Dialog Ketubuhan Melalui Tradisi Lokal Cirebon

Oleh: Jihan Fairuz*

 

Penyerangan terhadap komunitas waria Cirebon terjadi di bulan Agustus 2015, -hari-hari yang mestinya seluruh masyarakat, khususnya umat Islam, tengah khusyuk menyelami ritus Idulfitri- sungguh ternodai. Sekelompok ormas yang mengatasnamakan Gerakan Pemuda Anti Maksiat (Gapas) itu, membubarkan kegiatan yang bertema halal bi halal kelompok waria, karena dianggap menyimpang dari ajaran agama. Aparat penegak hukum tak kuasa menghalau aksi persekusi, yang terang-benderang, melanggar hak kebebasan berekspresi warga negara.

Jika tindak persekusi terhadap komunitas yang dianggap berbeda itu telah terjadi di Cirebon, bagaimana sejarah Cirebon sendiri –yang konon dianggap sebagai derivasi dari kata Caruban¸ yang artinya campuran- bersinggungan dengan orientasi seksual dan ketubuhan seseorang?

***

SEKITAR pertengahan bulan November tahun lalu, saya masih menyimpan memori sampai hari ini, sebuah rasa kagum juga ‘penasaran’ selepas menyaksikan sebuah pertunjukan teatrikal tari di salah satu kampus di Cirebon, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), yang tengah menyelenggarakan sebuah acara kebudayaan, bertajuk “Padang Wulanan”, yang di dalamnya menyajikan pelbagai pertunjukan kebudayaan, apresiasi seni dan sastra, juga dialog santai yang merefleksikan perkembangan isu-isu sosial terkini.

Berdecak kagum karena tari yang ditampilkan mengundang siapapun yang melihatnya pasti tertawa terpingkal-pingkal, sembari sedikit bertanya dalam hati, mengapa para penari menampilkan sebuah perpaduan unik: ekspresi perempuan dalam tubuh laki-laki. Para penonton di malam itu, termasuk saya, melihat kejenakaan para penari yang mengimprovisasi gerak cepat-melambai dari tarian  di atas panggung, sedikit menunggingkan pantat ke depan, dengan ekspresi muka mbodor atau plonger (melucu dengan gestur wajah yang terkesan konyol). Tari yang saya lihat pada pertunjukan itu kental dengan nuansa humor. Humor semacam itu sesungguhnya sudah mengurat-akar dalam tradisi kebudayaan di Cirebon, ada tradisi masres, sandiwara, misalnya.

Ada sekurang-lebihnya delapan penari, meski biasanya empat orang, yang melakukan tarian tersebut di hadapan para hadirin. Musik tradisional khas pantura dengan rytme nada dan iringan yang naik-turun, juga cepat, menambah suasana semakin ramai, disambut tepuk tangan yang meriah. Wajah mereka dirias begitu tebal, selaiknya rias penari di manapun, dengan perut buncit, seperti lakon petruk dalam cerita pewayangan, tetapi yang menarik, mengapa tarian tersebut menampilkan citra perempuan dalam tubuh laki-laki.

Ronggeng Bugis

Tari Ronggeng Bugis, begitulah masyarakat menyebutnya. Historisitas tari ini sudah berkembang sejak awal kali kerajaan Cirebon (Carabun Nagari) terbentuk, sekitar tahun 1482, di bawah kepemimpinan Susuhunan Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hudayatullah. Sebutan lain dari tari yang menggugah rasa jenaka tersebut adalah Tari Telik Sandi, istilah populer pada era sekarang intelijen, mata-mata, atau spionase.

Ronggeng sendiri berarti tarian, sedangkan Bugis merupakan suku asli di Sulawesi Selatan. Dalam istilah yang berkembang di tempat lain di Nusantara, di antaranya dikenal dengan nama taledek, tandak, ringgit, lengger, gambyong, gandrung, atau doger. Secara umum, ronggeng sendiri bisa dibawakan satu orang penari, dua, empat, atau delapan sebagaimana tari pada umumnya, yang membutuhkan eksplorasi gerakan di dalamnya.

Pertanyaannya mengapa satu jenis tarian yang lahir dan berkembang di wilayah pantura Cirebon tersebut disematkan dengan nama salah satu suku di Sulawesi Selatan tersebut; karena pencipta pertama kalinya seorang yang berasal dari tanah bugis, atau hubungan komunikasi dan kerjasama antar dua kerajaan (Cirebon dan Bugis), tidak ada catatan resmi untuk menjawabnya. Yang jelas, tujuan awal tarian ini digunakannya untuk mematai-matai, karena dianggap medium seni bisa masuk ke wilayah musuh, dalam hal ini kerajaan Pajajaran yang dalam sejarahnya pernah bersitegang dengan kerajaan Cirebon. Cerita semacam ini sering saya simak dari penuturan para orang tua di kampung halaman, atau dari budayawan Cirebon, seperti Raffan W. Hasyim, dr. Bambang, ataupun Pak Handoyo. Nama terakhir adalah orang yang pertama kali mengangkat ke publik tarian ronggeng bugis di tahun 1990-an.

