Penulis: E. Anna Marsiana (Pendamping YIFOS Indonesia)

Menyitir Chung Hyun Kyung, teolog perempuan dan akvitis feminis Asia, tubuh perempuan adalah representasi dari pengalaman kesakitan dan penderitaan perempuan Asia. Pernyataan itu ia sampaikan, kira-kira seperempat abad tahun silam.

Di sebuah kegiatan semiloka di Tentena pada 2014, argumentasi yang menguatkan pendapat Chung: Tubuh perempuan Asia, yakni ”tubuh yang terpecah” (the broken body), adalah perekam sejarah ketidakadilan dan penindasan yang berlaku atas perempuan-perempuan Asia, dan juga adalah ketidakadilan (yang) masih terus berlangsung. Karenanya, –lanjut Chung– pengalaman perempuan Asia, yaitu pengalaman akan kepedihan dan penderitaan, yang secara epistemologis menjadi titik berangkat mereka untuk berteriak sembari mempertanyakan “siapa Allah” dan “apa yang Allah lakukan” di tengah penderitaan para perempuan Asia.

Apa yang ditulis oleh Chung Hyun Kyung, seperempat abad yang lalu, menurut saya bukan hanya masih relevan tetapi sebaliknya semakin nyata menyuarakan pengalaman perempuan Asia sampai dengan hari ini. Sampai hari ini, tubuh dan wacana ketubuhan, bukan hanya tidak banyak mendapat tempat dalam dalam pergumulan teologi namun juga sering diperbincangkan secara tidak adil dalam wacana teologi, baik secara umum maupun teologi feminis itu sendiri.

Teologi Tubuh dalam Teologi Klasik

Wacana tubuh dalam teologi klasik, menurut saya, sangat ambigu. Pada satu sisi, kita menggunakan wacana tubuh secara positif ketika menggunakannya sebagai metafora bagi gereja, jemaat, sebagai tubuh Kristus. Dalam hal ini tubuh dimaknai secara positif, sebagai manifestasi hidup Kristus, yang dapat dilihat dan dirasakan. Demikian juga dalam selebrasi perjamuan kudus, kita berbicara tentang tubuh secara positif, yaitu tubuh Kristus yang dikorbankan untuk kita.

Anehnya ketika tubuh dibicarakan sebagai sesuatu yang konkret, badani, yang kita bawa kemana pun kita pergi, 24 jam sehari 7 hari seminggu, yaitu: tubuh kita, kita lebih banyak memaknainya secara negatif. Karena di sini saya menggunkan pendekatan teologi tubuh dari perspektif feminis, saya tidak akan membahas mengenai wacana tubuh dalam teologi klasik ini secara panjang lebar. Namun saya akan memaparkan beberapa poin yang umum dipahami ketika berbicara tentang tubuh dalam teologi klasik dan rujukan alkitabiahnya.

Pertama, Mt.26:41 “Roh memang penurut, tetapi daging lemah…”

Secara umum wacana tubuh dalam teologi klasik dipengaruhi oleh filsafat dualisme, dan karenanya dilihat secara dualistis-dikotomis; antara yang rohani dan jasmani, yang suci dan yang profan. Ayat Alkitab yang terkenal dan sering dikutip untuk mendukung pola pikir dualistis-dikotomis ini tentu saja adalah adalah Matius 26:41 di atas. Sebagai konsekwensinya, tubuh dipandang rendah, bahkan sebagai penjara bagi yang rohaniah; sebagai gerbang dan sumber dosa.

Kedua, 1Kor3:16 (bdk 1Kor 6:19-20): “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu..”

Pada satu sisi ayat ini memberi penghargaan kepada tubuh kita sebagai sesuatu yang kudus, karena Allah sendiri, berdiam di dalamnya. Namun yang sedikit mengganggu saya di sini, yang kalau tidak hati-hati bisa menimbulkan interpretasi atas otoritas tubuh kita adalah kalimat “sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar”.

Saya mengerti bahwa kalimat ini merujuk kepada konsep penebusan Kristus, namun betapa sering kalimat ini dibelokkan menjadi seolah bahwa menjadi Kristen berarti kita bukan lagi menjadi pemiliki otoritas kedirian, (termasuk tubuh kita). Padahal dalam konteks Asia dan Indonesia, melalui perkawinan perempuan dihilangkan otoritas kedirian dan otoritas atas tubuhnya karena dia telah “dibayar lunas” dengan mas kawin yang dibayarkan pihak suami dan keluarganya. Dalam banyak tafsir, ayat di atas lebih sering dipakai sebagai dasar alkitabiah untuk melakukan restriksi atas tubuh kita. Bahwa kita tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus begini harus begitu, dan seterusnya.

