, ungkap Khalil Gibran seorang pujangga asal India.

Dalam peringatan Hari International Melawan Homohphobia dan Transphobia (IDAHOT) 2012; Forum Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Interseks dan Queer Indonesia (Forum LGBTIQ Indonesia) mengangkat tema “Cinta Untuk Semua“.

ejarah International Day Against Homophobia (IDAHO) sendiri, 17 Mei 1990, World Health Organization (WHO) mengeluarkan homoseksual/ transgender sebagai penyakit. 26 – 29 Juni 2006,  dalam konferensi hak LGBT di Montreal, Kanada; memutuskan 17 Mei sebagai hari menghapus kebencian pada kelompok LGBT, atau dikenal dengan IDAHO (International Days Against Homophbobia) yang selanjutnya berkembang menjadi IDAHOT (International Days Against Homophobia dan Transphobia).

Indonesia melalui Kementerian Kesehatan membuat acuan yang dikenal dengan Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa (PPDGJ) III point F66, menyatakan bahwa homoseksual bukan sebuah gangguan kejiwaan ataupun penyakit. PPDGJ ini menjadi acuan bagi para medis, seperti dokter, psikologi dan psikiater di Indonesia.

Forum LGBTIQ Indonesia meminta pemerintah untuk melindungi secara khusus kelompok yang berbeda orientasi seksual dan identitas gender dari segala bentuk diskriminasi dan kekerasan.

Forum LGBTIQ Indonesia meminta pemerintah membuat kebijakan yang menghapuskan segala bentuk kekerasan atas dasar orientasi seksual dan identitas gender manusia.

Forum LGBTIQ Indonesia meminta pemerintah untuk menjamin kebebasan individu maupun kelompok untuk kebebasan berekspresi, berkumpul dan berserikat secara damai dalam keamanan tanpa diskriminasi orientasi seksual dan identitas gender.

Forum LGBTIQ Indonesia meminta pemerintah menerapkan program pelatihan bagi polisi, sipir penjara dan penegak hukum lainnya tentang perbedaan orientasi seksual dan identitas gender serta mendukung kampanye informasi publik untuk melawan homophobia dan transphobia di masyarakat dan di sekolah.

(Catatan: Siaran Pers Forum LGBTIQ: Dalam Aksi Peringatan Hari IDAHO di Bunderan HI, 19 Mei 2012)


Bubarnya ILGA: Maksiat atau Muslihat?

Konferensi ILGA yang diikuti oleh berbagai peserta yang datang dari berbagai daerah,  bahkan Negara ini bubar akibat luapan kemarahan sebagian kelompok yang  mengatasnamakan diri sebagai umat Islam yang saleh. Padahal, konferensi ini bukanlah jenis konferensi besar dengan agenda yang revolusioner. Salah seorang peserta konferensi itu menyatakan bahwa konferensi ini Odak lebih hanyalah acara “kumpul‐kumpul” dan ngobrol santai. Menanggapi hal ini, saya melihat terdapat ambiguitas taraf tinggi yang menunggangi peristiwa yang terjadi beberapa hari yang lalu ini.

Pertama, apakah pembubaran konferensi ini benar‐benar dilakukan atas dasar agama, yang dalam hal ini tentu adalah Islam, mengingat ‘peserta’ penolak konferensi ini adalah ormas‐ormas Islam? Kedua, apakah kelompok‐kelompok yang mengaku berbicara atas nama agama ini tahu betul dengan apa yang mereka bicarakan? Salah satu pelaku aksi penolakan ini sempat menyatakan bahwa dirinya dan rekan‐rekan yang ada  dibelakangnya merasa keberatan dengan diadakannya konferensi ini sebab hal ini sama saja dengan memfasilitasi tindak kemaksiatan, sempat juga ia menggebrak pintu kamar hotel yang ia anggap sebagai fasilitator tindakan “berdosa” ini. Satu pertanyaan yang menggelitik saya tentu adalah, apa yang dimaksud kemaksiatan dalam konteks ini? Apakah berkumpul, berbincang‐bincang, bertukar pendapat, disebut sebagai maksiat? Lalu apa hubungannya “kemaksiatan” yang terjadi di hotel dengan ormas‐ormas Islam itu? Apakah jika orang lain melakukan maksiat, maka mereka akan juga menanggung dosanya?Apakah jika si A tidak melaksanakan sholat, misalnya, si B, si C, akan ikut menanggung dosanya?

Lagipula, tanpa bermaksud merendahkan fungsi hotel, bukankah sebagian besar hotel memang sudah akrab dengan hal‐hal yang dianggap dekat dengan “maksiat” oleh beberapa kelompok agama, seperti minuman keras, perselingkuhan, dan lain‐lain? Lalu mengapa baru sekarang protes ini dilancarkan? Kalaupun ada hotel yang melarang pasangan lawan jenis yang bukan suami istri menginap dalam kamar yang sama, apakah hal ini lantas berarti di kemudian hari diberlakukan juga larangan untuk tidak menginap di hotel bagi pasangan sejenis tanpa dilengkapi surat keterangan yang menyatakan bahwa mereka bukan pasangan homo?

