Oleh: Khoirul Anam*

Mulai tahun 2015 lalu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggalakkan perang di dunia maya. Meski istilahnya perang, namun upaya ini jauh dari kekerasan. Yang ada malah ajakan untuk membanjiri dunia maya dengan konten-konten positif.

Karenanya, Badan Negara ini menetapkan tahun 2015 sebagai Tahun Damai di Dunia Maya.Langkah ini diambil oleh BNPT lantaran kondisi dunia maya yang makin kotor dengan konten-konten negatif yang berisi ujaran kebencian dan ajakan permusuhan. Dengan menggalakkan tahun damai, BNPT bermaksud untuk membersihkan dunia maya ini dengan membanjirinya dengan konten-konten yang damai.
Tema yang paling sering digunakan untuk menebar kebencian adalah sentiment keagamaan, di mana agama digunakan seara serampangan untuk membenarkan macam-macam ide dan aksi kekerasan, termasuk radikalisme dan terorisme.

Alih-alih ditampakkan sebagai sebuah ajaran suci yang digunakan untuk memperbaiki diri, agama justru digunakan sebagai alat untuk membenci. Ini jelas nggak bisa dibiarkan! Radikalisme dan terorisme itu bukan lagi kesalahpahaman dalam beragama (misunderstanding), tapi penyalahgunaan agama (miss-used). Makanya, nggak boleh didiemin!

Dunia maya sebenarnya telah lama digunakan oleh kelompok radikal-teroris untuk menyebarkan propaganda jahatnya, hanya saja intensitas penggunaannya mulai meningkat beberapa tahun belakangan ini. Agus SB mencatat, pada tahun 1998 misalnya, kelompok teroris hanya memiliki 12 situs.

Jumlah ini kemudian meningkat menjadi 2.650 situs pada tahun 2003. Temuan terakhirnya, pada tahun 2014 ia menemukan bahwa kelompok teroris telah teridentifikasi memiliki lebih dari 9.800 situs.

Meskipun data di atas sangat mengejutkan, namun fenomena ini bisa dimengerti. Dunia maya memberikan banyak kemudahan yang tidak akan mudah ditolak oleh siapapun.

Ada 6 poin membuat dunia maya begitu istimewa, yakni: pertama, tidak adanya kontrol dan regulasi yang jelas dari pemerintah, sehingga pengelola dapat melakukan apa saja dengan konten yang mereka produksi.

Kedua, media online juga dapat menjangkau audiens yang luas, ketiga dapat dilakukan secara anonim, keempat memiliki kelebihan pada kecepatan transfer informasi, kelima bersifat interaktif, murah dalam pembuatan dan pemeliharaan, bersifat multimedia (cetak, suara, foto dan video) dan utamanya (keenam) adalah karena internet menjadi sumber rujukan media mainstream.

Sementara itu, di waktu yang bersamaan, kecenderungan masyarakat untuk belajar agama meningkat tajam. Bahkan data yang dirilis oleh DU Browser menyebut bahwa kata yang paling sering dimasukkan masyarakat di mesin pencarian Google adalah kata “tuhan”.

Kata ini menempati urutan pertama dengan prosentase pencarian 13,9 persen selama kuartal tiga 2015. Hal ini tentu saja baik, karena ini menandakan bahwa masyarakat masih menganggap tuhan sebagai hal yang penting dalam hidupnya.

Hanya saja, jika pencarian tentang tuhan ini nggak dibarengi dengan kematangan cara dalam berpikir, bukan tidak mungkin kita malah jadi korban orang-orang yang suka nyinyir.

Apalagi, propaganda kelompok teroris ini seringnya dibungkus sangat rapi. Kalo kata direktur Deradikalisasi BNPT, Prof. Irfan Idris sih, propaganda kelompok radikal terorisme itu menyebar dan berhembus ibarat angin sepoi-sepoi basah yang membawa kesejukan bagi kelompok masyarakat tertentu, terutama kelompok usia remaja, pelajar dan mahasiswa yang masih mengalami kegalauan dan kerisauan tentang jati diri mereka.

Nah lo, jangan gampang galau deh biar ga termakan radikalisme dan terorisme.

Jadi, kita perlu lebih hati-hati dalam menerima segala jenis informasi, karena belum tentu yang kita terima itu benar adanya. Terutama dengan banyaknya informasi yang bertebaran di dunia maya, kita mesti selektif; jangan asal baca, jangan asal percaya. Jangan pula asal sharing, ingat, saring sebelum sharing

Apa itu dunia maya?
Bentar, bentar, dari tadi kan yang kita bahas dunia maya nih, tau kan kalau dunia maya itu adalah dunia virtual yang merupakan ruang konseptual di mana semua kata, hubungan manusia, data, kesejahteraan, dan juga kekuatan dimanifestasikan oleh setiap orang melalui teknologi CMC atau Computer Mediated Communication.

