I LOVE YOU… Gus,

Oleh : Safiq Gembloenk

 

Anta syamsun anta badrun, anta nûrun fauqo nûrin
Anta iksîrun wa ghôlî, anta mishbâhush-shudûri

 

Syair-syair shalawat menggema didalam masjid komplek pesantren Al Mukhlisin yang berada disalah satu kota di Jawa Tengah. Para santri dengan kompak melafalkan bait demi bait pujian kepada Nabi Muhammad SAW, shalawat ini rutin kami bacakan menjelang pengajian inti sehabis sholat Isya berjamaah.

Abah yai melangkahkan kaki dan duduk bersila ditengah-tengah santri, siap untuk memberikan ilmu Fiqh. Suasana yang begitu syahdu, metode pengajaran abah yai yang santun dan santri-santri begitu khusyu menyimak lalu menggoyangkan pena mereka dengan lincah diatas kitab kuning, kecuali aku…

Karena aku belum menguasai teknik menulis huruf arab jawa yang kita gunakan untuk menuliskan makna atau penafsiran dari teks-teks yang sedang dikaji. Jadi aku membawa kertas HVS untuk menuliskan artinya menggunakan huruf alfabet.

Oh iya, aku belum sempat ngenalin diri, aku diberi oleh orangtuaku sebuah nama yang keren, Ahmad Rijal Ramadhani, artinya seorang anak laki-laki yang terlahir pada bulan Ramadhan, tepatnya tanggal 8 Ramadhan 1411 H, kalau masehinya hitung sendiri aja 😛

Minggu kedua bulan Februari tahun 2007 adalah minggu pertamaku mondok dipesantren ini, pesantren yang diasuh oleh KH. Husni Ghozali terletak di pinggiran desa. Sebagai santri baru aku cukup populer dikalangan santri-santri senior, apalagi dimata pengurus yang sangar. Kepopuleranku disebabkan karena aku berkelahi dengan salah satu pengurus tepat dihari kedua setelah MTS (Masa Taaruf Santri) pelanggaran pertama sebagai santri baru 😥 . Aku dihukum oleh pengurus untuk membersihkan kamar mandi.

“Huft…. bayangin bro, betapa capeknya bersihin kamar mandi yang sering dipake penghuni pesantren yang jumlah santrinya seribu lebih” keluhku dalam hati 😥

Untungnya aku cuman dihukum bersihin duapuluh kamar mandi doang, jadi ga terancam sekarat :3, hampir dua jam aku bersihin sembilan belas kamar mandi berarti tinggal tersisa satu lagi yang belum terjamah.

Baru aja mau masuk ke kamar mandi yang keduapuluh, udah keduluan santri lain yang sedang mencuci pakaian kotor, dengan terpaksa aku nungguin sampai dia keluar, daripada aku kembali ke kamar tidur aku putuskan buat nungguin disini aja, lagian bajuku udah basah kena air sabun.

Aku duduk ditembok sekat pembatas antar kamar mandi sambil liatin sosok yang sedang mencuci itu, dan aku mulai membuka obrolan buat memecah keheningan.

“Aranmu sapa?” tanyaku

“Hmm, maaf aku ga’ tau bahasa Jawa” jawabnya

“Owh, namamu siapa? terus dari daerah mana, kok ga tau bahasa jawa?” tanyaku lagi

“Namaku ALFA, dari daerah Tasikmalaya” jawab dia

“Salam kenal juga, aku Rijal dari kabupaten Tegal” sahutku

Setelah berkenalan, aku minta izin sebentar buat ikut masuk ke kamar mandi, aku sikat tembok didalam kamar mandi dengan sabun colek, lalu aku minta tolong ke Alfa

“Fa, nanti kalau kamu udah selesai nyuci, tolong siramin sisa sabun yang nempel di tembok yah? aku mau ganti baju di bilik (kamar tidur santri)”pintaku

“Yoi, yang penting ada imbalanya, hehe” jawab Alfa sambil ngeledek

“Beres, nanti kalau ada rejeki” jawabku sambil meninggalkan Alfa

Aku melangkah menuju bilik Al Azhar, kurebahkan tubuh ini diatas lantai beralaskan tikar dan beranjak untuk tidur siang.