Saya malah curiga, terdapat kepentingan lain selain kepentingan agama yang  menunggangi peristiwa ini, saya memandang hal ini lebih bermuara kepada  unsur‐unsur politis, lebih tepatnya pada pokok pengalihan isu. Seperti kita ketahui bersama, media memiliki peranan yang sangat penting bukan saja dalam penyajian fakta, tetapi juga dalam hal penggiringan opini masyarakat. Tidak mungkinkah jika isu ini sengaja dihembuskan untuk tujuan pengalihan perhatian publik?

Dengan kata lain, blow up media terhadap kasus ini dilakukan untuk menutup kasus yang lain, yang mungkin di dalamnya adalah kasus Century, Susno Duaji, dan lain-lain? Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa konferensi yang serupa dengan yang dilakukan ILGA ini bukan pertama kali ini saja terjadi. Negara kita telah beberapa kali mengadakan IDAHO (Interntional Day Against Homophobia), tetapi nyatanya, semua berjalan dengan lancar. Tidak ada satupun tindak anarki yang terjadi. Sehingga dengan kata lain, saya menanggapi, bukankah ini tak lebih dari sekedar provokasi?

Saya tidak terlalu percaya jika kelompok-kelompok ini mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, berkaitan dengan isu haram terhadap LGBT. Saya curiga, mereka memandang hanya dalam sebuah fragmen sempit, yakni Homo. Itu saja, tanpa kemudian melakukan kajian tentang apakah Homo itu sekedar orientasi atau perilaku? Dalam budaya kita, homoseks bukanlah hal baru, dalam dunia pewayangan, kita mengenal Srikandi, seorang transgender. Di Ponorogo, Jawa Timur, warok memiliki seorang gemblak.

Saya mengamini apa yang disampaikan oleh bapak Heri Susanto saat mengisi kuliah politik pengakuan (politic of recognition) di sekolah kritik ideologi, Impulse, beberapa waktu yang lalu. Beliau menyatakan bahwa untuk mengetahui sesuatu, kita perlu membuat jarak dengan hal itu. Hal ini dianalogikan dengan orang yang membaca tulisan, seseorang tidak akan bisa membaca tulisan jika tulisan tersebut ditempelkan tepat di matanya, oleh karenanya perlu diberi jarak‐jarak tertentu yang dengannya tulisan tersebut dapat dibaca. Manusia membutuhkan jarak beberapa sentimeter dari mata ke tulisan untuk dapat membaca tulisan tersebut. Demikian juga dengan cara menanggapi isu LGBT ini, kita tidak akan dapat mengerti apa yang sebenarnya ada di dalam LGBT jika kita terus saja merongrong mereka, tanpa kita mau memberi jarak terhadap diri kita sendiri untuk belajar lebih banyak tentang LGBT sebelum memvonis mereka salah. Mengutip Goethe, ia menyatakan, those who know one, know nothing. Dari perspektif lintas iman, saya meyakini bahwa agama bukan saja berbicara tentang benar dan salah, tetapi ia berbicara tentang bagaimana sesuatu itu bisa menjadi benar dan bagaimana
sesuatu itu menjadi salah.

Khoirul Anam
Yifos (youth interfaith forum on sexuality), Yogyakarta.

@Dimuat dalam Majalah Bhinneka Volume 6 Mei 2010, edisi khusus ILGA 2010

Inter-Identity Dialogue – Another Passion of Globalchangemaker

Being one of the person who is chosen to participate in Globalchangemaker Asia Youth Summit encourages me more to be consistent and passionate with I am doing now in Indonesia. I met almost fifty young people in this Summit with their activism in youth sector in many different issues, varies from environment, human rights, education, poverty, and also social business. In the Summit, I am the only participant who brought different issue – on how to dialogue faith and sexuality amongst young people. This issue has been my concern for almost one and a half year. This is the way that I do on how to put inter-identity dialogue (especially related to sexuality and faith) into multicultural discourse since what has already become a common thing in Indonesia is just only related to interfaith or inter-religious dialogue, or inter-cultural dialogue – with the assumption that Indonesia consists of different people based on sex, ethnicity, religion, and social status. In this context, the diversity of sexual orientation and gender identity seems not to be discussed – in other word that it’s doesn’t exist. That’s why I would like to start this dialogue from young people to bridge the gap and be critical with their own identity so that the violences – both verbal and non-verbal – that may occur because of it can be eliminated.