Lalu bagaimana dengan simbol feminin dalam tubuh laki-laki? Mengacu pada latar kebangunan Ronggeng Bugis, dalam amatan Abdul Rosyidi, Jurnalis Harian Fajar Cirebon, menandaskan bahwa masyarakat Cirebon sejak dulu sejatinya menerima keterbukaan dalam memandang keragaman agama, suku, budaya dan ras, termasuk di sini adalah keragaman identitas seksual. Dalam konteks ini, ronggeng bugis sebagai representasi keragaman seksual male to female yang berangkat dari latar kesenian Cirebon, yang telah ada sejak era Sunan Gunung Jati itu.

Ia lalu menarik benang merah dari Tari Ronggeng Bugis dengan historisitas Nyi Mas Gandasari. Menurut cerita lisan atau foklor yang berkembang di Cirebon, sosok Nyi Mas Gandasari memiliki wajah cantik yang rupawan, sehingga banyak diperebutkan oleh para jawara di masa itu. Singkat cerita, sebuah sayembara digelar sebagai syarat mempersunting Nyi Mas Gandasari adalah yang mampu mengalahkannya. Karena selain cantik, juga memiliki ilmu kanuragan yang tinggi sehingga tak ada yang bisa mengalahkannya, kecuali seorang bernama Syekh Magelung.

Syekh Magelung berhasil menaklukkan Nyi Mas Gandasari, akan tetapi ia tak kunjung menepati janjinya. Kemudian mereka berdua sempat bersiteru. Sunan Gunung Jati, guru kedua sosok itu menengahi, dengan cara akan menikahi Nyi Mas Gandasari dan Syekh Magelung bukan di dunia, melainkan di akhirat. Yang menarik, menyitir Abdul Rosyidi (2017) yang berangkat dari cerita lisan masyarakat Cirebon, bahwa sungguhpun Nyi Mas Gandasari seorang yang cantik, ia berkelamin penis.

Dimensi Spiritualitas

Baik Ronggeng Bugis ataupun kisah heroik dari Nyi Mas Gandasari, sesungguhnya tradisi itu bisa kita tarik pada realitas keragaman seksulitas dalam alam pikiran masyarakat Cirebon sudah hidup sejak lama. Fakta bahwa transvestite menubuh pada tradisi-tradisi yang ada di sana, menjadi satu perspektif untuk membuka dialog ketubuhan yang berlatar dari tradisi lokal itu sangatlah menarik.

Tradisi lokal atau kearifan lokal serupa juga bisa kita jumpai pada fakta sejarah Komunitas Bissu yang berkembang di daerah Sulawesi. Bissu memiliki keistimewaan khusus, baik seorang Calabai ataupun Calalai, yang dipercaya dapat berkomunikasi secara langsung dengan para dewata. Ia dipilih oleh ‘semesta’ sebagai manusia yang suci, bersih, dan menjadi penasehat raja-raja di kerajaan Bugis. Pada diri Bissu terdapat sebuah sisi spritualitas, yang bahkan menurut saya, tak bisa diukur dengan kacamata agama atau hukum negara.

Ronggeng sendiri punya posisi keistimewaan tersendiri, yang sangat melekat dengan relasi manusia dan Dzat Yang Illahi. Perjalanan empat tahapan spiritualitas seorang manusia yang diibaratkan seperti anak tangga yang terus naik, menyitir Sharon Joy Siddique (1977), pertama, wayang melambangkan sisi spritualitas seseorang berada di tahap syariat. Kedua, Barong, punya sisi sebagai tingkat spritualitas pada fase Tarekat, ketiga, Topeng berada pada tahap Hakekat, dan keempat, Makrifat yang terdapat pada jenis seni seperti Ronggeng.

Melakoni profesi sebagai penari bukanlah pekerjaaan biasa, atau dengan ringan kita menyebutnya jenis profesi atau pekerjaan nomor dua. menjadi penari membutuhkan kecakapan dalam menggerakkan seluruh jemari dan anggota tubuh, serta insting yang tajam dalam mengeksplorasi gerakan saat di hadapan penonton. Penari bisa menghibur para penonton, sekaligus bernilai sebagai tuntunan.

Di sisi lain, penari ronggeng yang diangkat dalam buku sastra karangan Ahmad Tohari mendudukan profesi ronggeng dalam posisi yang begitu subtil, karena mengandung unsur spritualitas yang menyertainya. Ronggeng Dukuh Paruk (1981), kisah yang menyuguhkan Srintil sebagai lakon utamanya, menarasikan bahwa menjadi ronggeng merupakan panggilan hidup selamanya.

Si Srintil tahu betul, untuk menjadi penari ronggeng ia akan menghadapi tantangan dan godaan yang begitu berat yang selalu mengintai, selain karena paras cantiknya, setali tiga uang, juga menikahi seorang ronggeng bagi seorang laki-laki adalah posisi sosial yang istimewa. Untuk itulah, penari ronggeng dilarang keras menikah seumur hidup, karena hal itu akan menyebabkan stasusnya sebagai seorang ronggeng akan hilang. tetapi siapakah yang dapat menghilangkan rasa cinta dari seseorang?