Sederhananya, dunia maya adalah dunia virtual yang difungsikan sebagai pantulan dari dunia nyata. Bahkan dalam bebera hal, batas antara dunia maya dan dunia nyata nyaris tidak terlihat lagi, maka nggak heran jika dunia maya telah menjadi bagian penting bagi masyarakat modern saat ini, termasuk juga untuk kelompok radikal-teroris.

Bahkan nih, dunia maya telah mengubah bentuk masyarakat dunia. Jadi, penemuan dan perkembangan teknologi Informasi dalam skala massal tanpa disadari telah mengubah bentuk masyarakat, dari masyarakat “dunia lokal” menjadi masyarakat “dunia global”, yakni sebuah dunia yang sangat transparan terhadap perkembangan informasi, komunikasi, transportasi, serta teknologi yang mempengaruhi peradaban umat manusia.

Tapi jangan salah, masyarakat global bisa juga menghasilkan budaya-budaya bersama, menghasilkan produk-produk industri bersama, menciptakan pasar bersama, mata uang bersama bahkan menciptakan perang bersama.

Semua ini, diakui atau tidak, telah mengembangkan ruang gerak kehidupan baru bagi manusia, sehingga tanpa disadari, manusia saat ini telah hidup dalam dua dunia, dunia nyata dan dunia maya.

Terorisme di Dunia Maya
Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi, kelompok-kelompok ndablek ini mulai secara massif ‘pindah lapak’ ke dunia maya. Selain karena enam keistimewaan khas internet seperti disebut di atas, beralihnya lapak gerakan radikalisme ke dunia maya juga diyakini banyak pihak sebagai upaya untuk memperluas jaringan, yakni dengan terus membangun citra dan mengukir nama.

Di dunia maya, kelompok radikal diketahui aktif membangun narasi kekerasan yang diselipkan dalam berbagai tafsiran ajaran keagamaan. Dan sebagai sebuah paham yang mengidamkan perubahan di kancah politik, radikalisme secara perlahan namun pasti menggiring masyarakat untuk mulai menggunakan agama sebagai alat untuk membenci pemerintahan sendiri. Wah, nggak bener nih!

Nah, kelompok teroris –baik internasional maupun lokal— diketahui telah ramai-ramai menggunakan dunia maya untuk melakukan hampir separuh lebih aksinya. Seperti, melakukan propaganda dan rekrutmen anggota baru. Ramainya ‘hijrah’ kelompok teroris dari dunia nyata ke dunia maya ini ditandai dengan lahirnya ISIS. Tau kan ISIS? Mereka ni kelompok teroris yang aktif banget di dunia maya.

Saking aktifnya, kelompok ini sampe dijuluki sebagai “teroris dunia maya.” Sebutan ini bukan asal diberikan saja, data dari penelitian yang dilakukan oleh Brookings Institution pada 2015 lalu menunjukkan bahwa pada akhir 2014 saja, kelompok ini punya 46.000 akun Twitter, Akun-akun ISIS tersebut rata-rata memiliki follower lebih dari 1000 (Antaranews: 2015).

Pola yang dilakukan oleh ISIS ini kemudian dicontoh oleh kelompok-kelompok lain yang juga pengen terkenal. Dengan adanya dunia maya, kelompok teroris udah nggak perlu lagi repot-repot keluar masuk hutan untuk menyebarkan paham kekerasan, kegiatan itu sekarang bisa dilakukan dengan begitu mudah, cukup dari rumah.

Tapi tau nggak sih? meski ISIS sangat massif menggunakan internet dalam aksi-aksinya, nyatanya kelompok ini bukanlah yang pertama; ada banyak kelompok bengal lain sebelum mereka yang melakukan hal serupa. Hanya saja, kelompok-kelompok itu tidak terlalu serius menggarap dunia maya untuk membesarkan nama dan massa, seperti yang dilakukan oleh ISIS saat ini.

Terus, kenapa kita harus peduli?
Iya lah! apa yang dilakukan ISIS tuh sekarang udah sampai di Indonesia. Ada banyak sekali akun-akun radikal, baik yang muncul dengan kategori ISIS affiliated atau terafiliasi dengan ISIS maupun tidak, yakni situs-situs yang hanya ikut-ikutan melakukan propaganda di dunia maya.

Melalui dunia maya, proganda tidak hanya dilakukan melalui tulisan-tulisan ‘drama’ yang sengaja disebar untuk menohok sisi psikologi masyarakat, tetapi juga melalui video-video yang menunjukkan berbagai macam ‘jihad’ yang mereka lakukan, termasuk aksi-aksi sadis yang mereka klaim sebagai perintah agama.

