MASIH MENGANGGAP HOMOSEKSUAL SEBAGAI BUDAYA BARAT? KAMU HARUS TAHU 3 FAKTA INI !

Homoseksualitas di Indonesia umumnya masih dianggap tabu untuk dibicarakan baik oleh masyarakat sipil atau pun pemerintah Indonesia. Diskusi publik tentang homoseksualitas pun masih sering dihambat oleh kenyataan bahwa seksualitas dalam bentuk apapun jarang dibicarakan secara terbuka.

Berbicara terkait homoseksual, ternyata masih banyak sekali masyarakat yang menganggap bahwa homoseksualitas adalah fenomena yang diadopsi dari budaya barat. Namun, tahukah kamu kalau ternyata homoseksual di Indonesia itu telah menjadi tradisi di Indonesia sejak dulu.  Berikut adalah fakta-fakta yang menyatakan bahwa tradisi homoseksual memang telah ada di Indonesia sejak dahulu kala.

  1. Warok – Gemblak

Salah satu tradisi hubungan homoseksual yang dapat ditemui di Jawa Timur adalah Warok-Gemblak.  Mungkin masih sedikit sekali yang mengetahui apa itu warok. Ya, warok adalah lelaki yang berperan sebagai pahlawan lokal tradisional Jawa atau “orang kuat” yang biasanya melakukan kesenian tradisional seperti Reog Ponorogo. Dalam suatu tradisi, seorang warok memiliki suatu pantangan yaitu ia dilarang untuk berhubungan seksual dengan dengan perempuan. Meskipun seorang warok menikahi perempuan, namun ia hanya diperbolehkan untuk berhubungan seks dengan laki-laki muda berusia 8 – 15 tahun yang disebut dengan Gemblak.  Seorang gemblak biasanya disimpan oleh warok dalam rumah tangga mereka di bawah perjanjian dan kompensasi kepada keluarga anak tersebut. Jika dilihat, hubungan warok – gemblakan ini mirip dengan tradisi perjantanan di Yunani kuno. Meski yang dilakukan warok dan gemblak adalah tindakan homoseksual, namun sebagian dari mereka tidak pernah mengindentifikasi diri mereka sebagai seorang homoseksual.

Kini praktek Warok-gemblakan tidak disarankan oleh pemuka agama setempat dan ditentang melalui perlawanan moral publik. Karena hal itulah, kini pagelaran Reog Ponorogo jarang sekali menampilkan gemblak, anak laki-laki tampan, sebagai penunggang kuda Jatil, peran mereka digantikan oleh anak perempuan. Meskipun mungkin saat ini praktek warok-gemblakan ini masih ada dan dilakukan secara diam-diam.

  1. Mairil

Apa yang terlintas dipikiran ketika mendengar kata “pesantren” ? Tentu yang muncul dalam pikiran adalah tempat menimba ilmu aqidah dan fikih dimana para siswa atau yang disebut dengan santri sangatlah taat dengan keyakinannya. Namun, siapa yang tahu kalau dibalik itu semua terdapat suatu tradisi yang dianggap menyimpang.

Jika di Ponorogo ada warok dan gemblak, maka di pesantren ada yang disebut dengan mairil. Definisi mairil pun sebenarnya tak jauh beda dengan warok dan gemblak. Mairil merupakan suatu perilaku seksual ‘bawah tanah’ para santri pesantren yang berjenis kelamin sama. Fenomena mairil biasanya dilakukan oleh santri senior, guru muda yang belum menikah, atau pengurus pesantren dengan santri muda yang baru masuk. Biasanya para santri muda ini masih bertampang imut dan baby face, karena umur mereka memang masih sekitar 12-13 tahun. Nah, mereka ini nantinya kemana-mana akan selalu bersama, bergandengan tangan, mencucikan baju, bahkan sampai memasakkan makanan satu sama lain. Biasanya santri senior akan berperan sebagai ‘suami’ yang menjaga, membimbing, dan kadang memberikan uang saku pada santri junior, yang lebih berperan sebagai sosok ‘istri’ penurut.

Tak jauh beda dengan hubungan warok dan gemblak, Hubungan mairil ini pun memiliki aktivitas seksual yang biasanya disebut dengan ‘nyempet’. Aktivitas ini dilakukan antara lain dengan saling menyentuh, mejepit, atau menggesekkan organ intim para santri hingga tercapainya orgasme.

Ada tiga jenis relasi seksual mairil ini. Yang pertama adalah relasi seksual mairil dengan ikatan, kedua adalah relasi seksual tanpa ikatan, dan ketiga relasi seksual hanya untuk kesenangan (mungkin seperti ‘friend with benefits’ kali yah?).

Perilaku Mairil dikalangan pondok pesantren memang ada di setiap pesantren, hal ini selalu ditutupi oleh orang yang bersangkutan karena mereka menjaga privasi dan merasa ketakutan bila sampai ketahuan oleh ketua pesantren.

Rasa takut itu selalu mereka pendam karena dalam lingkungan pondok pesantren sendiri masih homophobic, apalagi kalau sampai ketahuan, jelas-jelas akan dipermalukan oleh santri-santri lain, bahkan dikeluarkan oleh ketua pesantrennya.

  1. Tradisi Inseminasi Anak Laki-Laki Papua

Dalam tradisi masyarakat papuan, ritual ‘homoseksualitas’ adalah sebagai ritual peralihan kedewasaan dari anak laki-laki menjadi pria dewasa. Menurut kepercayaan mereka, anak laki-laki dianggap telah tercemar dengan unsur perempuan, melalui cairan perempuan seperti menyusui, dan kontak dengan ibunya dan anggota keluarga perempuan lainnya. Untuk menghindari kontaminasi unsur perempuan lebih lanjut, setelah usia tertentu, anak laki-laki diambil dari ibu mereka dan tinggal terpisah di rumah komunal dengan anak-anak laki-laki lain dan laki-laki muda yang belum menikah. Rumah ini disebut dengan rumah bujangan. Anak laki-laki yang dipisahkan dari keluarganya ini hidup bersama dengan laki-laki muda lainnya dalam rumah bujangan. Hal ini bertujuan untuk membina solidaritas dan ikatan antar kaum laki-laki dalam suku, juga untuk mempersiapkan anak-anak muda agar menjadi seorang prajurit yang berani dan hebat.

Untuk dapat tumbuh berkembang sebagai seorang pria yang jantan, sehingga kelak dapat menjadi seorang prajurit yang berani, seorang anak laki-laki harus menyerap cairan laki-laki, yaitu semen, yang dianggap sebagai inti sari laki-laki. Cara menerima cairan laki-laki ini dapat dilakukan dengan menelan sperma melalui fellatio (oral seks) atau sebagai pihak yang dipenetrasi dalam hubungan seks anal homoseksual. Laki-laki yang berperan sebagai inseminator yang menyumbangkan spermanya adalah anggota suku yang lebih tua, biasanya paman mereka, atau jika sang anak telah dijodohkan dengan seorang anak perempuan, maka calon mertua laki-laki atau calon kakak ipar anak itu dianggap sebagai inseminator yang tepat. Ritual dan aktivitas ini berlanjut sejak masa akhir kanak-kanak dan selama masa remaja dalam rumah bujang. Ritual ini berhenti ketika anak laki-laki itu dianggap telah menyerap cukup unsur laki-laki, yaitu anak itu mencapai usia dewasa, ketika kumis atau jenggotnya mulai tumbuh dan akan segera menikah.

 

Penulis : Dew Socialista

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s