Oleh: Amar Alfikar*

Dalam sebuah kesempatan di ruang sekolah informal bernama Transchool, yang ditujukan untuk membuka ruang pembelajaran bagi teman-teman waria muda seluruh Indonesia, di bulan Oktober lalu, saya diminta menjadi narasumber untuk mendedah bagaimana agama, dalam hal ini Islam, memandang kelompok waria atau transgender secara umum.

Di awal forum saya langsung memulai pertanyaan yang cukup personal dan psychologically shaking, mengguncang ranah psikis sekaligus keimanan paling dasar yang kerap menghantui teman-teman: “siapa yang merasa bahwa menjadi transgender adalah suatu hal yang berdosa?” 99% orang mengangkat tangan mereka sebagai tanda bahwa mereka menganggap diri sebagai pendosa.

Labelisasi pendosa yang melekat dalam diri seorang transgender tentu bukan berangkat dari kesadaran paling sunyi dan murni dari dalam diri, namun telah dikonstruksi demikian rupa oleh masyarakat. Melalui narasi-narasi agama yang dilontarkan kepada transgender, masyarakat kerapkali melekatkan label pendosa yang pada gilirannya tidak hanya melanggengkan budaya diskriminatif melalui kacamata agama, namun juga disadari atau tidak telah menanamkan anggapan secara sangat kuat dalam diri transgender yang membuatnya menganggap diri sebagai pendosa yang dilaknat Tuhan dan agama.

Menariknya, banyak teman-teman transgender yang kemudian justru mengikuti dan mengimani wacana mainstream yang memandang segala sesuatu hanya dari perspektif hitam-putih, halal-haram, surga-neraka, secara sempit dan sederhana. Tak jarang saya temui transgender yang bersikukuh bahwa “Kita ini pendosa, menjadi transgender ini sebuah dosa yang sangat dilaknat Tuhan, kita ini kan menjadi seperti ini karena mengikuti nafsu kita, jadi tidak perlu lah kita ini bicara agama, kita nggak pantas bicara itu”

Maka sesungguhnya menjadi menarik ketika kita menggali statemen tersebut melalui sudut pandang yang paling fundamental atau dasar: benarkah seseorang menjadi transgender karena mengikuti nafsu? Benarkah mengikuti nafsu berarti melanggar kodrat Tuhan, melanggar kesucian agama?

Selama ini, nafsu seringkali dimaknai sebagai persoalan maksiat belaka, seolah nafsu hanya berjalin kelindan dengan perbuatan-perbuatan keji yang nir nilai yang dilakukan oleh manusia. Dalam pemahaman yang hitam-putih, nafsu kerap hanya dilihat sebagai hasrat yang mendorong manusia melakukan perbuatan tercela yang penuh dosa dan pelakunya layak dimasukkan ke dalam neraka.

Tiap kali narasi tentang nafsu ini terdengung, saya selalu ingat dengan kitab Ihya ‘Ulumuddin (menghidupkan ilmu agama), sebuah magnum opus karya Al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i, seorang sufi, fuqaha dan filsuf Islam yang karyanya terus menerus dikaji dan menjadi rujukan hingga saat ini. Dalam kitabnya tersebut, Al-Ghazali mengklasfikasikan nafsu menjadi tiga, yakni amarah (nafsu yang mendorong manusia berbuat kejahatan), lawwamah (nafsu yang mendorong manusia kepada kejahatan namun kemudian menyesalinya) dan muthmainah (nafsu yang mendorong manusia berbuat kebaikan).

Lebih jauh, Imam Nawawi Al-Jawi al-Bantani, seorang ulama klasik terkemuka Indonesia, menjabarkan lebih luas pembagian nafsu menjadi tujuh dalam kitabnya Qatrul Ghaits (cahaya iman) yakni: nafsu amarah, nafsu lawwamah, nafsu mulhammah, nafsu muthmainah, nafsu rodhliyah, nafsu mardhilyah dan nafsu kamilah.

Menariknya, dari ketujuh karakteristik Nafsu tersebut, nafsu yang menuntun kepada keburukan hanyalah nafsu amarah dan nafsu lawwamah, sementara empat nafsu yang lain digambarkan sebagai pemicu manusia berbuat kebaikan, dengan tataran yang berbeda-beda. Puncaknya ialah nafsu kamilah, sebuah fase dalam diri seorang hamba yang telah mencapai kebenaran Tuhan melalui syariat dan makrifat. Fase nafsu kamilah membuat seorang hamba mampu berdialog dengan Tuhannya lantaran tabir-tabir duniawi telah tersingkap hingga yang tersisa hanyalah kedekatan spiritual yang paling purna, intim dan penuh keheningan sekaligus keriuhan karena seorang hamba mampu berada di ruang yang sungguh transendental.

Apa yang didedah oleh Al Ghazali ataupun Syekh Nawawi melalui konsep marotibun nafs tersebut sesungguhnya menjadi sebuah pemahaman yang lebih jernih dan utuh mengenai makna nafsu yang selama ini selalu dipahami secara negatif dan kaku. Padahal dalam diskursus filsafat Islam, nafsu justru terma yang sungguh luas dan universal. Bagaikan pisau, kalau digunakan untuk membunuh orang, maka ia menjadi hal yang tentu saja bermakna negatif. Namun ketika pisau tersebut digunakan untuk memotong sayuran atau buah-buahan yang hendak ia berikan kepada fakir miskin dan saudara-saudaranya yang kelaparan, maka pisau menjadi alat mulia untuk kerja-kerja yang mulia.

Begitu pula nafsu, ketika nafsu diolah dalam konteks yang lebih estetis dan humanis melalui sikap hidup yang tepa selira (berkasih sayang tehadap sesama), maka nafsu justru mampu menjadi pintu masuk manusia untuk menjadi hamba Tuhan yang mulia.

Melalui penerjemahan yang lebih utuh tentang nafsu, maka label-label pendosa yang dilekatkan kepada transgender, ataupun kelompok minoritas gender dan seksualitas pada umumnya, bisa dimaknai ulang secara lebih humanis.

Bisa jadi, justru dengan menjadi transgender, seseorang bisa lebih mampu mengolah berbagai nafsu dan gejolak batin yang terjadi dalam dirinya. Kalau dengan menjadi transgender membuat seseorang lebih taat beribadah kepada Tuhannya, lebih penyayang kepada sesama manusia dan alam semesta, lebih jujur kepada dirinya sendiri, dan pada tingkatan tertentu menjadikannya hamba yang lebih mulia dengan memuliakan siapa saja, maka bisa jadi ia justru menjadi transgender lantaran dorongan nafsu kamilah nya.

Jika benar nafsu-nafsu kebaikan lebih dominan dalam proses pencarian dan proses perjuangan seorang minoritas gender dan seksualitas dalam menemukan hakikat dirinya, menempuh hidup dan mengarungi samudera penghambaan dalam ruang-ruang kemuliaan yang lebih spiritual sekaligus humanis pada saat yang bersamaan, maka kejarlah nafsu kamilahmu, jadilah hamba Tuhan yang kamil seutuh-utuhnya: cintailah dirimu, cintailah Tuhanmu, cintailah alam dan manusia-manusia di sekitarmu, niscaya tak ada lagi keresahan-keresahanmu terhadap dosa, yang ada hanyalah usaha-usahamu untuk mencapai cinta yang paling suci dan mulia.


*Penulis adalah seorang transman, santri abadi, pengaji kebudayaan dan pegiat kemanusiaan.

*sumber gambar: http://www.unsplash.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s