Perpindahan lapak kelompok teroris ini (dari dunia nyata ke dunia maya) juga sekaligus menandakan pindahnya target operasi mereka. Di dunia maya, kelompok teroris menyasar kalangan anak-anak muda sebagai target utamanya. Mereka adalah kelompok yang dijadikan sasaran propaganda dan rekrutmen.

Hal ini diperkuat dengan hasil survey dan penelitian Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bekerjasama dengan badan PBB UNICEF dan Berkman Center for Internet and Society, Harvard University pada 2014 lalu, di mana mereka menemukan bahwa 98 persen anak-anak dan remaja Indonesia telah familier dengan internet, bahkan 79,5 persen di antaranya adalah pengguna internet aktif. Ini artinya, anak-anak muda sangat rentan terhadap radikalisme di dunia maya.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), melalui Direktur Deradikalisasinya –Prof. Irfan Idris—, menyebut bahwa kalangan muda dipilih sebagai sasaran radikalisasi karena kondisinya yang masih belum memiliki pemahaman yang matang tentang suatu hal, seperti; ekonomis (kemiskinan), yuridis (ketidakadilan), agamis (pemahaman dangkal, namun semangat melangit), dan politis (kecewa dengan sistem demokrasi).

Data yang diungkap oleh Irina Bokova, Dirjen UNESCO, tentang keterlibatan anak-anak muda dalam kelompok terorisme malah lebih mencengangkan lagi. Ia menyebut terdapat setidaknya 25 ribu teroris asing dari sekitar seratus negara dunia ikut aktif melakukan aksi teror di Suriah, Irak, Afghanistan, Libya dan Yaman.

Kebanyakan dari para teroris asing tersebut adalah kelompok-kelompok muda yang berusia antara 15-35 tahun. Belakangan diketahui pula bahwa jumlah remaja perempuan yang bergabung dengan kelompok teroris turut mengalami peningkatan.

Trus, Gimana Donk?
Yang jelas, kita sebagai generasi muda nggak boleh lagi cuek dan masa bodo dengan fenomena ini, karena kalau dibiarkan, nanti kita sendiri yang rugi. So, yuk mulai melakukan dua hal sederhana ini; untuk konteks personal, kita harus lebih bisa menjaga diri sendiri, salah satunya dengan cara jeli dan teliti terhadap semua informasi.

Tetep rajin baca, tapi jangan mudah percaya. Biasakan untuk berpikir kritis dan apatis terhadap informasi. Dengan begitu, kita sudah melindungi diri dari kemungkinan terjerat propaganda sadis kelompok teroris.

Sementara untuk konteks komunal, kita harus mulai aktif memberikan konten-konten positif. Tiap nulis atau update status, pastikan bahwa kita tidak nyebar hoax atau ajakan permusuhan. Nulis yang baik-baik saja deh. Konten-konten negatif itu harus dilawan. Caranya, dengan membanjiri dunia maya dengan konten yang positif.

Jika jeli menangkap informasi, doktrin-doktrin radikal yang kasar nan tidak berdasar itu tentu akan dengan sendirinya mati. Radikalisme dan terorisme memang telah naik tingkatan, namun tidak berarti bahwa keberadaannya tidak bisa dimusnahkan.

Tantangan terberat yang kita hadapi terkait dengan geliat radikalisme di dunia maya saat ini adalah penyebaran paham radikal yang begitu masif. Dengan keberadaan dunia maya yang memberi keleluasaan kepada siapa saja untuk memproduksi berita, kita dituntut untuk bukan saja rajin membaca, tetapi juga cerdas untuk menentukan bacaan mana yang layak dipercaya kebenarannya.

================================

* Sekjen jaringan Narasi Damai Nusantara, sebelumnya bekerja sebagai redaktur di Pusat Media Damai BNPT dan sempat menjabat sebagai senior officer media dan campaign di Wahid Foundation. (khoirul.anam.bwi@gmail.com)

================================

• Agus SB, Deradikalisasi Dunia Maya: Mencegah Simbiosis Terorisme dan Media. (Jakarta: Daulat press, 2015), hlm. 69.

• Gabriel Weimann. 2006. Terror on the internet: The new arena, the new challenges. Washington D.C.: United States Institute of Peace Press

• — “keyword tuhan paling banyak dicari netizen”, http://techno.okezone.com (29/10/2015)

• Irfan Idris, ‘Kontra Narasi Bahaya Radikalisme Bagi Masyarakat Bukan Pengguna Media Online’, http://www.jalandamai.org, 21 Oktober 2015.

• Nasrullah, Rully. (2012). Komunikasi Antar Budaya di Era Budaya Siber. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Hlm. 21

• Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi Komunikasi : Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di masyarakat, Jakarta : Kencana pernada Media Group, hlm. 159

http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/15/10/10/nw008v1-kontra-narasi-bahaya-radikalisme diakses pada 5 Desember 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s