Perempuan Berparas Tampan ; Pesona yang Tak Pudar (Bagian 1)

l1
*Gambar sekedar ilustrasi jangan dianggap serius hehehe 😀

By. Joshua Intan*

Pernahkah kamu merasakan jantungmu berdegup sangat kencang dan bibirmu kaku sekalipun otakmu mengatakan banyak hal??

Pernahkah kamu merasakan bahwa kakimu seperti tak menyentuh tanah, dan sekujur tubuhmu menjadi ringan??

Aku dengar dari banyak orang bahwa beginilah rasanya jika kamu tengah bertemu dengan orang yang kamu cintai.
Hari ini aku merasakan semua hal itu, ditambah keringat dingin yang membasahi tangan dan kehilangan kendali atas gerak tubuhku sendiri. Sungguh ini diluar dari dugaan bahwa aku akan berjumpa lagi dengannya setelah 1 tahun berlalu. Mataku tak bisa berhenti memperhatikan setiap gerak-geriknya. Dan senyum sipu malu tak bisa kusembunyikan lagi saat ini.

Aku hilang fokus seketika, rasanya lukisan dalam pameran ini tak lagi menarik bagiku. Perasaan senang bercampur gugup seperti teraduk-aduk jadi satu, yang aku tahu aku ingin sekali ngobrol dengannya. Ini kesempatan yang tidak boleh kusia-siakan lagi.

Setelah mempertimbangkan beberapa saat, akhirnya aku memberanikan diri menghampirinya walau dengan kaki yang setengah kuseret karena sepertinya mereka kehilangan tulang,

“Hai…” sapaku.
Membalikkan badan dan memandang tanganku yang sudah terulur lantas segera menjabatnya,

“Oh hai… sorry…” suaranya yang berat dan dalam ini entah mengapa sungguh kurindukan.

“Tak apa.” Sepertinya kali ini aku tak bisa menyembunyikan keteganganku, “masih ingat aku?”

Tersenyum, “masih, kamu Nadia kan?! Suka lihat lukisan juga?” aku rasakan matanya menelusuriku dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Saat mendengar dia menyebut namaku, rasanya aku tersenyum terlalu lebar, “waw… masih ingat juga ya hehehe. Mmm nggak begitu suka sih, cuman karena ini karya temanku jadi aku harus suka daripada durhaka hehehe”

“Hahaha bisa aja, wah tapi aku baru tahu lho kalau Kevin Pramana itu temanmu, karena kebetulan dia adikku.”

“Yang bener??? Gokiilll…” aku setengah mangap, entah karena terkejut dengan fakta yang baru saja kudengar atau karena aku terpesona dengan senyuman manisnya yang bertengger di wajah imutnya.

Mengernyitkan dahi, “gokil?!?! Hahaha jadi yang gokil itu ini,” menunjuk lukisan 3 penari Bali yang berada tepat dibelakang punggungnya, “atau kenyataan bahwa aku kakak dari temanmu?”

Aku mengejap-ngejapkan mataku, “Oh…hahaha itu… anu… hahaha” dan tak sanggup menjawab.

“Akh sudahlah, hahaha ayo kita ngobrol di luar. Sepertinya ada warung kopi di depan sana.”

“Ayok!!” segera aku tutup mulutku yang nggak sopan ini dengan kedua tanganku. “Ups, maaf…”

Lalu dia tertawa, dan kami berdua segera meninggalkan tempat pameran menuju ke warung kopi yang dimaksud. Ternyata kami harus berjalan cukup jauh dari lokasi pameran sampai ke tujuan, kaki rasanya mau gempor dan nafas ngap-ngapan lantaran mengejar langkahnya yang begitu cepat. Berkali-kali dia berhenti dan meminta maaf padaku ketika aku tertinggal jauh di belakang, aku yang rasanya sudah tidak sanggup untuk berkata apa-apa namun dalam hati juga jejingkrakan karena senang inipun pura-pura tetap tersenyum sambil menyiratkan kata “tak apa-apa” lewat lambaian tangan.

Disepanjang perjalanan itu, rasanya kenangan 1 tahun lalu ketika kami berjumpa pertama kali pun kembali. Kala itu aku menghadiri sebuah diskusi public mengenai seksualitas dan agama di kampus sebagai peserta,dan pada saat melihatnya yang ketika itu hadir sebagai salah seorang fasilitator tiba-tiba aku tak bisa mengalihkan pandanganku.