Ketiga,  Luk 10: 38-42. Kisah yang sangat terkenal tentang dua orang perempuan bersaudara, Marta dan Maria. Teks sebenarnya berbicara tentang 2 orang perempuan yang terlibat aktif dalam pelayanan (diakonia) pada masanya, namun entah bagaimana dalam banyak tafsir, lagi-lagi kisah ini berubah menjadi rujukan bagi dikotomi antara pelayanan yang bersifat jasmaniah (tubuh-iah) dan rohaniah. Tiba-tiba Marta dijadikan simbol yang jasmaniah sedangkan Maria menjadi symbol yang rohaniah; Maria diberi penekanan telah memilih yang terbaik, sedangkan Marta diberi label merepotkan diri sendiri (negatif).

Keempat,  Dalam teologi Katholik, teologi tubuh benar-benar diperkenalkan secara sistematis dan sangat lengkap. Nama teologi tubuh sendiri di kalangan teologi Katholik akan serta merta merujuk kepada ajaran-ajaran dan teologi yang dikumpulkan dari pengajaran “Katekisasi Hari Rabu” Paus Yohanes Paulus II, antara tahun1979-1984 (lihat catatan). Kumpulan ajaran tersebut kemudian diterbitkan dibawah nama resmi: “the theology of the body”.

Pada dasarnya teologi ini memberi penekanan kepada ajaran bahwa tubuh manusia itu adalah sebuah sakramen atau tanda dan sarana kehadiran Allah. Allah itu adalah realitas yang tidak kelihatan. Satu-satunya cara yang memungkinkan realitas Allah ini kelihatan adalah dalam tubuh manusia. Demikianlah tubuh manusia itu menjadi penunjuk pada realitas Allah yang tidak kelihatan itu. Dengan kata lain, dalam Theology of the body kita mempelajari Allah yang mewahyukan dirinya dalam tubuh manusia

Pada satu sisi saya mengapresiasi terbitnya teologi ini, dimana secara tegas gereja Katholik mengatakan bahwa kita tidak bisa menegasikan tidak bisa menegasikan tubuh dari refleksi teologis kita, khususnya ketika menyangkut soal seks dan spiritutalitas; bahwa seks dan spiritualitas merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dari tubuh dan ketubuhan kita. Paus juga secara positif mengapresiasi tubuh dan bahasa tubuh sebagai yang bersifat profetis. “language of the body is prophetic language” dalam artian, tubuh kita berbicara menyatakan sesuatu terkait masa depan.

Sayangnya, tidak berbeda dengan teologi klasik Protestan, teologi tubuh dalam perspektif Katholik ini juga masih sangat bias dengan dualistis-dikotomis, dan pro-kreatif. Teologi tubuh versi Paus Yohanes ini mempunyai banyak pesan yang bersifat moralistis. Dan dalam pengaruh teologi prokreasi, maka bahasa tubuh yang dipahami sebagai bahasa yang profetis tadi lebih banyak memberikan penekanan kepada peran biologis tubuh, dimana dalam perspektif pro-kreasi, maka tubuh dilihat lebih sebagai sarana reproduksi dimana hak dan otoritas perempuan untuk memutuskan apakah dia mau berreproduksi atau tidak dinegasikan. ‘the language of the body is prophetic, however, an intentionally sterilized act of intercourse proclaims the opposite. It changes the “language of the body” into a specific denial of God’s creative love, making the spouses “false prophets

Baik dalam teologi klasik protestan maupun katholik, tidak ada tempat bagi pengalaman ketubuhan perempuan dalam refleksi teologis yang dikembangkan. Di sinilah mengapa kemudian teologi feminis mencoba untuk masuk dan mengklaim teologi tubuh dari perspektif perempuan dan feminis.

 Last but not least, baik dalam teologi klasik Protestan maupun Katholik, wacana tubuh dibicarakan dalam konteks yang bias heteronormatif dan bahkan dipakai untuk mengembangkan refleksi teologis yang berpotensi homophobic.


Catatan:

  • Pokok-pokok tulisan “the theology of the body” Paus Yohanes Paulus II
  1. Ajaran tentang penyatuan laki-laki dan perempuan yang sejati menurut Kejadian
  2. Ajaran tentang Kemurnian hati Vs Concuspiscence (Kotah di bukit)
  3. Ajaran Paulus tentang ketubuhan manusia: Hidup menurut Roh
  4. Ajaran tentang Pernikahan dan selibasi dalam terang kebangkitan tubuh
  5. Ajaran tentang Keperawanan atau Selibasi demi Kerajaan Surga
  6. Ajaran tentang Sakramen pernikahan berdasarkan Alkitab (Efesus 5:22-33)
  7. Refleksi atas fitrah manusia atas penebusan tubuh kesakralan pernikahan

Keterangan Ilustrasi: Arut S. Batan Painting Series: God’s Third Parties Material, yang pada lukisan pertama ini membahas atau membawa tema tentang tubuh sebagai salah satu material Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s