Ragamnya keimanan dan seksualitas yang ada pada diri manusia sejatinya adalah sebuah keniscayaan.

Dari keragaman kita mengetahui bahwa perbedaan itu ada. Nyata. Hidup dan menghidupi keseharian kita. Perbedaan yang mestinya bukan ditempatkan sebagai masalah serta diperdebatkan guna mencari dan menghakimi mana yang benar dan salah.

Keragamanmengajarkan arti dan nilai penting dari sebuah dialog; sebuah proses menerima dan menghargai.

Dialog ketubuhan menubuhkan pengalaman yang istimewa, ia ibarat memutar sebuah rekaman kehidupan.

***

Sang semesta memberi karunia kepada kota ini melalui hujan. Saban hari, hujan turun menyapa kehidupan. Ia menjadi peneduh sekaligus secercah harapan kepada bumi. Sumber daya air melimpah, pepohonan dan tetumbuhan yang hidup subur, yang menghasilkan udara yang juga terberkati dengan begitu segar. Kontur tanah yang khas daerah pegunungan menambah daya tarik setiap orang yang telah, sedang dan akan beraktivitas di kota ini. sebutan “Kota Hujan” menggenapi kawasan yang diramaikan pula dengan destinasi wisatanya itu.

Bogor, 21 Agustus 2018. Sejuknya pagi itu datang dari aroma tanah basah. Sisa hujan semalam. Malam itu, hujan memang turun lagi, sebagaimana malam-malam sebelumnya. Hujan yang juga menemani sesi diskusi sharing peserta. Sesi yang dibuat sebagai ruang berbagi antar peserta untuk peserta, yang dianggit dari satu tema spesifik. Mulai dari soal kesehatan reproduksi sampai pengalaman keimanan. Jauh sebelum kegiatan dimulai, panitia 5th YQFS Camp menawarkan ke peserta guna membuat abstrak tulisan, yang secara tematik bakal disampaikan dalam sesi sharing peserta tersebut.

Berbagi ide, gagasan dan pengalaman penting sebagai kata kunci untuk saling mengerti.

***

Mengapa ada orang yang begitu riang mengurusi selangkangan orang lain? mengapa ada orang yang terbiasa sampai membiasakan diri tak bersalah mengomentari bentuk tubuh dan fisik manusia lain?

Lebih jauh, bagaimana kebencian terhadap ekspresi identitas gender dan seksualitas sebagai bagian integral tubuh manusia di pelbagai belahan dunia begitu amat mudah kita jumpai? Sialnya, agama dan normalitas kerap ditarik ikut ambil bagin dalam kontestasi itu.

Jawabannya: diri kita tak pernah dialog dengan tubuh. Sesi kemudian dilanjutkan dengan memetakan persoalan tubuh dengan relasinya pada tiga hal: filsafat dualisme, budaya-norma sosial dan agama. Jihan Fairuz, memfasilitasi jalannya diskusi ini.

“Sifat negatif selalu dilekatkan terhadap tubuh manusia. Filsafat dualisme, misalnya, menempatkan tubuh sebagai wujud negatif, kenegatifan yang membawa pada penempatannya yang lebih rendah ketimbang  jiwa dan roh yang dianggap positif,” terang Jihan

Saat filsafat dualisme memberi cap negatif pada tubuh, agama melihat aktivitas ketubuhan sebagai gerbang dosa. Segala yang berhubungan dengan tubuh manusia, dianggapnya sesuatu yang inheren dengan urusan duniawi. Negatif, gerbang dosa, serta kemelekatan pada urusan duniawi, lanjut Jihan, kemudian membawa tubuh sampai ke realitas sosial di masyarakat sebagai hal yang tabu.

“Sikap otoritas di luar diri kita membawa konsekwensi logis: otoritas atas tubuh kita dianggap sebagai hal yang bertentangan dengan moralitas, termasuk agama di dalamnya. Ini terlihat bagaimana misalnya, sejak bangun pagi sampai istirahat malam hari, agama-agama begitu sangat detail ‘memberi jadwal’ berikut aturannya atas tubuh manusia,” Papar Jihan lagi.

“Patriarki, Homophoia, serta kebencian terhadap identitas gender ketiga, ya berpangkal dari sini. Berawal dari diri kita yang dijauhkan dari otoritas atas tubuh, atas kedirian kita,” pungkas Jihan.

“Praktisnya, otoritas di luar diri kita meliputi agama, kekuasaan, moral, dan seterusnya sedang berebut dan berperang tentang siapa yang paling hakiki berkuasa atas tubuh kita.”

***

Pemaparan materi dilanjutkan dengan sesi diskusi kelompok. Setiap peserta dibagi menjadi empat kelompok, yang masing-masing, diajak dan difasilitasi merumuskan peta politik, hukum, agama dan sosial yang tengah berlomba-lomba mengklaim otoritas atas tubuh manusia. Sesi diakhiri dengan presentasi kelompok.

Hasilnya, pertama, diperlukan strategi bagi upaya merebut dan mendapatkan kembali otoritas kita atas tubuh dan kedirian kita. Dengannya, kita dapat membebaskan tubuh kita dari konstruksi-konstruksi yang sudah terakumulasi.

Kedua, dengan pembebasan yang kita lakukan terhadap tubuh kita, kita juga berjalan menuju pembebasan diri.

Ketiga, Menjadi Diri (Self) yang merdeka, yang memutuskan batas-batas ruang mana yang diizinkan untuk dimasuki oleh otoritas-otoritas yang ada di luar diri kita. Jadi, pencapaian tubuh kita menjadi lebih otonom. My Body, My Rights.

Dan Hujan turun lagi. Jadi peneduh bagi tubuh yang kian rapuh.

(AWS, Yifos Indonesia)

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s