“Huft, capeknya” pikirku

Pandanganku lurus menatap langit-langit bilik dan terbawa suasana kantuk, terlintas sejenak bayang-bayang ketampanan dia

“Alfa…..” Zzz..zzz..zz….

~~~~~

Malam Jumat kita berziarah ke makam ulama-ulama dilingkungan pesantren, khususnya ke makam keluarga kyai Husni, malam ini ternyata giliran Alfa untuk memimpin membaca Yasiin dan Tahlil.

“Subhanallah…. merdu banget suaranya”

Sehabis ziarah, aku ajakin Alfa ke kantin belakang pondok, sepiring mendoan, dua gelas kopi hitam dan setengah bungkus rokok kretek cukup untuk bekal ngobrol malam berdua mumpung malem Jumat ga ada kegiatan rutin, coz’ hari liburnya santri itu malam Jumat sampai Jumat sore, kita ngobrolin pelajaran sekolah, kebetulan kita berdua sama-sama sekolah di STM jadi kita ngobrolin Engine Tune-Up, sistem kelistrikan mobil, sistem transmisi dan lainya.

“Fa, aku tuh kalo praktek engine tune-up gagal terus” ujarku

“Gagal gimana maksudnya?” tanya Alfa

“Ya kalo setel busi sering enggak pas, kadang kalo mesin dinyalain ada suara ledakan kadang juga keluar api di mesinya”

“emang susah kalo setel busi harus teliti, selisih 0,1mm ajaudah ga imbang sistem perapiannya” jelas Alfa. “hari Sabtu besok pukul 10.30 kelasku ada praktek mesin, kamu ikut kelasku aja, ntar kita belajar bareng stel busi”.

“wah, kebetulan, jam segitu pelajaran dikelasku ngebosenin” jawabku penuh semangat

“”Pelajaran apa emang Jal?”

“Qur’an dan Hadits”

“Hahaha.. dasar santri gelo’ masa pelajaran qur’an dan hadits bosenin?”

“Iya, mending ke bengkel aja sama kamu Fa” 🙂

 

Hari-hariku dipesantren dan disekolah semakin indah sejak aku kenal dia, hampir semua kegiatan dipesantren kita lakuin bersama, dari nyuci baju, makan sampai kerja bakti, kalau ngaji kita bareng cuman di pengajian inti, kalau pengajian kelas kita pisah karena aku di kelas tingkat tahun pertama sedangkan Alfa di tingkat tahun ketiga. Karena Alfa lebih senior, dia ga segan ngajarin aku mengartikan dalil-dalil dikitab yang ringan

Suatu malam, aku belajar bareng Alfa dibilik Al Ardh sampai tengah malam aku udah mulai ngantuk dan aku beranjak ke bilikku, aku terkejut ketika langkahku dikejutkan oleh seseorang yang menepuk pundakku.

“Jal,”panggil seseorang dibalakangku

“eh Fa, bikin kaget aja kamu” ujarku setelah menatap wajah imutnya

“malem ini aku tidur dibilik kamu yah?”pinta Alfa

“boleh, tapi entar aku izin sama ketua bilik Al Azhar dulu”

“Siip” (Y)

Kita berdua melangkah menuju bilikku dan kebetulan mas Saefudin selaku ketua bilik belum tidur

“mas Sef, kiye kancaku arep turu neng kene”
(mas Sef, ini temanku mau tidur disini)

“Sapa?”
(Siapa?)

“Alfa, cah Tasik”
(Alfa, anak Tasik)

“Iya, sok”

Kita masuk ke bilik, kulihat teman-teman yang lain sudah terlelap, aku meletakkan kitab didalam lemari dan menggelar alas tidur lalu aku melangkah keluar bilik

“rep meng endi koe Jal?” kata mas Sef dengan logat Ngapak
(Mau kemana kamu Jal?)

“rep pipis mas, sekalian banyu wudhu”
(mau kencing mas, sekalian ambil air wudhu)

“Oh”

Didalam bilik Al Azhar mas Saefudin mengajak ngobrol Alfa

“Gus, sejak kapan kamu kenal sama Rijal? tanya Saefudin”

“Sssttt.. panggil nama aja jangan panggil Gus”

“Iyadeh iya”

“Aku kenal Rijal udah satu bulan lebih”

“kalian emang berteman atau….”

“atau apa? mairilan?”

“bukan aku lho yang bilang”

“habisnya kata-katanya penuh dengan kecurigaan, kayak ga kenal aku aja kamu Sep”

“hahaha…. jadi Rijal itu calon mairilan kamu?”

“Iya, jangan ember yah mulutnya?”

“Beres, sesama pencari mairil bisa jaga rahasia”

“Pssstt… itu Rijal udah masuk, ganti topik obrolan”

 

Sehabis buang air kecil dan berwudhu, aku kembali ke bilik, kulihat Alfa dan mas Sefudin masih asyik ngobrol, entah ngobrolin apa. Aku langsung rebahan diatas tikar dan siap untuk tidur

“Mas Sef, Fa aku tidur duluan ya?”

“Iya, sok atuh” jawab mas Sef dan Alfa bersamaan

Tidur hanya beralaskan tikar dan mengenakan sarung, cukup membuatku nyenyak meskipun daerah disini berhawa dingin. Entah pukul berapa aku merasakan ada tangan yang memeluk perutku.

“Jal?”

“hmmmrrggh…” sahutku males

“aku sayang sama kamu Jal”

“Deg, ini mimpi atau kenyataan”

Cupz… sebuah kecupan hangat mendarat dipipiku, perasaanku berdesir ketika bibir lembut Alfa menyentuh pipiku