Pertama kali melihatnya, aku merasakan ada yang aneh dalam diriku. Aku sangat terpesona dan begitu ingin mengenalnya lebih dekat. Dia masih muda, wajahnya imut, sangat cantik, juga sangat tampan. Postur tubuhnya tinggi, rambut pendeknya pas sekali dengan bentuk wajahnya yang oval, kulitnya putih bersih dan senyumnya terlihat sangat manis. Ketika dia mulai berbicara perasaanku makin tak karuan, dia pandai dan sangat berenergi. Dia tahu membaca audience, sesekali gurauan yang dia lontarkan berhasil menyegarkan suasana yang cukup membosankan karena materi diskusi yang bisa dikatakan berat.

Beberapa kali kami terlibat kontak mata selama diskusi, tapi saat itu aku belum cukup punya keberanian untuk mendekatinya, hanya saja ketika diskusi berakhir aku sempat menghampirinya untuk sekedar memperkenalkan nama.

Setelah itu aku hanya bisa membayangkan kapan lagi aku bisa berjumpa dengannya, sedang informasi tentangnya pun minim sekali. Aku mencari akun social media miliknya, namun tak satupun bisa kutemukan sekalipun telah berkali-kali kucari. Dan aku terlalu takut bertanya kepada temanku yang sebenarnya adalah salah satu panitia penyelenggara diskusi tentang si gadis berparas tampan yang mempesonaku itu.

Kini sudah satu tahun berlalu, sejujurnya aku sudah tidak banyak berharap lagi, namun hari ini aku tidak sengaja berjumpa lagi dengannya. Harapanku untuk berkenalan lebih dekat dengannya seakan datang kembali, ditambah lagi dia masih mengingat namaku. Aku benar-benar tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini,

“Aku kopi aceh mbak, sama pancake banana satu ya. Kamu mau apa Nad?”

“Aku kopi sidikalang mbak.”

“Kamu nggak makan? Apa gitu?”

“Mmm nggak deh, itu aja.”

“Oke… udah mbak, itu dulu.”
Tatapan matanya hangat sekali, duduk berhadapan dengannya dalam jarak sedekat ini membuatku grogi,

“Jadi kak, kok masih ingat namaku?” pertanyaan ini meluncur begitu saja dari bibirku.

Mencondongkan wajahnya sedikit lebih dekat kearahku, lalu berbisik, “Karena namamu pasaran.” Lalu tertawa terbahak-bahak, akupun entah kenapa ikut tertawa begitu saja.

“Bercanda, yaa soalnya kamu berhasil membuatku terkesan dulu.”

Aku menaikkan bahu dan menurunkannya lagi sambil mengernyitkan alis, “kesan?”

“Oh, jadi gini, waktu itu kamu sempat memperkenalkan diri kan saat acara selesai, dan jujur aja nggak banyak yang nglakuin apa yang kamu lakuin.”

“Akh masa?? Bohong deh… pasti kakak sering diajak kenalan cewek.”

“Hahahaha ya ada sih, tapi nggak banyak. Daaaaan… jadi kamu pikir aku hanya bisa menarik perhatian cewek? Menurutmu nggak akan ada cowok yang bisa tertarik buat berkenalan denganku? Aduuuh, kasihan sekali aku…” menepuk jidat sambil merosot dari posisi duduknya.

Sedikit salah tingkah, “Eh bukan gitu kak, tapi… ya, aku pikir karna kakak mmm anu…”

“Lesbi??? Jadi kamu mau bilang bahwa aku sengaja menarik perhatian cewek-cewek karena aku lesbi?? Apa menurutmu lesbi juga nggak bisa menarik perhatian cowok?”

Aku semakin tak enak hati, “eh, bukan gitu kak, bukan…bukan… maaf, maksudnya nggak gitu.”

Kami saling diam beberapa saat, aku rasa telah merusak suasana. Lalu tiba-tiba terdengar ledakan tawa darinya,

“Wahahaha….hahahaha… Nadia…Nadia… kamu lucu banget ya… hahaha wahahaha” melihat wajahku yang bingung lalu dia berhenti tertawa, “Sorry…sorry, aku tadi bercanda. Nggak maksud gitu kok.”

Aku menghembuskan nafas penuh kelegaan, “Kakak bikin takut.”

“Jadi, Nadia takut aku marah?”

