Kegamangan orang atas pengetahuan mengenai seksualitas tak lagi dapat membedakan mana wilayah seks dan mana wilayah seksualitas. Misael Napitupulu, pada pengantar materinya, berujar bahwa seks mencakup jenis kelamin, sedangkan seksualitas punya aspek luas.

Terminologi seksualitas memiliki sejarah panjang, yang di dalamnya, berkaitan dengan bagaimana manusia mengartikan, mempersepsikan dan mengkonstruksikan dunia di sekitarnya. “Keseluruhan ide mengenai tubuh, identitas, penghayatan diri, pengalaman langsung, ekspresi, fantasi, minat dam gender itulah yang masuk wilayah seksualitas,” Papar Ael.

Dalam konteks yang lebih spesifik, peradaban Nusantara sejatinya memiliki kekayaan budaya yang berkaitan dengan seksualitas. Kekayaan tersebut bersifat ragam kultural. Hanya saja, kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara menggeser keragaman itu seolah bersifat tunggal. Situasi ini, lanjut Ael, ditengerai terjadi melalui slogan Gold, Glory and Gosphel, yang dibawa bangsa Eropa dan berimplikasi luas terhadap cara pandang seksualitas di Indonesia, hingga dewasa ini.

Bicara sejarah, dengan sendirinya, tak lepas dari soal relasi kuasa atau power relation.  Salah satu orang yang punya konsentrasi sekaligus punya andil pada dunia seksulitas dan relasi kuasa adalah Michael Foucalt. Sebagai filsuf, karya Magnum Opus-nya mendapat perhatian luar biasa dari publik, yakni History Of Sexuality.

Michael Foucalt mengkategorikan tiga periode sejarah seksualitas. Periode pertama ditandai dengan lahirnya peradaban Yunani. Foucalt sendiri melihat periode sejarah seksualitas pada era ini disebut juga Ars Erotica. Setiap individu punya kebebasan dalam menjalankan kehidupan seksualitas. Praktisnya, kontrol kekuasaan atas makna seksualitas tidak dominan pada kekuatan tertentu.

Dalam penjelasannya, Ael menyinggung pada sejarah seksualitas di era Yunani, alih-alih individu punya kebebasan dalam urusan seksualitas, justeru melahirkan masalah baru. Guna prasyarat dalam ritus-ritus yang dijalankan pada warga Yunani Kuno acapkali mengorban tumbal, yang terjadi pada ritus seksual. Ael sendiri melihat ini sebagai bentuk kekerasan seksual.

Meski begitu, periode ini memberi satu inspriasi yang tak kalah menarik. Negara tak ikut campur dalam urusan seksualitas warganya, kehidupan seksualitas berjalan dengan penuh keterbukaan, nirtabu, yang kemudian, kesemuanya dapat menghasilkan karya seni eksperimental berupa patung-patung dan relief kuno yang menceritakan isu seksualitas pada masa itu.

Pada periode selanjutnya, negara mulai ikut ambil bagian dalam perkara seksualitas warga sipil. Dalam istilah yang disampaikan Foucalt, pada periode kedua ini, otoritas kekuasaan punya andil besar dalam mengekang dan membatasi seksualitas agar sesuai dengan prinsip moral penguasa. Ini dapat dilihat penggambaran tokoh fiktif Mrs. Grundy, yang punya simbol betapa orang-orang di periode ini takut mengekspresikan segala sesuatu yang berhubungan dengan seksualitas.

“Seksulitas dianggap barang remah, berdosa, mendapat tindak represi dari kekuasaan, bersifat tertutup. Bagi Foucalt sendiri, era ini disebut Periode Victorian, di mana otoritas kekuasaan tunggal bernama Gereja punya kontrol kuat terhadap isu-isu moral,” Terang Ael menjelaskan.

Periode Scientia Sexualitas dikategorikan Michale Foucalt sebagai periode ketiga. Yang mulai menggeser arah seksualitas menjadi rumusan baku, teori-teori ilmiah, masuk ruang klinis. Periode ini mulai mendapat genderangnya pada abad sembilan belas.

“Kita melihat setiap potongan sejarah itu utk melihat posisi kita. Sejarah itu dinamis, bisa saja masa mendatang mulai berani utk belajar, melihat ada perubahan dan pergeseran realitas di masyarakat. Kita berani berdiskusi soal realitas yg ada. Bahwa Foucalt menulis sejarah seksualitas, bukan berarti dia merepresentasikan soal keseluruhan seksualitas,” ujarnya sekaligus menutup sesi materi yang disampaikan. Peserta 5th Queer Camp melanjutkan dengan berdiskusi kelompok melalui pembuatan skema sejarah seksuliatas yang dialami oleh masing-masing individu dan komunitas

5th Young Queer and Sexuality Camp (Queer Camp) diselenggarakan pada 20 sampai 27 Oktober 2018, bertempat di Yayasan Satu Keadilan, Bogor Jawa Barat. Kegiatan ini diikuti oleh peserta yang datang dari wilayah Aceh sampai Papua, dengan jumlah peserta mencapai 35 orang, dengan ragam latar belakang suku, ras, agama dan orientasi seksual (yifos Indonesia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s