“tidur lagi aja yuk?” bisik Alfa sambil memeluk tubuhku dari belakang

Malam yang dingin berubah menjadi panas karena pelukan dia.

Empat bulan aku dipesantren menjadi mairilnya dia.

 

 

Ramadhan tiba…Ramadhan tiba

Aku main ke kantor pengurus ngobrol sama salah satu senior yang sedang bertugas dan aku minta tolong sama dia.

“Mas Ridho, aku pinjam database santri dong?”

“buat apa Jal?”

“mau cari alamat santri, rencana aku mau silaturahmi liburan lebaran ini”

“oh, bentar yah?…nih”

“makasih mas”

Lembar demi lembar kubuka lalu kuamati baris demi baris nama-nama santri yang tertulis, setelah beberapa menit ku temukan juga nama itu ALFA SIRRIL WAFA, jalan Merdeka nomor 778 Tasikmalaya, Siip, alamat sudah ku dapatkan, liburan nanti aku mau bikin surprise silaturahmi kesana tanpa sepengetahuan Alfa.

H+3 lebaran, siap-siap riding ke Tasik, mumpung masih suasana mudik aku mantap berangkat meskipun tanpa membawa SIM, aku berangkat bersama sepupuku, kita menempuh jalur pantura selatan melewati daerah Ajibarang, Wangon, Majenang, Wanareja, Banjar, Ciamis dan Tasik. Lima jam lebih perjalanan yang kita tempuh.

Setelah bertanya ke warga sekitar akhirnya kita sampai dirumah keluarga Alfa, aku merasa kagum karena rumah Alfa berada dilingkungan pesantren yang besar. Rumah bercat putih tulang adalah rumah keluarganya Alfa, itu kata warga yang aku tanyai dijalan tadi.

“Hmm.. kok banyak mobil terparkir dihalaman depan rumah yah? apalagi banyak sandal dan sepatu berserakan didekat pintu. Lagi ada keluarga ngumpul kayaknya, ah biarlah” suara hatiku mengabarkan keraguan. Aku beranikan diri buat masuk.

“Assalamualaikum”

“Wa’alaikumussalam” seorang wanita mengenakan hijab menjawab salamku

“Alfanya ada bu? saya teman pondoknya”

“Oh, mangga a, kalebet” jawab si ibu menyuruh kami masuk

“muhun”

aku dan sepupuku dipersilahkan masuk ke ruang tengah, lalu aku duduk paling ujung disebelah tamu laki-laki yang langsung mengajakku ngobrol.

“Dari mana mas?”

“Saya dari Tegal-Jawa tengah pak”

“Lho, jauh banget, kesini naik apa?

“ini boncengan sama sepupu saya”

“silaturahmi kesini mau minta ijazah doa?”

“enggak kok pak, saya mau silaturahmi sama temen saya, Alfa”

“eh, kamu temen pondoknya Gus Alfa?”

“Gus?” jawabku heran

Belum hilang keterkejutanku, aku lihat ada sosok ulama kharismatik melangkah dan duduk diseberang kami dan para tamu, sambil mempersilahkan aku dan sepupuku untuk menikmati snack dan teh manis. Aku langsung berdiri meraih tangan dan mencium tangan beliau, diikuti oleh sepupuku.

“Nunggu sebentar yah mas?, Alfanya lagi nganterin kakanya belanja” kata Abah

“Nggih bah”

Masuk waktu sholat dhuhur kita dipersilahkan ke masjid pesantren buat melaksanakan sholat berjamaah. Setelah itu aku dan sepupuku diantar ke kamar transit tamu agar kita bisa istirahat.

“Hel, kamu kalo mau tidur, tidur aja, aku mau jalan-jalan keliling komplek pesantren ini, nanti aku bangunin kalo udah mau pulang” ujarku ke Helmi sepupuku

“Iya mas”

Aku keliling pesantren dipandu salah satu santri abdi dalem Abah, sepanjang komplek kita ngobrol.

“Kang, akang teh kenal jeng Gus Alfa udah lama?” tanya santri itu yang bernama Rahmat

“belum sih, baru enam bulan lebih”

“wah, beruntung akang bisa jadi temennya Gus Alfa”

“hehe..bisa aja”

“Akhir tahun akang kesini lagi kan?”

“Ada apa emang?”

“Lho, masa ga tau? apa Gus Alfa ga cerita?”

“enggak tuh, cerita apa?”

“Gus Alfa udah taaruf sama putrinya sahabat Abah, kyai juga”

“Oh gitu, mungkin nanti dia cerita” jawabku meninggalkan Rahmat

Perasaanku mulai berkecamuk, antara sedih, kecewa, marah, bingung. Sampai ketika ada suara seseorang memanggilku

“Wooi… Jal”

“Alfa..?”

“Sejak kapan kamu disini?”

“udah mau 2 jam, hehe”

“Ada apa nih, kok tiba-tiba kesini? kangen yah?” ucap Alfa tanpa bisa melihat wajahku yang menahan air mata

“Enggak, bentar lagi aja aku pulang”

“Lho, cepet banget, ga nginep?

“Enggak, besok lusa aku udah harus ke pondok, ada kepentingan”

“Semangat banget kamu Jal, mentang-mentang santi baru”

Aku kehilangan semangat buat ngobrol sama Alfa, sampai habis ashar. Aku dan sepupuku berpamitan sama keluarga Alfa. Aku salamin dan cium tangan abahnya, lalu langsung menuju ke motor yang kita parkirin didepan rumah. Menuju pulang