The most thing that I learnt from this summit was on how to sell and market our ideas. Those are two things that I didn’t do optimumly during my work. The 30 second pitch session made realize that doing activism was just similar like you do your bussiness. You need to workplan, teamwork, and marketing strategies. I didn’t ellaborate well the last thing. Also, in doing fundraising. I have never thought before to apply fund to any companies and government, regarding with my issue. What I did was to collect fund or other supporting things (e.g venue) from individuals and non-governmental organization that also has similar concern with my work. During my experiences to do fundraising, I don’t need to do formal presentation in front of them since I use to meet and interact with them in during network’s meeting – that used to be informal. In short, in doing my activism, I really collect the resources from civil society organizations more than government and companies.

During the summit, I met participants from Myanmar. Zin Miko and Dau Ze. They are passionate youth who really want to make change within their country. They explain about their work although it is hard to deal with the system in their country. Zin told me about her activity to give public health to people from lower economic class by providing a small place where they can do the regular check up. Zin also accompany them to get access to the hospital so that they didn’t have to pay so much cost. Dau Ze told me about his activity to educate young people from lower economic class while their parents still think that education is not really worthy. That’s why Dau Ze has to lobby parents so that they allow their children to study. He also has to deal with economy problems since some parents also ask their children to also help them to fulfill their daily needs. Besides telling their activities, they also shared about the situation of young people there. It was not easy for young people to gather. “Even in the street, when there are people who walked together, there will be someone who asks about what we are doing.” He also explain about how human right issue becomes so sensitive in Myanmar. “If you bring book with the tittle of ‘human right’ in Burmese language, you will be interrogated. But not in English language. I have my one of my friend get into the prison because of that.” Their stories and activism encourage me a lot to be persistent with what I am doing now so far. I feel the same burden although not in the same context. Indonesia has already passed the dictatorship era and after that, another struggle begins. To contest and deconstruct the system. Related to what I do, I am also on my way to contest the state that put the hetero normative paradigm in making and implementing policies, from Marriage Act that only put heterosexual couple to Pornography Law that put homosexual as part of pornography content. Besides, cultural (and religious) norms itself that put the idea of procreative-nuclear-family and excluded other options and how the religious institution use its power to to spread the hate-speech and intolerance to people with different sexual orientation and gender identity.

I understand that my work relating to faith and sexuality issue will be new or rare issues that young people usually get involved but I think most of us who attend this summit, I bet have already got mind-set about how to live in multicultural and diverse society since we will meet many young people from various background, cultures, thoughts with different passions and dreams based on what they face in their surrounding. As the consequence, we will open for any possibility of certain issue that may raise based on its context. It’s just unfortunate for me that I talked to one of person, whom I knew after that he had done great initiative for his cause. He asks about my work and I explain that I work with LGBT (Lesbian Gay Bisexual Transgender/Transsexual) group and also young faith group. He is a little bit shock when I said that I worked with LGBT group and then asked about how their lifestyle is and how come I can worked with them. I felt a little pissed off at that time because he said it with mocking gesture and synical smile at me. Then I briefly say that I work with them because I am also part of community. I saw his face was a little bit confuse. Then I replied his confusing expression by saying that I am lesbian and I am part of the community. He was shocked until I asked him whether he ever has LGBT friends or not before. He said no. Then I directly give my hand to him and shake his hand and said and smiled, “Well, it’s so nice to your first lesbian friend!”. He laughed but I knew that he was still shocked. Then he said to something that made me feel bad and quite upset. He said that there is no LGBT in his country. I briefly countered what he had already said by saying that there was an NGO that made compilation about LGBT activism in Asia, and it includes his country but I thought he didn’t believe it. Soon, he said goodbye to me and that was the end of our conversation. I felt upset at that time, but at the other side, I got so sure that I have to bring this issue amongst young people, not only in my country, but also other young people from other countries in Asia so that young people will see it as an issue that have to be accommodated and struggled.

Last but not least, after this summit, I am going to hold youth camp. I have already got the name for this camp. It is called Indonesia Young Queer Faith and Sexuality Camp. In that camp, I will let 30 young LGBT people and 30 young people from faith communities to meet, interact, share experiences related to their sexuality and faith. The outcome that I expect is that there will be initiative that will be conducted together to spread the words of celebration of diverse sexuality and faith to more young people in Indonesia. I think that it will be a magnificent camp for young people to be critical with their own identity and break the stereotypes and prejudices among each other. I plan to work with some NGOs that already has expertise in interfaith areas, and also try to approach people that have same concerns in other countries, especially due to queer theology discourse.

The 5-days experiences in Asia Youth Summit re-energize my passion to be always persistent with what I have done. I have a big hope that the next summit will consider the inter-identity dialogue or at least LGBT issue as one of the option that is listed in type of activism that young people do. Asia Youth Summit is the space to celebrate all of the diversity and that’s how the solidarity starts – from learning and listening others so that we can work hand in hand to build a better life.

@Yulia Dwi Andriyanti. August 9th, 2011

[More about Asia Youth Summit, just click here]