Kisah yang berlatar tragedi 1965, sekaligus menceritakan soal pembinasaan bagi orang-orang yang dianggap memiliki afiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), termasuk Srintil yang menjadi korban kebiadaban dan kebengisan tentara pada era itu. Spritualitas yang dibangun dalam imajinasi Ronggeng Dukuh Paruk sejatinya terdapat juga pada kisah-kisah lain yang tumbuh di bumi Nusantara.

Tari Topeng yang menjadi ikonik Kota Cirebon, menurut cerita lisan masyarakat Cirebon, mengandung unsur spritual yang mendalam, meski hari-hari ini, aspek spritual ini terpinggirkan karena sering dilupakan orang. setiap kali penampilan, penari Topeng terlebih dahulu lelakon (menjalani rituali tertentu), yang ditujukan untuk keselamatan dan kebahagiaan bagi para penontonnya. saat pentas dilakukakan, masyarakat yang melihat berbondong-bondong memilih berdekatan dengan si penari, hal ini ditujukan karena setiap penari topeng dalam pentasnya melafalkan puja-pujian dan doa.

Secara substansial, tujuan utama menjadi penari tidak terletak pada sisi material semata, seperti ketenaran, uang, kemegahan panggung. Kisah Srintil dalam lakon Dukuh Paruk yang, secara spesifik, menempatkan profesi penari begitu istimewa, penari topeng dengan ritual pembacaan kalimat tauhid dalam setiap tariannya, juga pada tak kalah penting adalah dimensi kesederhanaan yang disuguhkan oleh tari Ronggeng Bugis.

Seni: Dakwah Seksualitas

Seni merupakan medium yang bersifat universal. Tak ayal, wali sanga saat berdakwah menyebarkan Islam pertama kali di Nusantara acapkali menggunakan media seni yang inheren dengan karakteristik masyarakat. Sebutlah semisal Sunan Kalijaga, dengan medium wayangnya, mampu menarik minat orang untuk belajar tentang agama Islam atau tembang, syair-syair klasik Jawa seperti lir-ilir yang disampaikan ketika memberi wejangan seputar makna kehidupan. Dengannya, medium seni yang dibawa Sunan tersebut, memberi wajah keteduhan pada Islam bagi khalyak luas. Atau kita yang hidup di era milineal ini, bisa melihat kembali pola seperti pada ceramah Emha Ainun Nadjib dengan Kyia Kanjengnya. Mak Arimbi menceritakan bagaimana pengalamannya terlibat dalam dunia seni. Seorang pekerja seni, juga aktivitas di Yifos Indonesia, dirinya sering menemukan titik temu (kalimatun sawa), antara seni dan isu yang ia geluti. Baginya, medium seni jadi penghubung untuk mengenal sejarah seksualitas yang ada di Indonesia. tradisi Gandrung di Banyuwangi, misalnya, lekat dengan keragaman seksualitas manusia.

Eksistensi ronggeng bugis ataupun Nyimas Gandasari yang berbasis kearifan lokal Cirebon, menjadi ‘pintu masuk’ wacana seksualitas yang lebih ekstensif. Kearifan lokal tidak saja menjadi jejak masa lalu yang sekadar bahan nostalgia, lebih dari itu, ia menjadi ingatan kolektif sebuah komunitas masyarakat dalam menyikapi pelbagai dinamika kehidupan hari ini, dan seterusnya. Di tengah situasi dewasa ini, orang semakin mudah menjustifikasi keragaman seksualitas sebagai ancaman, maka menghadirkan sebuah diskusi yang berangkat dari pengetahuan mengenai sejarah bangsa kita sendiri adalah oase di tengah padang gurun. Iklim kebencian pada yang dianggap ‘liyan’ mudah ditebarkan di ruang-ruang publik, media sosial, stigma yang mudah disematkan pada kehidupan seorang transgender atau transvestite, yang dianggap abnormal dan penyakit masyarakat itu, mestinya sudah ditinggalkan. Karena sejarah bangsa ini adalah sejarah yang berbicara mengenai ragam perbedaan, yang bagi kita, perbedaan itu dimaknai sebagai jalan mendefinisikan makna ketubuhan.

*Koordinator Nasional YIFoS Indonesia periode 2017-2021.

======================================================================

Bahan Bacaan:

  1. The Ronggeng, the Wayang, the Wali, and Islam: Female or Transvestite Male Dancers-Singers-Performers and Evolving Islam in West Java, Kathy Foley, Asian Theatre Journal, 32, no. 2, 2015. University of Hawai‘i Press,
  2. Bissu: Menggugat Maskulinitas dan Feminitas, Bisri Effendy, 2003, Majalah Srinthil
  3. Ronggeng Bugis: Foklor Transvetite di Cirebon & Bertemu Nyi mas Gandasari, Abdul Rosyidi, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s