~~~~~

Dipesantren,

Aku menuliskan sebuah puisi di kertas putih, lalu aku masukan ke sela-sela kitab dan aku bungkus kitab tersebut dengan kertas kado. Bingkisan itu aku titipkan ke mas Saefudin.

“Mas Sef, aku nitip ini buat Alfa yah? nanti kalo Alfa udah di pondok”

“kok, enggak kamu kasih langsung aja?”

“enggak mas, gampang. sekalian aku minta maaf sama mas Sef, barangkali selama tujuh bulan aku hidup bersama bikin susah”

“nyantai wae Jal”

Tepat dibulan september, aku kabur dari pondok membawa kitab-kitab dan pakaian seadanya, tanpa berpamitan kepada Kyai Husni, mas Sef dan Alfa.

Puisi ‘Untuk Alfa’

Fa,
Mungkinkah keindahan cinta yang kau berikan
Sesuai dengan apa yang kudambakan?

begitu sadisnya cintamu itu,
apakah aku Haram untuk kau miliki seutuhnya?
apakah kau yakin mencintai dia?

ya, dia,
yang akan kau nikahi dalam waktu dekat
pernikahan yang bukan kehendakmu, tapi kehendak orangtuamu

aku ingin terus mencintaimu
tapi aku sadar
dirimu begitu suci untuk aku raih
dirimu terlalu berharga untuk keluargamu
dirimu terlalu istimewa untuk santri-santri yang menantimu
menjadi pemimpin mereka

Selamat tinggal,
Terima kasih atas kebahagiaan singkat yang kau berikan

I LOVE YOU…  Gus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s