Kopi dan pancake pesanan kami datang, aku menunggu beberapa saat sampai pelayan menurunkan pesanan dan meninggalkan kami,

“Ya, aku takut aja merusak suasana dan melewatkan kesempatan ini.”

“Kesempatan??”

“Jadi, sejak pertama ketemu kakak, rasanya aku pengen,” menelan ludah, “pengen berkenalan lebih jauh sama kakak.” Lalu aku menundukkan kepala sambil mencengkeram cangkir kopiku.

Mengangkat cangkir kopi miliknya, meniup-niup lalu meneguknya dan kemudian meletakkannya lagi,

“Nadia, kenapa kamu pengen kenal lebih dekat sama aku?”

Kali ini kami saling diam cukup lama, otakku berpikir keras menyusun kata-kata yang tepat, juga aku mengumpulkan keberanian untuk mengucapkannya. Beberapa kali bibirku hampir terbuka, namun rasanya kata-kata yang siap meluncur itu tertelan kembali.

Setelah beberapa saat, aku menegakkan kepalaku dan kuberanikan diri memandang wajahnya yang malah semakin terlihat menarik. Dia tak banyak berubah, masih seperti setahun yang lalu, hanya saja kini rambutnya terlihat sedikit lebih panjang,

“Kak… jadi, aku… Aku rasa aku tertarik kepadamu, sepertinya aku suka, eh bukan… aku rasa aku jatuh cinta sama kakak.”

Giliran dia sekarang yang terlihat kaget,

“Mmm kak, tapi… tapi nggak apa-apa kok kalau kakak nggak bisa, aku cuman pengen bilang aja kaya gitu sama kakak, jadi jangan marah ya kak.”

Kembali meneguk kopinya dan aku melakukan hal yang sama, lalu dia menghela nafas,
“Nad, bagaimana kalau kita lakukan perkenalan lebih jauh lagi.”

“Maksud kakak?”

“Iya, kita kan belum benar-benar saling kenal, ini juga baru perjumpaan kedua kita setelah satu tahun yang lalu kan, terlalu cepat jika ini dibilang cinta, tapi sejujurnya aku juga tertarik padamu sejak pertama kita bertemu.”

Entah apa tepatnya rasa ini, seperti ada es yang meleleh di atas kepala, namun dalam hati seperti ada bara api yang sangat hangat. Aku hampir menangis karena senang mendengarnya,

“jadii… kita???”

“Belum, kita belum jadian, tapi aku menawarkan padamu bagaimana kalau kita PDKT dulu, biar kita saling kenal.”

Dia begitu tenang dan meyakinkan, aku menatapnya lekat-lekat dan semakin kurasakan jantungku berdegup lebih kencang. Aku menganggukkan kepala tanda sepakat sembari tersenyum padanya. Dia pun tersenyum padaku.

“Terimakasih ya Nad, jadi pertama boleh dong aku minta nomor Hp kamu.” Sambil menyodorkan Hp miliknya kepadaku.

“Boleh kak,” aku menulis nomor Hp ku lalu mengembalikan Hp kepadanya, “Kak, boleh tanya nggak??”

“Tanya aja.” Terlihat antusias.

“Aku udah dari tahun lalu nyari akun Fb kakak, tapi nggak ketemu. Jadi aku kesulitan menghubungi kakak dari dulu.”

“Hahahaha kamu nyari pakai nama apa?”

“Rania Pramana.” jawabku singkat.

“Oh pantas karna aku nggak pakai nama asli. Kamu tahu nggak? Aku juga kesulitan nemuin akun FB mu, jadi akupun nyari cara buat menghubungimu sejak setahun yang lalu.”
Aku bahagia sekali mendengarnya, “hahaha aku pakai nama Joshua kak.”

Dan kami tertawa bersama sembari kembali menikmati kopi yang sudah semakin hangat seperti suasana obrolan kami sore ini.

“Jadi kak, siapa nama akun Fb kakak??”

“Rainbow.”

Entah mengapa senja ini terlihat lebih indah
Dari ribuan kali senja yang pernah kulalui, ini yang termegah
Ada apakah gerangan awan yang tengah riang terarak
Tariannya menciptakan suasana semarak
Ada apakah gerangan langit yang sepertinya tersipu malu
Mungkinkah dia mencoba menuliskan isi hatiku
Senja ini Indah sekali
Senja ini Cantik sekali
Selayaknya senyummu yang tak mau pergi
Hingga lamunanku melambung tinggi
(Pesona)

 

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s